CERPEN : Copet
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Odi Shalahuddin
Total cerpen di baca: 418
Total kata dlm cerpen: 1375
Tanggal cerpen diinput: Thu, 4 Feb 2010 Jam cerpen diinput: 10:07 PM
0 Komentar cerpen
<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
Sudah beberapa jam aku berada di pasar ini. Berputar-putar memasuki lorong-lorong sempit yang sesak manusia, jalan-jalan becek, toko-toko atau berdiri pada satu tempat mengawasi orang lalu-lalang.
Dan kini aku berdiri di ujung sebuah lorong. Bersandar pada sebuah tiang yang telah rapuh. Bau tumpukan sampah dari sayuran busuk sangat menyeruak hidup dan menganggu pernafasan. Namun aku tetap bertahan untuk tidak berpindah tempat. Dari hasil pengamatan, inilah tempat yang paling memungkinkan untuk menjalankan sebuah rencana yang bertahta di kepalaku. Tempat yang sangat strategis dengan resiko kegagalan yang kecil untuk mendapatkan mangsa namun penuh resiko bila mangsa bereaksi cepat. Tetapi resiko adalah sesuatu yang tidak asing dalam kamus kehidupan.
Semua gerak langkah manusia selalu mengandung resiko, mengandung dua unsur.Dan hidup akan sangat bergairah bila kita berani untuk menanggung resiko apapun dari hasil keputusan. Keputusan telah kutetapkan, maka hati harus mantap dan penuh keyakinan. Meskipun aku sadar, keputusanku adalah sesuatu yang memalukan.
Mataku liar mengawasi dengan seksama. Beberapa kali aku mengintai, membuat perhitungan-perhitungan sebagai pertimbangan untuk siap bergerak. Beberapa calon yang kurasa layak menjadi mangsa telah lewat begitu saja karena situasi yang belum mengijinkan. Atau karena perhitunganku yang terlalu dalam? Ah.
Kali ini mataku mengikuti seorang ibu bertubuh gemuk yang kedua tangannya sibuk membawa belanjaan. Jalannya sangat lambat, tampak lucu. Aku berharap ia akan memasuki lorong itu. Desakan manusia menjadi celah untuk mendapatkan kesempatan. Dan darahku berdesir ketika dugaanku tepat. Ibu gemuk itu memasuki lorong. Aku cepat bergegas, membuang puntung rokok yang terkapit di jari.
Ibu gemuk itu ada sekitar dua meter di depanku. Di belakangnya seorang berambut gondrong, lalu bapak-bapak, seorang gadis, ibu tua, dan beberapa orang lagi.
Lorong itu sangat sempit tetapi panjang. Sesungguhnya lorong itu bisa dimasuki empat orang bila berjalan sejajar. Tapi kios-kios di sepanjang lorong itu telah menggunakan bagian jalan sehingga hanya cukup untuk dua orang dengan sisa sedikit celah.
Aku berusaha keras untuk melewati orang-orang di depanku. Satu-dua berhasil dengan cepat. Tetapi seringkali harus menunggu saat yang tepat. Ketika orang di depanku berhenti di sebuah kios, maka badannya menghadap ke kios, berarti ada celah yang bisa dimasuki. Perlahan tetapi pasti. Namun nasib sial juga terjadi. Ketika bergerak cepat, tubuhku terhuyung dan tanganku menyenggol barang dagangan. Pemilik kios memaki-maki.
"Dasar goblok! Sudah tahu jalan sempit!"
"Maaf, Pak," kataku sambil memunguti barang dagangan yang terjatuh. Otomatis orang-orang di belakangku jalannya terhambat. Mereka menggerutu. Aku tak menghiraukannya. Di pikiranku hanya si Ibu gemuk.
Tinggal dua orang lagi yang ada di depanku bila aku ingin berjalan tepat di belakang Ibu gemuk. Seorang pemuda berambut gondrong dan seorang bapak.
