Cerpen Dewasa
Kumpulan Cerpen Dewasa yang diurutkan mulai dari Cerpen Dewasa yang paling baru hingga Cerpen Dewasa yang terlama. Pilih juga Cerpen Dewasa di halaman selanjutnya, silahkan beri komentar pada Cerpen Dewasa yang anda baca67: Cerpen Dewasa-Musang Berjanggut Lagi
Perkabungan 1001 purnama mengenang tragedi pembantaian musang berjanggut tunailah sudah di ujung senja hari ini. Konon menurut kisah turun-temurun setelah 1001 purnama berlalu, kutuk serapah musang berjanggut akan tawar hilang sakti. Padahal menjelang nyawa meregang musang berjanggut telah menabur kutuk bahwa pada awal senja masa purnama ke 1001 musang-musang akan ketiban anugerah janggut. Semua bangsa musang akan berjaya dengan janggut-janggut.
68: Cerpen Dewasa-Keranda Raya
Sudah 7 purnama Keranda Raya itu menganga di pelataran serambi istana. Sore hari nanti Keranda Raya akan ditutup, setelah sesak disumpal berjejal-jejal sampah daki dunia seluruh penghuni negeri itu. Sungguh buruk dan busuk isi itu keranda, ketika kucoba urug dan aduk-aduk adanya. Berlapik-lapik zinah, amarah, iri, dengki, sumpah serapah dan dendam kesumat; bertindih-tindih angkara murka, nafsu kuasa menguasa, dusta, curiga dan praduga syak wasangka; berhimpit-himpir hasrat dan ambisi korup, curi-curi dan tipu-tipu. Semua sesak memadat di ruang pengap Keranda Raya.
69: Cerpen Dewasa-Mati Hati
Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati! Di tengah hiruk pikuk kampung yang bergerak cepat sekali, kami orang-orang kampung meringkuk-ringkuk di kesunyian yang sunyi sekali. Hati kami terasa sakit sekali. Mungkin sekejap lagi kami akan senasib dengan penguasa kampung kami, bermati hati tanpa kami sangka-sangka, luput dari segala duga!
70: Cerpen Dewasa-Taman Rindu Tak Sampai
Dalam rintik hujan berangin pagi itu, Said yang lelah, lusuh dan tua terperangah di sudut utara taman itu. Jengah, pangling, miris, haru, pilu, ngilu, kecewa, rasa-rasa tak mungkin, rasa-rasa tak percaya bergolak-golak dalam dada, lalu melesat dan mendesing-desing di batok kepala Said. Taman itu, taman segala rindu, taman pelipur lara, taman sejarah dengan sejumlah situs kenangan Said muda belia, kini tak dijumpainya lagi. 15 menit Said tegak terpaku. 1 menit kemudian tubuh renta Said terguncang. Said menangis. Said terjerembab layu di bawah guyur hujan pagi itu yang perlahan-lahan melebat. Remuklah segala rindu Said akan tamannya.
71: Cerpen Dewasa-Tuan Pembual
Kamilah rakyat yang tersekat, terjerat, melarat, selalu dalam sekarat, dan selalu saja terbuai-buai dalam decak indah manis bual-bualmu, wahai Tuan-Tuan Pembual. Ketika bermula musim semai menyemai bual, amatlah lantang kobar-kobar bualmu, wahai Tuan-Tuan. Sungguh sangar dan angker bualmu itu. Terpukaulah kami. Berdeguplah dada kami, menggelegak berbuncah-buncah harap akan cerahnya hari esok. Begitu cocok dan selalu cocok bualmu mematuk dan menyosor-nyosor lingkar melingkar selingkar derita kami, menjelang sore itu di tanah lapang ujung kampung kami.
72: Cerpen Dewasa-COT LAMKUWEUH
Kubuka kembali catatan duka itu setelah kupendam 2,5 tahun lebih sedikit. Ada yang kutoreh pada lembar 27 Desember 2004 menjelang siang itu, ketika kuarungi lautan puing kehancuran sebuah peradaban, m
Page 12 of 26
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26]






