<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0">
<channel>
<title>Latest Cerpen Motivasi Articles</title>
<link>http://cerpen.net/</link>
<description>Articles at Cerpen.Net : situs cerpen online</description>
<language>en-us</language>
<item>
<title>New Hanya Ingin Berbagi</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/new-hanya-ingin-berbagi.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/new-hanya-ingin-berbagi.html</guid>
<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 12:29:56 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[  <br />Hanya ingin berbagi<br />&nbsp;<br />Malam ini aku seolah2 sedang berada di ruangan 3x4 meter di salah satu ruang rumah sakit. Aku menemui seorang dokter ahli kejiwaan atau lebih tepatnya &rdquo;psikiater&rdquo; untuk berkonsultasi. Layaknya seorang pasien yang akan memeriksakan kesehatannya, aku duduk tepat di hadapan beliau.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Apa keluhan mu wan..&rdquo;. sang dokter langsung ke inti masalah. Sepertinya dia tak ingin berbasa-basi. Aku sempat binggung.., secara garis besar aku tak punya masalah psikis.., lalu kenapa aku berada di sini..?. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Sebenarnya bukan keluhan Dok., aku hanya ingin bercerita tentang mimpi ku yang slalu mengahantui dalam beberapa hari ini.., boleh kah..?. aku sedikit ragu. Dokter itu sedikit tersenyum kecil.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Hmm.., Silakan wan.., aku ini teman mu.., kau boleh cerita apa saja kepadaku.., Kau percaya aku kan..?&rdquo;. dokter itu menyentuh pundakku untuk meyakinkan aku kembali. Aku mengangguk..,<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Ya dok.., aku percaya kau.., makanya aku ingin bercerita kepadamu..&rdquo;. sang dokter tersenyum. Lalu aku mulai bercerita tentang mimpi ku kepada sang dokter yang aku percaya dapat memberikan solusi terbaik kepadaku. <br />&nbsp;<br />***<br />Sudah beberapa hari ini aku terus bermimpi tentang suatu ruangan berukuran 1,5x2 meter.., Ya.., aku merasa menjadi pemilik tempat itu. Di dalamnya terdapat satu buah etalase kecil berukuran 1,5meter., sebuah meja kecil yang diatasnya komputer kesayanganku plus satu buah printer., fram2 mungil nan cantik berisi &rdquo;Miniatur Drum&rdquo; kreasi ku.., dan beberapa pelanggan yang sedang melihat2 atau pun mengorder barang hasil kerajinan ku. Senyumku &rdquo;Sumringah&rdquo;.., rasanya puas sekali hati ku. Inilah keinginan ku selama ini. <br />&nbsp;<br />Namun tiba2.., datang dua orang Pol. PP menghantam emosi ku. Salah satunya menanyakan &rdquo;Mana Surat Izin Usaha mu..?&rdquo;. aku syock.!! Aku tak punya surat izin itu. &rdquo;apa yang harus aku lakukan..?&rdquo;. aku emosi.., dan mencaci maki mereka berdua. &rdquo;Aku ini orang susah..!! modal ku juga tak seberapa..! jadi aku tak punya surat itu Boss..!!&rdquo;. dengan nada yang lantang. Semua pelanggan ku kabur di buatnya.<br />&nbsp;<br />Salah satu Pol. PP langsung menendang etalase menghancurkan semua isi di dalamnya. Kaca2 berterbangan tak tentu arah. &rdquo;Toko mu kami tutup..!! karna tak memiliki izin..!!&rdquo;. kata Pol PP itu. Melihat tingkah laku mereka aku bertambah marah. Ku ambil salah satu tongkat yang sering aku gunakan untuk menopang tubuh ku ketika berjalan dan ku hantam kan di kedua kepala mereka. &rdquo;Mampus kau anjing...!!&rdquo;. mataku merah menyala. Darah segar memuncrat seperti sperma dari batang penis. Menempel ke dinding ada juga yang jatuh ke tanah. Lalu aku terbangun dari alam itu dengan kringat membasahi baju sampai ke celana dalam ku. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Hmmm..., menarik sekali mimpi mu itu wan..&rdquo;. kata sang dokter sambil tersenyum. Lalu sang dokter mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Beliau memintaku untuk menggambarkan apa saja yang ada di otak ku saat ini. <br />Aku sempat berfikir dan pelan2 menggambarkan sebuah sketsa. Ya.., sketsa Kios mini ku yang ada di dalam mimpi itu. Dan dokter pun kembali tertawa kecil.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Hehehe., seberapa besar keinginanmu untuk membuka kios itu wan..?&rdquo;. pertanyaan itu sedikit mengusik naluri ku. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Besar sekali dok.., tapi apa hendak di kata.. Ibu ku tak memiliki banyak modal lagi untuk mendukung usahaku itu...&rdquo;. aku lemas ketika harus membicarkan tentang ibu ku. &rdquo;Apakah penyakit ku ini berbahaya dok..?&rdquo;. aku kembali bertanya.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Tentu saja tidak wan., kau hanya butuh dorongan saja. Ini bukan masalah penyakit.., tapi masalah keinginan&rdquo;. &rdquo;100 % kamu sehat wan.., keinginan itu yang membuat kamu tetap hidup.., terus lah seperti itu sampai tubuh mu tak bisa lagi mengejarnya. Tak perlu tergesah2.., pelan2 saja..., suatu saat nanti keinginan mu itu akan terwujud jika kau tetap fokus akan apa yang kau kejar..&rdquo;. nasehat sang dokter membuat smangat ku muncul kembali. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Sekarang berbaringlah di tempat tidur itu.., buatlah dirimu senyaman mungkin. Jika kau ingin tidur.., tidur saja tak apa.. tak ada yang melarang mu..