Ujung lorong tinggal beberapa meter lagi. Aku harus cepat. Kira-kira satu meter sebelum ujung aku sudah harus menjalankan rencanaku. Gesit sedikit sudah sampai jalan raya, dan terbuka beragam jalan untuk meloloskan diri. Aku bernafas lega ketika bisa melewati bapak itu. Tinggal pemuda gondrong.
Pikiranku mengembara, menghitung-hitung. Ah, sebaiknya aku tetap di belakang si gondrong. Dia bisa dimanfaatkan. Kegondrongannya adalah perwujudan dunia kasar, begitu sebagian besar pikiran orang-orang. Harus ada kesempatan untuk membuat si gondrong terjatuh dan menabrak si Ibu gemuk itu untuk selanjutnya kumanfaatkan tanganku meraih sasaran. Nafsuku semakin besar manakala kulihat dompet kulit ibu gemuk tersembul sedikit. Ah, ayo cepat berikan aku kesempatan.
Entah siapa yang menggerakkan. Dari arah depan seorang kuli tiba-tiba masuk. Ia dengan seenaknya menyerobot orang-orang di depannya. Barang yang diangkutnya sangat besar sehingga banyak orang mengalah meskipun dengan rasa kesal. Makianpun meluncur dengan deras.
Beberapa langkah lagi ia hampir dekat dengan Ibu gemuk. Ujung lorong semakin dekat. Ketika ia berpapasan dengan Ibu gemuk. si Ibu gemuk harus memiringkan tubuhnya karena jalan tidak cukup. Dengan bawaan di kedua tangan, ia tampak kerepotan.
Otakku berjalan. Dengan teramat rapih seolah-olah tak disengaja aku ayunkan kakiku menjegal si rambut gondrong hingga keseimbangan tubuhnya tak sempurna. Ia terhuyung dan hampir jatuh. Tubuhnya membentur tubuh Ibu gemuk itu. Si Ibu gemuk berteriak-teriak marah. Begitu pula si kuli menunjukkan kekuasaannya dengan makian kasar. Kesempatan itu kupergunakan sebaik-baiknya. Perhatian mereka pada keributan, tanganku pada dompet kulit. Dan sempurnalah sudah rencanaku. Keributan belum berakhir, aku tidak perduli.
Si Kuli sudah melewatiku. Aku cepat melewati si gondrong dan Ibu gemuk yang beradu mulut.
Aku bersorak. Aku telah mencapai ujung lorong. Matahari di atas bersinar kuat. Kendaraan-kendaraan lalu-lalang tak habis-habisnya mengepulkan asap mengotori udara. Samar-samar kudengar teriakan seorang perempuan, "Copet! Copeeet!"
Dadaku bergetar, aku segera menyebrang jalan. Di sana aku leluasa memperhatikan lorong yang baru kulalui. Orang-orang berteriak-teriak, seorang pemuda gondrong menjadi permainan perlakuan kasar masa. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Sampai jatuh tersungkur di depan lorong. Tak berdaya. Tapi pukulan dan tendangan berpuluh-puluh orang masih saja tak berhenti. Mereka lampiaskan kekesalan dengan kekerasan. Aku cepat bergegas.
Kalau kukatakan bahwa ini adalah hal yang pertama kali kulakukan, percayakah kau? Sungguh, ini adalah pengalaman pertama. Rencana berhasil dengan sangat gemilang. Asal kau tahu saja, keputusan ini berkat kemenangan satu pihak pada pertarungan diri. Hasilnya? Sekitar Rp 43.000 ditambah beberapa uang ratusan.
