Cerpen Agakhot
Kumpulan Cerpen Agakhot yang diurutkan mulai dari Cerpen Agakhot yang paling baru hingga Cerpen Agakhot yang terlama. Pilih juga Cerpen Agakhot di halaman selanjutnya, silahkan beri komentar pada Cerpen Agakhot yang anda baca1: Cerpen Agakhot-romeo + romeo
hampir jam 3 pagi dan aku sudah terbangun. brengsek!! dan lagi, siapa dia di sisi lain tempat tidurku ini? aku masih belum bisa mencintai, sampai saat ini aku cuma mau menyayangi. lagipula, dia past
2: Cerpen Agakhot-pejuang hidup?
Kau tau ?. Kemarin itu aku berjuang sendiri menembus barikade kawat berduri api yang di pasang. Entah...oleh siapa di depan toilet umum. Padahal dalam jarak seribu meter dari tempat ini itu nggak ada
3: Cerpen Agakhot-\ nn55
fdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbhfdzs njgyfnmbh
4: Cerpen Agakhot-Halusinasi
Hujan deras terus mengguyur di malam hari itu.Widi masih menutup mukanya.Terisak..Kerinduannya kepada Rahat demikian menggumpal.Penyesalan.Setahun yang lalu ia telah memutus hubungannya dengan Rahat,k
5: Cerpen Agakhot-VAGINA, PENIS, dll
Si Mbah Cerita Pendek : Mustaqiem Eska Ruang tamu rumah si Mbah itu berukuran tiga kali lima
6: Cerpen Agakhot-GERIMIS
“Katakan di pucuk pohon mana kau menginginkan kita bercinta?” tanyaku menggodanya.
Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.Dia masih saja diam.
Sementara di luar, gerimis mulai turun. Sesekali tempias airnya masuk melewati lubang jendela kamarku yang tak tertutup rapat.
Kulirik jam dinding, sudah pukul 17.13 WIB. Beberapa jam sudah berlalu sejak ia datang dalam diam. Aku sudah mulai kelelahan merayunya berbicara. Aku pun sudah hampir kehilangan kalimat-kalimatku sendiri. Aku mulai…
tiba-tiba saja dia berbicara “Aku hamil…tidak denganmu. tapi orang lain”
di luar masih saja gerimis.. (sambungannya di sini)
Mendengar kalimat itu, sebentar matanya menantang mataku. tapi, hanya sebentar. Kami memang tak pernah benar-benar berani bercinta. setumpuk firman dalam kitab suci masih cukup untuk menakut-nakuti kami berdua bila melakukannya. Sederet nilai seolah menjadi jangkar yang memberati pikiran untuk meyakini bahwa hal kayak gitu mah biasa.. Bercinta di atas pohon tertinggi adalah imajinasi terliar yang pernah kami obrolkan. Hahaha, sungguh diskusi dua orang penakut.Dia masih saja diam.
Sementara di luar, gerimis mulai turun. Sesekali tempias airnya masuk melewati lubang jendela kamarku yang tak tertutup rapat.
Kulirik jam dinding, sudah pukul 17.13 WIB. Beberapa jam sudah berlalu sejak ia datang dalam diam. Aku sudah mulai kelelahan merayunya berbicara. Aku pun sudah hampir kehilangan kalimat-kalimatku sendiri. Aku mulai…
tiba-tiba saja dia berbicara “Aku hamil…tidak denganmu. tapi orang lain”
di luar masih saja gerimis.. (sambungannya di sini)
Page 1 of 1
[1]