&rdquo;. dokter merujuk ku kesalah satu tempat tidur pasien itu. <br />&rdquo;Buat dirimu senyaman mungkin.., jika kau ingin tidur.., tidurlah...&rdquo;. kata2 itu mebuai aku dalam dekapan malam. Lama2 mata ku mulai mengantuk.., sepi.., sunyi.., dan akhirnya aku pun terlelap diatas ranjang pasien itu.<br />&nbsp;<br />***<br />Aku seakan kembali ke dalam mimpi yang kemarin. Namun kali ini berbeda. Di atas tembok dekat jam dinding terpampang jelas Surat Izin Usaha ku. Entah dari mana aku mendapatkannya. Para pelanggan mengerubungi kios mini ku itu. Aku seolah kewalahan melayaninya. &rdquo;aku tersenyum puas..&rdquo;. Dan tiba2 keadaannya kembali sunyi. Semua pelanggan ku diam dengan posisi mereka masing2. aku kaget.. &rdquo;ada apa ini...?&rdquo;. &nbsp;<br />&nbsp;<br />Perlahan sosok manusia seakan terbang mendatangi ku. Aku tak bisa bicara. Mulut ku kaku tak bisa aku gerak kan. Matanya bersinar seperti rembulan berwarna biru. Senyumnya polos seperti bayi yang baru beberapa hari di lahirkan. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Lakukanlah apa yang mungkin bisa kamu lakukan..., untuk yang tak mungkin bisa kamu lakukan..,serahkan kepada Tuhan..., Dia yang akan melakukannya untuk mu..., Percayalah...&rdquo;. aku seakan tertarik kedalam matanya. Persis seperti di dalam dimensi waktu. Untuk beberapa saat aku terus terjebak di dalam lingkaran berwana yang tak bisa aku lukiskan. Lalu..<br />&nbsp;<br />Duusssshhhh!!!. Aku terbangun dari mimpi itu. Pelan2 kembali menyegarkan ingatan ku. Mata ku menerawang ke sekeliling ruangan itu. &rdquo;akhh.., ternyata aku berada di dalam kamar. <br />&nbsp;<br />Aku tumpahkan air mineral kedalam cangkir dan menenggaknya. Ingatan ku mulai menerka2.., &rdquo;Apa yang sebenarnya sendang terjadi..?&rdquo;. &rdquo;Ahhkk.. aku tak ingat.., &rdquo;Apa maksud ucapan seseorang di dalam mimpi ku itu..?&rdquo;. ya.., kata2 itu seperti sebuah &rdquo;Sugesti&rdquo; yang harus aku ikuti. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Lakukanlah apa yang mungkin bisa kamu lakukan..., untuk yang tak mungkin bisa kamu lakukan..,serah kan kepada Tuhan..., Dia yang akan Melakukan-Nya untuk mu..., Percayalah...&rdquo;.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Akhh.., terserahlah..., apa pun itu, akan menjadi sebuah semangat baru untuk ku.&rdquo;. Dan aku kembali melanjutkan kegiatan ku seperti biasa.., Merakit sebuah &rdquo;Miniatur Drum&rdquo; untuk aku antarkan ke toko kerajian seni di daerah ku. &rdquo;Hmmm..., kapan aku bisa mempunyai Kios mini sendiri....?&rdquo;. Ya..,Satu lagi pertanyaan yang tak bisa aku jawab. &rdquo;Entalah...&rdquo;<br />&nbsp;<br />_End_<br />&nbsp;<br />****<br />Aku hanya ingin berbagi kawan tak punya maksud lain.., <br />Asal kau tau.. mata ku berair ketika membuat catatan ini..<br />Terima kasih..<br />&nbsp;<br />Dunia 4x6 meter<br />Iwansteep<br />200510<br />&nbsp;<br />&nbsp; ]]></description>
</item>
<item>
<title>Jihad itu seperti ini</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/jihad-itu-seperti-ini.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/jihad-itu-seperti-ini.html</guid>
<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 00:49:37 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ Bukan berarti marah, meski teramat kesal sekali hari ini. Mendengar  orang-orang bicara mengenai kebusukan, hal-hal yang telah terabaikan dan  menjadi coreng organisasi ini. Bola matanya terpicing dengan kepala  tertunduk dan kedua lengan bersandar di meja. Di sini persoalannya bukan  sekadar perihal yang mendarah daging. Masa lalu dan masa depan saling  berkorelasi di sini. Apa yang sebaiknya dilakukan adalah kembali kepada  persoalan inti. Menjadi sebuah bahan introspeksi dan perenungan, tetapi  hal itu tidak mudah dilakukan jika orang yang merasa dirinya busuk belum  mengerti dan menyadari dirinya busuk.<br />Saki mengangkat  kepala. Sejenak matanya bergerak lurus ke arah jam dinding. Atasannya  belum memanggil lagi untuk revisi laporan yang telah ia berikan. Saki  membuat dua revisi. Salah satunya sengaja ia buat tidak sesuai keinginan  Didi, kepala pengadaan dan distribusi. Ia membuatnya sebab hal yang  terjadi perlu diluruskan, ia tidak mau disebut antek Didi oleh  rekan-rekan seperusahaan. Semua orang telah mengetahui siapa Didi, dari  bagian keuangan sampai bagian pemeliharaan. Kondisi terpuruk perusahaan  telah menurun dan dipastikan penyebabnya adalah kurangnya pasokan  pengadaan untuk kerja seluruh bagian di perusahaan. Mesin-mesin sudah  harus diperiksa, banyak pegawai di operasi yang mengeluh pada gerak  mesin yang mulai melambat dan menghambat efektifitas kerja juga hasil  yang memuaskan.<br />Hal yang lain lagi adalah complain yang masuk ke humas. User yang kecewa dengan kondisi barang, bahkan yang  marah-marah karena keterlambatan kiriman barang sudah menjadi perhatian  humas dan dilaporkan ke bagian pengaduan. Tetapi ada yang menduga semua  laporan ditunda atas perintah Didi dengan alasan perlu bukti lebih  lanjut.<br />Tangan Saki sudah terkepal dengan perasaan  gemas menanti respon atasannya. Ia ingin bertemu dan menanyakan revisi  laporan itu. Tetapi menjadi ragu sebab ia merasa tindakan tersebut  adalah unapropriated action yang tidak perlu ia  lakukan. Ia hanya bisa menunggu sampai bosan.