Ah, setidaknya ini dapat membayar hutang di warung makan Mbak Inah yang setiap hari terus mendesak sampai membuat tagihan dengan tulisan besar yang ditempel di dalam warungnya sebagai salah satu cara menekan para penghutang yang lama tidak membayar. Aku mencoba memprotes, Mbak Inah dengan tenangnya mengatakan bahwa tulisan itu akan dicopot kalau hutang sudah terbayar. Setidaknya separonya. Ya, sudah sekitar tiga puluhan ribu hutangku di sana. Ini lantaran bulan yang lalu wesel dari orang tua tidak kuterima. Memasuki bulan baru juga tiada kunjung
datang. Itulah yang kubingungkan beberapa hari ini. Membuatku menggelepar. Perut harus terus diisi, sedang diri sudah masuk
blacklist. Untuk menumpang teman terus-menerus tidak enak pula. Bisa-bisa malah mendapat cap benalu. Hutang di warung lain? Sulit, belum punya hubungan. Ah, begitulah. Itulah yang mendorong untuk melakukan perbuatan yang baru saja aku lakukan.
Aku memasuki sebuah warung. Memesan es teh, menyambar pisang goreng. Setelah pisang goreng habis, aku memesan sepiring nasi. Makanku lahap sekali. Usai makan, kunyalakan sebatang rokok kretek, lalu asyik mempermainkan asapnya.
Pandangan mataku keluar warung. Kulihat Ibu gemuk berjalan tertatih-tatih dengan membawa dua belanjaan di tangannya. Hatiku berdesir. Ibu gemuk tadi! Tiba-tiba saja aku begitu gelisah. Terbayang kembali pemuda rambut gondrong yang menjadi kambing hitam terkapar dengan darah mengucur, kubayangkan bila si Ibu gemuk itu adalah seorang penjual nasi yang bersusah payah menempuh hidup untuk menambah penghasilan keluarga. Ah, kalau suaminya sudah tidak ada dan ia seorang janda? Ah, kalau anak banyak. Delapan misalnya. Lalu,aku? Tiba-tiba pertarungan hebat terjadi lagi di dalam diriku. Aku tidak mampu menguasai diri. Hanya jadi pendengar dan penonton.
Aku berdiri. Membayar dengan uang hasil jarahan. Lalu berdiri di pinggir jalan. Mataku menanti Ibu gemuk mendekat. Aku harus mengembalikan. Aku akan jujur bila isi dompet-nya telah berkurang seribu lima ratus lima puluh rupiah untuk isi perut. Dan kuharapkan ia mau menerima maafku.
Semakin dekat dan semakin dekat. Aku mantapkan hati. Sesampai di depanku, kupanggil ia. Tubuhnya telah penuh keringat, wajahnya tampak lelah dan matanya tampak sayu. Ia tampak heran. Kukeluarkan dompet Ibu gemuk itu dari saku celanaku. Wajahnya berubah.
"Maaf, Bu, saya pencopetnya, saya...."
Tidak sempat kuselesaikan kalimatku, Ibu gemuk itu telah menjerit lantang, "Copeeeet.......!" sambil menjatuhkan kedua barang bawaannya.
Kulihat orang-orang berhamburan dari berbagai penjuru bagaikan api yang siap membakar. Pikiran normalku adalah tidak ingin menjadi debu. Aku berlari menyelamatkan diri.
Api berkobar, membakar wajahku, membakar punggungku, membakar perutku, membakar kakiku, dan aku tetap berlari.
1995
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :
TAG-CERPEN.NET
gerimis hamil Kedua pada pensil cerpen islami CERPEN ROMANTIS nembak agus motivasi sumber sumber motivasi anak-anak seno gumira Poligami PutuWijaya Cinta Atas PerahuCadik Dilarang JatuhCinta Bidadari Mengambil Mata Saya Surat dalam Hujan lucu KKN LURAH humaor obama becak tukang taman cinta remaja abg CINTA ibrahim perempuan rohyati sofyan cerpen cinta cerpen dewasa sepak bola SELAMAT TINGGAL DAN SELAMAT DATANG CITA-CITA DINDA kamera lomo lomografi wanita cinta semarga nasir mujahid GERIMIS LANJUTAN barzakh ngobrolkosong Dunia tragedi Pencuri Motivasi Aborsi cerpen romantis SalahJatuhCinta Bersama Bintang Mencuri tobat karma islam OJEK TAK ADA KABUT CINTA Islami setan gerhana cikal tangsel cerpen.mimpi kerinduan kesucianku jatuh cinta wartawan idealis guru idealis SINABUNG hm... Maulana Akbar alias Abel Purple-niz Lenny Yulia pembunuhan orcan brother sahabat Cerpen komedi apes bunda pengorbanan It's a great one... fairy 123456 444 Rey Menunggu pelangi Tito balap Tami mama ayah motor Hugo rumah sakit love blind tens hurt memoriam --> mas ohed stres... download novel pemuja rahasia secreet admirer kuliah romantis puisi bunga muslimah cina jilbab airmata CERITA KEHIDUPAN (Cerpen ini kupersembahkan untuk seorang teman yang sedang bergulat melawan perihnya kehidupan bersama anak-anaknya setelah perceraian dengan suaminya). Maju terus!Tetap semangat! adesuryatii@blogspot.com http://karimahcentre.blogspot.com/ - Rahasia Cerita Hari Ini Penuh Makna suatu hari hidupku dawn felicity gwynedd east bay cerpen remaja cerpen cinta cerpen dewasa cintaku di bumi madinah cerpen abah abah cerpen cerpen bilik mayat cerpen cerpen islami cerpen remaja cermen gaul cerita remaja dan cinta cerita kehidupan Renungan mengharukan semangat ungu dreaming vs action stop dreaming start action firmansyaharia1982 catatan larung misteri... Ungu POEM ibu lily alya Arina Jangan Pergi ! www.facebook/saifulbahri@rome.com qqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqq Dhea Tamara Short Story hati hari-hari bahagia hikmah aku cinta dan kepedihan mohpn dikomentari.. Thx.. cinta terpendam Suka Sayang Cinta kasih Diculik? Mau dong! Langit Gelap dan Cahaya (4) Gelap dan Cahaya (1) Gelap dan Cahaya (2) Gelap dan Cahaya (3) Gelap dan Cahaya (5) Gelap dan Cahaya (6) Gelap dan Cahaya (7) Gelap dan Cahaya (8) Gelap dan Cahaya (9) End Gelap dan Cahaya (10) Extra Labirin Hidup Jasmine langit Kabut dan Kamu www.mediasastra.com www.mediasastraindonesia.net lover you pelajar dukun comment please! cerpen anak cerpen islam cerita misteri cerita detektif cerpen lucu cerpen humor cerpen anak muslim mayat cerpen humor love junkies saatnya hatiku pulang tertinggal hutan petualangan Aku Langit Asu Johanes Koen Prosa Romantis. Cerpen Cinta Cerpen Motivasi cerpen sains cerpen horor cerpen sadending cergam Janji Malu Tapi Mau Radioppidunia Remaja Giselle 1 hati 3 cinta part 1 1 hati 3 cinta part 2 semua awal asti ada akhirnya. sebelum semua berakhir jangan pernah menyianyiakan setiap kesempatan yang kita miliki. Story kelas Malaikat Putih sakit jiwa patah hati Love the hard way ceepen cerpenafil.blogspot.com alter ego kepribadian ganda polisi psycho pembunuh Teman-teman baca cerpen Misfah Romansa di Tebing Pelangi baik Luka cerpenku kesalahan bertingkat permainan palsu Baca cerpen terbaruku : Bandara Cinta Noella by Misfah Khairina love you... jurnal