<br />Sampai  tiba Runi dengan kabar yang ia sampaikan melalui Kokom. Kokom bilang  Didi dipanggil ke direksi dan diminta keterangan mengenai laporan itu.  Saki belum mengetahui hal rincinya, ia berharap ada kelanjutan yang  lebih baik sebab apa yang ia ketahui dari Runi merupakan perkembangan  yang diharapkannya.Hanya saja, ia melihat wajah  pesimis Kokom dan Runi saat itu. Mereka kenal betul siapa Didi. Banyak  hal yang bisa diupayakan untuk berkelit, Didi adalah ahlinya.  Kekhawatiran itu ditepisnya, kalaupun hal tersebutnya menyeretnya sampai  ke depan direksi perusahaan, Saki tidak merasa hal tersebut sesuatu  yang harus ia pikirkan.<br />Gadis itu bangkit dari duduk.  Ia berjalan menuju tempat dispenser air mineral,  secangkir kopi mungkin bisa menenangkannya. Tetapi ia berubah pikiran,  ia lalu menyeduh teh hangat. Udara dingin yang berasal dari pendingin  ruangan dan jendela pantry yang terbuka tidak  menjadikan ia membuat kopi.<br />Di pantry ada Maulidian duduk sambil mereguk cappuccino instan, bungkusnya belum dibuang. Heran  melihat Maulidian ada di pantry. Saki menegur,  tetapi tidak menanyakan sedang apa dia di pantry  "Maul, kamu ga buang bungkusnya?"<br />"Nggak bu, mau saya kumpulin, di rumah sudah banyak." Sahut Maulidian.<br />"Oh, semoga berhasil ya." Sahutnya, "yang aneh memang selalu ada pada kamu ya, Maul."<br />"Terima kasih bu." Sahutnya, ibu. Di tempat ini dia adalah level terendah tingkatan jabatan, dan panggilan ibu harus dibiasakan sejak Saki bertemu lagi di kantor ini. "Yah, bu saya juga perlu sesuatu untuk menyenangkan diri. Sebenarnya bungkus kopi instan ini bisa saja aku kirimkan, walau aku tahu sekali bu, kemungkinan menang itu nol persen. Tapi bungkus plastik ini pasti akan penuh dalam karung yang juga dikumpulkan sampai banyak."<br />Maulidian,  satu lagi orang yang menarik perhatian. Selain Dion yang berada di  ruang sebelah, selain kebusukan Didi dan rekan-rekan kerja yang diduga  telah melakukan konspirasi penggelapan biaya pengadaan dan distribusi  barang di perusahaan.&nbsp;<br />Tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya pemuda yang sering bersikap culun itu. Tapi Saki mengetahui siapa pemuda itu sebenarnya. Maulidian sering dipanggil Acep Anang di kampus dulu. Ya, Saki pernah satu sekolah di SMA. Namanya Kasep Maulidian Maulana, namun lebih suka dipanggil Acep semasa berbaju putih merah sampai putih abu.<br />Dia masuk ke perusahaan sebagai pegawai outsourcing, dikenal oleh rekan kerja di perusahaan asalnya sebagai pencari tantangan. Saki mengetahui dari teman hang out-nya, sebut saja begitu. Maulidian pernah gonta-ganti pekerjaan sampai diangkat sebagai supervisor untuk para pegawai kontrak dari perusahaannya.<br />Pencari tantangan, dua kata itu memang lekat disandang olehnya. Saat tertantang untuk menjadi seorang cleaning service ia rela masuk ke perusahaan Saki sebagai pegawai kontrak di perusahaannya.Dan Saki merasa senang dengan kehadiran Maulidian di tempat kerjanya. Maulidian menjadi teman ngobrol dan pendengar yang perhatian. Tetapi dia pacar yang payah pikir Saki. Semua pacar Maul tidaklah penting. Tapi yang terpenting Maul selalu ada jika Saki hendak mencurahkan isi hatinya.<br />"Ibu yakin dengan persoalan yang akan ibu hadapi itu bisa ibu selesaikan?" Masih duduk di kursi yang biasa digunakan makan siang untuk pegawai yang tidak dapat pergi ke kantin atau mereka yang menggunakannya sebagai tempat makan malam saat lembur. Di pantry yang disediakan itu pemuda yang biasa membawakan mie bakso kesukaannya.<br />"Aku harus melakukannya, tidak ada yang berani, persoalan ini harus aku selesaikan. Dan resikonya itu aku tidak peduli. Jika perusahaan hendak memecatku, itu hak mereka."<br />"Sssst, ada orang datang." Bisik Maulidian.<br />"Hei, ngapain kalian di sini?" ternyata Runi. Saki sempat mengurut dada, ia mengira yang datang orang-orang yang tidak ia inginkan.<br />"Eh, kirain para Gank Gong, hehe." Sahut Maulidian terkekeh.<br />"Runi, kamu ngapain di sini?"<br />"Saki, rencanamu berhasil, aku rasa. Sepertinya ada sesuatu yang aku rasakan saat meliat Didi keluar dari ruang direksi."<br />&#239;&#187;&#191;"Rencana apaan? Wah, kalian maen detektif-detektif-an ya?"<br />"Berisik!"<br />"Ya ini, orang satu. Gak ada kerjaan apa?" timpal Runi.Lalu Saki mengorek semua hal yang diketahui Runi saat itu juga. Runi bercerita mengenai apa yang diketahuinya. Saki cukup bersyukur meski ia belum merasa aman dengan posisinya saat ini. Tapi ia akan pastikan pekerjaannya adalah membuat perusahaan ini bangkit kembali dari kemunduran meski yang dipastikan menderita adalah dirinya sendiri.<br /><br />&nbsp; ]]></description>
</item>
<item>
<title>Hanya Ingin Berbagi</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/a%80%9Dhanya-ingin-berbagi-a%80%9D.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/a%80%9Dhanya-ingin-berbagi-a%80%9D.html</guid>