jati diri cinta sejati gadis bisu Caleg Gagal misteri jerambah beringen lubay thriller samantha Ali Reza sayembara Baca cerpen Misfah yg baru ya : School of Horror Remaja. cerita romantis ali reza hujan aku penyegel fantasi genocode Cerpen Islami Perenungan Qada dan Qadar online cerita yang cukup menginspirasi cerita cewek manis gw ga mawu jadi jomblo teru tsunami banda aceh yogyakarta Cerpen Ali Rofi miftahul amin bernafas untuk Liana pesta perkawinan Venia cerita anak Wandi giande Cinta Pertama Tak cukup hanya cinta Melepasmu Gadis kecil dalam bus cerpen ku Derita Cinta Mamaku - idiot - down syndrome malta ikanova fino kisah penyendiri cinta penyendiri keputusan hati PENYESALAN Cerpenku Masa remajaku hilang alex lagu musik percy guru cinta remaja cinta romantis eiji kirei dongeng ?? Salah paham Pernikahanku Hampa cerita cinta Dia dan musik (last) dia dan musik (8) dia dan musik (7) dia dan musik (6) dia dan musik (5) dia dan musik (4) dia dan musik (1 2 3) cerita remaja diet Pesan untuk untuk cintaku Bahagia Arbi Tak Ada Cinta di Pantai cermin Bidadari Negeri Bunian korupsi bla bla bla HEYREN sebuah harapan jiwa soul Shandy anak cerpennet surat 1000 free gratis soFY Merry cerita menyedihkan dan mengasikkan 1 kuhapus airmataku dengan kartu undangan ditanganku.hatiku bertanya akankah kurasakan lagi ini setelah aku menikah? SMP ulang tahun perpustakaan kutu buku dikucilkan Suara Hati Kenyataan Pahit Yang Harus DiHadapi exited Siswa Baru Itu... Kebahagiaan Yang Sirna di Taman Sorga igau desember cerpen desember 6 DASAR HEP- (OVI) HELP ME (OVI) PARADISE (OVI) KEMATIAN amry sahabat pelit cerpen cinta chicha hilang ingatan just title Lanjutan part 1 .. Part 1 .. sahabat pelit (part 2) Tawuran menunggu sastra ekonomi januari Aku hidup untuk kedua kalinya Cinta Perlu Dikatakan cinta takan pergi pertemanan Light novel moe sci-fi drama detektif Solitude bus kota cerpen kehidupan hantu inspirasi jurang karyawan kebakaran kecelakaan keluarga kecil PHK sopir cerpen bersambung cinta jarak jauh kisah asmara konflik perpisahan Arthur Samuel odi shalahuddin Terry odi Shalahuddin Odi Shalahuddin gw Karma sekar ayu Film dokumenter film dokumenter smpn 10 jakarta vampire the maine lucia rion Laki-Laki Jatuh Cinta story perang mimpi pancoran When you love someone family father Cerita bersambung EeEmMhHhh..... ....................????????? lima november cerita cinta remaja langkah begitu menyakitkan cerpen motivasi cerita serem banget + lucu Dhea Tamara's Short Story POLAROID gila shevanna andi naya Senyum Terakhir Kak Didot Pertanyaan di Benak Lyra hantu dalam sumur yanah Semangat Sosial MIRZA foto seksi Sahabat Selamanya princes Rasa itu tiba-tiba saja hadir menghampiri hatiku “aduuuuuuuuuuuuuh ayah kaki oit kaki oit terjepit” ayah yang mendengar suara itu langung melihat kebelakang ternyata Oit anakku “kamu punya saudara yang namanya Yuli” “punya teeh kenapa?” “kamu disuruh baca yasin buat kakakmu Yuli sms dari keluargamu” aku terdiam didalam benakku ada apa gerangan ULTAH DI RUMAH HANTUTentang Penulis Cerpen
LIHAT CERPEN Odi Shalahuddin YANG LAIN
Rating: Not yet rated
Comments 
No comments posted.
Add Comment
Untuk memperindah dan mempercantik blog/web kamu maka silahkan pasang kode di bawah, untuk menampilkan gambar animasi keci ini dan mempermudah oranglain untuk memasukkan cerpen mu yang ditulis di blog/webmu ke Cerpen.net
Copy This code below, Paste in to your web/blog