<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 22:50:01 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[  &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}&nbsp;<br />&nbsp;Hanya Ingin Berbagi<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Malam ini aku seolah2 sedang berada di ruangan 3x4 meter di salah satu ruang rumah sakit. Aku menemui seorang dokter ahli kejiwaan atau lebih tepatnya &rdquo;psikiater&rdquo; untuk berkonsultasi. Layaknya seorang pasien yang akan memeriksakan kesehatannya, aku duduk tepat di hadapan beliau.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Apa keluhan mu wan..&rdquo;. sang dokter langsung ke inti masalah. Sepertinya dia tak ingin berbasa-basi. Aku sempat binggung.., secara garis besar aku tak punya masalah psikis.., lalu kenapa aku berada di sini..?. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Sebenarnya bukan keluhan Dok., aku hanya ingin bercerita tentang mimpi ku yang slalu mengahantui dalam beberapa hari ini.., boleh kah..?. aku sedikit ragu. Dokter itu sedikit tersenyum kecil.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Hmm.., Silakan wan.., aku ini teman mu.., kau boleh cerita apa saja kepadaku.., Kau percaya aku kan..?&rdquo;. dokter itu menyentuh pundakku untuk meyakinkan aku kembali. Aku mengangguk..,<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &rdquo;Ya dok.., aku percaya kau.., makanya aku ingin bercerita kepadamu..&rdquo;. sang dokter tersenyum. Lalu aku mulai bercerita tentang mimpi ku kepada sang dokter yang aku percaya dapat memberikan solusi terbaik kepadaku. <br />&nbsp;<br />***<br />Sudah beberapa hari ini aku terus bermimpi tentang suatu ruangan berukuran 1,5x2 meter.., Ya.., aku merasa menjadi pemilik tempat itu. Di dalamnya terdapat satu buah etalase kecil berukuran 1,5meter., sebuah meja kecil yang diatasnya komputer kesayanganku plus satu buah printer., fram2 mungil nan cantik berisi &rdquo;Miniatur Drum&rdquo; kreasi ku.., dan beberapa pelanggan yang sedang melihat2 atau pun mengorder barang hasil kerajinan ku. Senyumku &rdquo;Sumringah&rdquo;.., rasanya puas sekali hati ku. Inilah keinginan ku selama ini. <br />&nbsp;<br />Namun tiba2.., datang dua orang Pol. PP menghantam emosi ku. Salah satunya menanyakan &rdquo;Mana Surat Izin Usaha mu..?&rdquo;. aku syock.!! Aku tak punya surat izin itu. &rdquo;apa yang harus aku lakukan..?&rdquo;. aku emosi.., dan mencaci maki mereka berdua. &rdquo;Aku ini orang susah..!! modal ku juga tak seberapa..! jadi aku tak punya surat itu Boss..!!&rdquo;. dengan nada yang lantang. Semua pelanggan ku kabur di buatnya.<br />&nbsp;<br />Salah satu Pol. PP langsung menendang etalase menghancurkan semua isi di dalamnya. Kaca2 berterbangan tak tentu arah. &rdquo;Toko mu kami tutup..!! karna tak memiliki izin..!!&rdquo;. kata Pol PP itu. Melihat tingkah laku mereka aku bertambah marah. Ku ambil salah satu tongkat yang sering aku gunakan untuk menopang tubuh ku ketika berjalan dan ku hantam kan di kedua kepala mereka. &rdquo;Mampus kau anjing...!!&rdquo;. mataku merah menyala. Darah segar memuncrat seperti sperma dari batang penis. Menempel ke dinding ada juga yang jatuh ke tanah. Lalu aku terbangun dari alam itu dengan kringat membasahi baju sampai ke celana dalam ku. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Hmmm..., menarik sekali mimpi mu itu wan..&rdquo;. kata sang dokter sambil tersenyum. Lalu sang dokter mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Beliau memintaku untuk menggambarkan apa saja yang ada di otak ku saat ini. <br />&nbsp;<br />Aku sempat berfikir dan pelan2 menggambarkan sebuah sketsa. Ya.., sketsa Kios mini ku yang ada di dalam mimpi itu. Dan dokter pun kembali tertawa kecil.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Hehehe., seberapa besar keinginanmu untuk membuka kios itu wan..?&rdquo;. pertanyaan itu sedikit mengusik naluri ku. <br />&rdquo;Besar sekali dok.., tapi apa hendak di kata.. Ibu ku tak memiliki banyak modal lagi untuk mendukung usahaku itu...&rdquo;. aku lemas ketika harus membicarkan tentang ibu ku. &rdquo;Apakah penyakit ku ini berbahaya dok..?&rdquo;. aku kembali bertanya.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Tentu saja tidak wan., kau hanya butuh dorongan saja. Ini bukan masalah penyakit.., tapi masalah keinginan&rdquo;. &rdquo;100 % kamu sehat wan.., keinginan itu yang membuat kamu tetap hidup.., terus lah seperti itu sampai tubuh mu tak bisa lagi mengejarnya. Tak perlu tergesah2.., pelan2 saja..., suatu saat nanti keinginan mu itu akan terwujud jika kau tetap fokus akan apa yang kau kejar..&rdquo;. nasehat sang dokter membuat smangat ku muncul kembali. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Sekarang berbaringlah di tempat tidur itu.., buatlah dirimu senyaman mungkin. Jika kau ingin tidur.., tidur saja tak apa.. tak ada yang melarang mu..&rdquo;. dokter merujuk ku kesalah satu tempat tidur pasien itu. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Buat dirimu senyaman mungkin.., jika kau ingin tidur.., tidurlah...&rdquo;. kata2 itu mebuai aku dalam dekapan malam. Lama2 mata ku mulai mengantuk.., sepi.., sunyi.., dan akhirnya aku pun terlelap diatas ranjang pasien itu.<br />&nbsp;<br />***<br />Aku seakan kembali ke dalam mimpi yang kemarin. Namun kali ini berbeda. Di atas tembok dekat jam dinding terpampang jelas Surat Izin Usaha ku. Entah dari mana aku mendapatkannya. Para pelanggan mengerubungi kios mini ku itu. Aku seolah kewalahan melayaninya. &rdquo;aku tersenyum puas..&rdquo;. Dan tiba2 keadaannya kembali sunyi. Semua pelanggan ku diam dengan posisi mereka masing2. aku kaget.. &rdquo;ada apa ini...?&rdquo;. &nbsp;<br />&nbsp;<br />Perlahan sosok manusia seakan terbang mendatangi ku. Aku tak bisa bicara. Mulut ku kaku tak bisa aku gerak kan. Matanya bersinar seperti rembulan berwarna biru. Senyumnya polos seperti bayi yang baru beberapa hari di lahirkan. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Lakukanlah apa yang mungkin bisa kamu lakukan..., untuk yang tak mungkin bisa kamu lakukan..,serahkan kepada Tuhan..., Dia yang akan melakukannya untuk mu..., Percayalah...&rdquo;. aku seakan tertarik kedalam matanya. Persis seperti di dalam dimensi waktu. Untuk beberapa saat aku terus terjebak di dalam lingkaran berwana yang tak bisa aku lukiskan. Lalu..<br />&nbsp;<br />Duusssshhhh!!!. Aku terbangun dari mimpi itu. Pelan2 kembali menyegarkan ingatan ku. Mata ku menerawang ke sekeliling ruangan itu. &rdquo;akhh.., ternyata aku berada di dalam kamar. <br />&nbsp;<br />Aku tumpahkan air mineral kedalam cangkir dan menenggaknya. Ingatan ku mulai menerka2.., &rdquo;Apa yang sebenarnya sendang terjadi..?&rdquo;. &rdquo;Ahhkk.. aku tak ingat.., &rdquo;Apa maksud ucapan seseorang di dalam mimpi ku itu..?&rdquo;. ya.., kata2 itu seperti sebuah &rdquo;Sugesti&rdquo; yang harus aku ikuti. <br />&nbsp;<br />&rdquo;Lakukanlah apa yang mungkin bisa kamu lakukan..., untuk yang tak mungkin bisa kamu lakukan..,serah kan kepada Tuhan..., Dia yang akan Melakukan-Nya untuk mu..., Percayalah...&rdquo;.<br />&nbsp;<br />&rdquo;Akhh.., terserahlah..., apa pun itu, akan menjadi sebuah semangat baru untuk ku.&rdquo;. Dan aku kembali melanjutkan kegiatan ku seperti biasa.., Merakit sebuah &rdquo;Miniatur Drum&rdquo; untuk aku antarkan ke toko kerajian seni di daerah ku. &rdquo;Hmmm..., kapan aku bisa mempunyai Kios mini sendiri....?&rdquo;. Ya..,Satu lagi pertanyaan yang tak bisa aku jawab. &rdquo;Entalah...&rdquo;<br />_End_<br />&nbsp;<br />****<br />Aku hanya ingin berbagi kawan tak punya maksud lain.., <br />Asal kau tau.. mata ku berair ketika membuat catatan ini..<br />Terima kasih..<br />&nbsp;<br />Dunia 4x6 meter<br />Iwansteep<br />200510<br />&nbsp;<br /> ]]></description>
</item>
<item>
<title>DUNIA 4 X 6 Meter</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/dunia-4-x-6-meter.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/dunia-4-x-6-meter.html</guid>
<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 22:30:04 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[  &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Estrangelo Edessa"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-2147459005 0 128 0 1 0;} @font-face 	{font-family:Castellar; 	panose-1:2 10 4 2 6 4 6 1 3 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"MS Reference Sans Serif"; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Microsoft Sans Serif"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421663 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:70.9pt 3.0cm 70.9pt 3.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; <br />DUNIA 4 X 6 Meter<br />&bull; Iwansteep<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Apa yang terbaik bagi kita belum tentu baik di mata Tuhan, dan sebaliknya yang Terbaik di mata Tuhan Belum tentu menjadi pilihan Kita. Ada banyak contoh nyata. Pria jadi wanita,wanita jadi pria,takdir yang tak dikehandaki, dan banyak lagi contoh nyata yang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Perlu ada keberanian untuk menembus batas nadir itu. Seperti halnya aku&hellip;., tak pernah berfikir untuk hidup dengan keadaan ini. Hari ini dan sampai hari-hari berikutnya yang belum ditentukan, aku memutuskan untuk bersamanya. &ldquo;Apakah ini adalah tadirku&hellip;???&rdquo; <br />&nbsp;<br />&ldquo;Ma&hellip;, aku sudah putuskan&hellip;, aku akan menikahi dia.., tolong restui aku..&rdquo;&nbsp; dengan nada yang tegas tapi pasrah aku akhirnya memberanikan diri berbicara dengan wanita setengah tua itu. &nbsp;Ibuku menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ada kegetiran dimatanya. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Jangan memaksakan diri anakku&hellip;, jalan mu masih panjang.., serahkan semua kepada Tuhan. Mama percaya kau pasti bisa melewati ini..&rdquo;&nbsp; rasa lelah menghinggapi raut wajahnya. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Tidak Ma..,aku yakin Tuhan sudah berikan yang terbaik untukku..,aku mohon restui aku..&rdquo; aku berlutut memeluk kakinya yang penuh debu derita. Air mataku jatuh di selah-selah jemari kakinya. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Mama tak rela jika amarah yang membuat keputusan ini. Jangan siksa Mama Nak&hellip;.!!, Tolong jangan siksa Mama&hellip;!!&rdquo; wanita itu memeluk erat tubuhku dan menumpahkan semua derita jiwanya yang telah lama dia pikul. Berat sekali beban itu. Aku tau dari air matanya yang jatuh di pundak ku. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Mama salah&hellip;, ini bukan amarah.., ini adalah fakta.., faktanya aku membutuhkan dia untuk temani aku hidup. Hidupku hampa jika tiada dia di sampingku, Tolong Ma&hellip; ngerti&rsquo;in perasaan anakmu ini&hellip;&rdquo;&nbsp; isak tangis tak bisa dibendung lagi, dua anak beranak menangis karna takdir yang tak direncanakan. <br />&nbsp;<br />Wanita itu menghapus air mata dan membulatkan tekatnya. Walau berat dia harus terima keputusan ini. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Baiklah anakku&hellip;, jika ini yang kamu pinta&hellip;, aku akan turuti apa kehendakmu. Tapi dengan satu syarat.., tempatkan Tuhan di dalam hatimu.,,!!, bisa kau lakukan itu buat Mama..??&rdquo;<br />&nbsp;<br />Aku tak menjawab, mulutku kaku, otakku bergeser 0,1 Derajat , rasanya berat untuk menjawab. Akhirnya aku angguk kan saja kepalaku berharap otakku bisa kembali Normal. <br />Hari itu adalah hari yang begitu berat dalam sejarah kehidupanku. Memutuskan sesuatu yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. <br />&nbsp;<br />Tapi itulah kehidupan, kita tak pernah tau apa yang terjadi pada hari esok, dengan ujian derajat kita akan di naikan oleh Tuhan. Setidaknya itulah pepatah yang bisa aku simpan dalam memory otakku ketika seorang teman datang untuk membangun kembali jiwaku yang hancur. Aku hanya bisa sedikit tertawa, kalo&rsquo; memang demikian mengapa tak naikkan saja aku kedalam Surga atau Nerakanya biar orang-orang disekelilingku tak merasakan dampak yang aku timbulkan terutama Ibuku. Dan sebaliknya dia pun malah mengejekku dengan tertawa lepas.., aku tak mengerti maksud tawanya. Makanya aku pun ikut tertawa. Kami berdua tertawa dengan pikiran masing-masing. Aneh bukan ?.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setiap hari aku menghabiskan waktu dibawah mentari pagi, dan menjadi &ldquo;Penatap_Langit&rdquo; sejati, berharap ada malaikat datang menghampiriku dan mengajak aku pergi dari beban berat ini. Dunia memang belum kiamat. Tapi duniaku sebatas 4x6 meter saja. 4 kesamping 6 kedepan dan 6 kebelakang. Aku kehilangan wanita yang aku cintai, semua peluang-peluang, dan kebebasan melangkah. Mataku hanya bisa melihat dari jauh tanpa merasakan udara tanah yang membaur di selah-selah keramaian. Aku takkan terlalu khawatir, karna aku masih punya rasa optimis yang begitu besar kepadaNya dan akan ku curahkan kepada calon pengantinku nanti. Aku ingin mempercepat hari ini. Aku ingin segera memeluk calon pengantinku. Walau aku sedih tapi aku sangat butuh dirinya disampingku. <br />&nbsp;<br />Perasaanku mulai kacaw, ada banyak bayang-bayang yang mengganggu pikiranku. Kata-kata mengapa&hellip;?, berputar-putar didalm otak ku yang mulai lemah, bimbang, getir,malu,tak percaya diri dan semua rasa yang absruk menghinggapi seluruh kerongkongan hatiku. Berapa kali aku berdoa kepadaNya berharap bisa kembali membentuk hatiku ini sehingga menjadi satu kembali dan mendapatkan keyakinan itu. Tapi kapan&hellip;?, Entahlah&hellip;<br />&nbsp;<br />Semua teman dan keluarga dekat mendukung keputusanku lewat kata-kata &ldquo;Sabar..!!&rdquo;, sebenarnya aku sudah muak dengan kata itu. Tapi, mau tak mau aku hanya diam, toh..,hanya mereka yang aku miliki sekarang. Mereka tak kan mengerti dan tak kan bisa mengerti kekacawan hatiku. Manusia bisa perduli ketika manusia itu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Omong kosong jika mereka perduli karna rasa Iba. Buktinya mereka hanya memuaskan Egonya saja. Mereka tak pernah dapat apa-apa, Nol besar didalam hatinya. Dan aku masih bergelut dangan kata-kata &ldquo;Sabar&rdquo;. <br />&nbsp;<br />Itu masih belum apa-apa, satu orang bodoh menyebut diriku sedikit beruntung, padahal dia tak mengerti kata beruntung itu sandiri seperti apa. Bagaimana mungkin seorang disebut beruntung jika hanya satu tingkat diatas orang lain. Tanyakan pada Dunia, memangnya ada manusia yang ingin rodanya di bawah. Setiap manusia tidak ada yang ingin senasib dengan diriku atau lebih buruk dari aku. Kalo memang demikian dimana letaknya kata-kata beruntung itu&hellip;!!!. Itu adalah bukti nyata kalo manusia hanya ingin memuaskan egonya saja. Dengan otaknya yang sedikit, pandai betul dia merajut kata-kata agar terdengar menggugah hati yang mendengarnya. Ya.., tak ada bedanya dengan diriku yang juga sama bodohnya dengan mereka ,tapi setidaknya argumentku bisa diterima oleh orang yang sama seperti diriku, bukan orang seperti dirinya. Tidak ada yang benar didunia ini semuanya Relatif. <br />&nbsp;<br />Muak dan kadang ingin mengakhiri hidup dengan menggantung diri atau menengak racun serangga. Rasa itu begitu kuat hingga menggrogoti separuh otak ku, tapi semua itu tak ku lakukan karna aku masih punya rasa bersalah kepada Tuhan. Tuhan sendiri aku tak tau ada dimana. Delapan bulan lebih aku bergelut mencari malaikat namun tak nampak sedikit pun batang hidungnya atau pun bentuk petunjuk yang memadai. Aku mulai lelah&hellip;., lelah sekali.., rasanya dipermainkan oleh takdir. Takdir sendiri datang memelukku menyerupai virus ganas yang menggrogoti tulang belakangku, sampai-sampai dokter mengangkat kedua tangannya dan mengatakan &ldquo;Tidak ada obatnya..!!&rdquo;. virus itu menyebabkan aku lumpuh dan hanya menyisahkan seperempat tenaga untuk menopang kaki ku dengan bantuan calon pengantinku pastinya. Apa kuasa manusia atas hendaknya. Ketika Tuhan Menyapa tak ada manusia yang bisa menolak kuasanya. <br />&nbsp;<br />Sedikit-demi sedikit aku mulai belajar menyatuhkan puing-puing hatiku. Di bantu dengan semangat Ibuku yang memang telah pudar aku terus merajut kembali mimpi-mimpiku. Memang tak mudah. Beberapa kali aku gagal sampai sekarang pun masih tetap gagal. Alasannya klasic, aku tak bisa mengontrol amarahku. Sempat utuh sepertiga dari hatiku namun hancur lagi ketika dua mata manusia melihatku seperti melihat badut atau topeng monyet yang sedang menari-nari di pinggir jalan. Aku benar-benar tak terima hal itu. Dengan nada yang meluap-luap seribu sumpah serapah meluncur dari mulut ku yang memang telah kotor. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Anjing kalian semua&hellip;.!!!, Memangnya kalian tak pernah melihat orang cacat apa..!!!&rdquo; mataku melotot keluar, aku mempercepat langkahku, nafasku naik turun tak beraturan, emosi menguasai jiwaku dan kembali aku mengurung diri dibalik tembok kamarku. Tangis bercampur amarah, rasa kecewa yang mencabik-cabik,gelora kebencian merasuk jiwa. Tak ada yang tau itu. Hanya aku dan Rasa sakitku. Aku kecewa kepada semua yang ada didunia, terutama kepada Tuhan. Lalu aku tuliskan kata-kata untuk diriku sendiri. <br />&nbsp;<br />Ketika Hujan Menari<br />&nbsp;<br />Hujan menari lagi..<br />Aku ingin ikut menari bersamanya..<br />Melepaskan kegundahan hatiku<br />Menari bersama tetes air dari Langit..<br />Hujan terus menari..<br />Seolah-olah mengejekku dari dalam kamar.<br />Sepi,sendiri,tak bisa berbuat banyak&hellip;,<br />Memambah luka dihati ini.<br />&ldquo;Apa salahku sehingga aku<br />tak bisa ikut menari bersamanya..!!&rdquo;<br />Aku lelah..,capek&hellip;,sedih&hellip;,dan rindu&hellip;,<br />Rindu bagaimana rasanya <br />saat tetes air hujan memelukku <br />sampai aku basah kuyup&hellip;<br />Aku ingat kemarin aku tak pernah <br />takut membelah hujan..!!<br />Tak pernah menolak ketika ia mengajakku menari..<br />Tapi sekarang.., hujan tak peduli lagi kepadaku&hellip;<br />Dia hanya bisa mengejekku<br />dari dalam kamar tanpa peduli <br />perasaanku yang begitu kesal <br />menyaksikannya menari..<br />Hujan masih saja terus menari..,<br />Suara gemuruh genting dan tanah menjadi <br />musik tersendiri baginya. <br />Hujan membuat hatiku bimbang&hellip;,<br />Bimbang dan rindu setiap kali hujan datang.<br />&ldquo;Mungkinkah aku masih bisa kembali menikmati tariannya&hellip;??&rdquo;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; _Langit&rsquo;JiNgga_<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mataku berkaca-kaca, kali ini semuanya gelap. Lemas seperti pasrah terhadap maut, ku lemparkan pandanganku kesudut pojok kamarku. Ada sesuatu yang mengintai ku disana. Lama ku pandangi dia layaknya aku belum pernah jumpa dia. Calon pengantinku kini telah resmi menjadi pengantinku. Dia berdiri dipojok sana dan tersenyum kepadaku dengan sejuta Spektrum layar pelangi. Kini tak ada lagi kata tanya, selayaknya sepasang pengantin yang tak perlu ada kata dusta. Aku jujur kepadanya dia pun begitu terbuka kepadaku. <br />&nbsp;<br />&ldquo;Suamiku..,tak perlu resah hadapi Dunia, sebab Langitku yang luas Masih Memiliki Tempat Untukmu Bernafas. You Can Be My Husband..!!&rdquo;<br />&nbsp;<br />Pengantinku kini bicara padaku dengan senyumnya yang khas. Ku hapus air mata yang tersisa, perlahan ku paksakan tersenyum dan akhirnya terbiasa. Lama mataku memandang pengantinku, seperdelapan dari hatiku kini terbentuk sendiri, kata-kata pengantinku itu seperti membangunkan aku dari mimpi yang amat panjang. Ku pejamkan mata dan menarik nafas panjang, kulepasakan semua beban yang mengikat, ku lepasakan semua rasa yang menjerat. Udara disekitarku seakan menyatuh dengan tubuhku. Rasanya ringan sekali&hellip;., damai sekali&hellip;, seperti ingin tidur saja. Lama&hellip;.lama&hellip;., sunyi&hellip;,senyap..,merasa sendiri tinggal di Dunia ini.&nbsp; Aku buka mata dan kembali memandang pengantinku. Taukah kau&hellip;? Pengantinku ini adalah Sepasang tongkat yang berfungsi untuk menopang berat badanku ketika berjalan. Walaupun benda mati tapi bagiku dia adalah malaikat penyambung langkahku. <br />&nbsp;<br />Aku berdiri dan Menatap Langit lalu sedikit berguman kepada Sang Alam Semesta.<br />&ldquo;Terima kasih Tuhan Atas apa yang kau berikan kepadaku. Walau berat untuk menerima tapi aku tau ada jalan yang indah yang kau janjikan untuk ku&rdquo;. Hanya itu yang ada di hati ku sekarang. <br />&nbsp;<br />Aku tersenyum,dan akhirnya tertawa sendiri. Ada perasaan yang menggelitik di dalam otak ku. Seperti sudah lama sekali tak tertawa seperti ini. &ldquo;Bodohnya aku&hellip;&hellip;,bodohnya aku&hellip;!!&rdquo;, aku kembali tertawa. <br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />4pril09<br />_LaNgit&rsquo;JiNgga_<br />&nbsp;<br /> ]]></description>
</item>
<item>
<title>Ketimun Bongkok</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/ketimun-bongkok.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/ketimun-bongkok.html</guid>
<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 22:25:30 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[  <br />&ldquo;Ketimun Bungkuk&rdquo;<br />Iwansteep<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Pasar buah Kramat Jati pukul enam pagi&hellip;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hinggar bingar suara para pedagang memecah kebisuan di pagi ini. Gaduh dengan segala aktifitas mereka. Keringat kuli panggul menetes menambah beceknya jalan yang menjadi pemandangan sehari-hari untuk para pembeli. Beginilah suasana pasar tradisional sebagian besar yang ada di Negara ini. Tapi tak perlu khawatir.., peredaran uang di sini jauh melebihi plaza-plaza yang ada di sebagian kota besar. Tho faktanya sebagian besar agen atau distributor semua berawal di pasar ini. Jadi jangan takut dengan kwalitas barang yang di tawarkan di sini. Semua di jamin 159 persen halal dan di halal kan. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di salah satu loss di ujung gang arah dari pintu masuk sebelah timur tak kalah gaduhnya. Buah-buahan tertata rapi, cantik dan menggiurkan dahaga. Mulai dari semangka, durian sampai angur atau apple ada di sini menambah warna-warni isi tiap kios para pedagang. Ingin cari pepaya atau sayur-sayuran segar&hellip;?? Tak perlu jauh-jauh tinggal melangkah satu hasta, semuanya ada di sini. Tapi suasana riang gembira pembeli atau penjual ternoda dengan keluh kesah dari sesosok mahluk kerdil ini. Mukanya muram durja dengan ekspresi tak bersahabat. Semua teman-teman telah letih memberikan masukan kepadanya.., tapi tetap tak di gubrisnya. Entah sudah berapa jam Dia mengguman dan memaki pembeli yang tak mau membawanya pulang. Baginya Dia hanya mahluk cacat yang yang tak berguna. Tho akhirnya juga akan terbuang seperti hal layaknya para keturunannya. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Sialan&hellip;!!&rdquo; Upatnya lagi..<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perasaan kesalnya semakin menjadi-jadi.., mana kalah sekarung mentimun baru saja tiba dan akan segara bergabung dengan dirinya. Bau mereka masih segar karna baru beberapa jam yang lalu di petik dari sebuah ladang di perbatasan kota. Muka ketimun semakin merah karna marah. Teman-teman yang baru datang ini tak berani menegurnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang di milikinya.., ketimun menjatuhkan diri dari rak pajangan dan segera bercampur dengan hitamnya tanah yang becek. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Hei ketimun..!! apa yang kau lakukan..!! tubuh mu jadi kotor tau..!! dasar bodoh..!!&rdquo; Buah Melon mencibirnya.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Aku ingin bunuh diri saja..!! aku tak sanggup lagi tinggal di dunia ini..!! aku tak mau mati busuk dengan ulat-ulat yang mengerayangi tubuh ku..!!&rdquo; Ketimun semakin membenamkan dirinya kedalam kubangan lumpur itu. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hy.. ketimun..!! kau kira cuma diri mu saja yang punya masalah dengan kebusukan..!! kau baru beberapa hari disini.., kau lihat aku..!! aku sudah hampir tiga minggu di sini., asal kau tau saja, ulat-ulat sekarang sudah bersarang ditubuh ku.., tapi sampai sekarang aku tak pernah mengeluh.., karna itu sudah menjadi takdir kita sebagai mahluk yang belum beruntung&rdquo; Buah Durian tampak esmosi. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Hei kau Durian..!! tau apa kau soal kebruntungan..!! aku memang baru beberapa hari di sini..! tapi setidaknya kau tak cacat seperti aku.., meskipun kau busuk.., tapi wangi mu masih tercium semerbak., sedangkan aku&hellip;, cacat dan sebentar lagi membusuk.., mana ada orang yang mau membeli ku&rdquo; Ketimun ikut esmosi. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Dasar kau Ketimun yang aneh..!! tak bisa menerima takdir dari yang Maha Pemberi Kehidupan..!!&rdquo; Durian memakinya. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kaulah yang aneh..!! dasar Durian bodoh..!! mau saja menelan mentah-mentah kata takdir tanpa mau mencari maknanya apa..!! bagi ku takdir hanyalah kebohongan dari para orang-orang tua kita dulu yang menancapkan dogma di pikiran keturunannya. Kata takdir tercetus ketika mahluk itu tak mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan hatinya. Mengerti kamu..!! Ketimun mengutarakan argumentnya. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Jadi mau mu apa sekarang Ketimun bungkuk..!!&rdquo; suara dari atas langit ikut menengahi mereka. Suara itu berasal dari sesosok Burung Sorga yang sejak tadi mendengarkan celoteh sang ketimun dari atas kabel gardu listrik. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketimun terdiam sejenak, dia benar-benar tak menyadari bahwa sang Burung Sorga ada di tengah-tengah mereka. Otaknya berputar-putar lalu dengan lantang menantang Burung Sorga itu. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Aku ingin kau sampai kan kepada Sang Yang Maha Pemberi Kehidupan.., bilang padaNya.., Aku dan keturunan ku tak ingin menjadi ketimun yang cacat&hellip;!! Mata ketimun penuh semangat.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Jadi kamu mau jadi apa&hellip;!!&rdquo; Burung Sorga balik bertanya.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Terserahlah yang penting aku tak mau menjadi Ketimun Bungkuk yang cacat dan tak berguna bagi manusia..!!&rdquo; Wajah ketimun semerah api.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kau benar-benar aneh Ketimun &hellip;!! Kenapa!! kau tak temukan bentuk yang pas untuk memperkuat alibi mu ya..?, atau jangan-jangan kau tak pernah tau siapa dirimu sebenarnya..?&rdquo; Buah jeruk mengimpali dan membuat ketimun malu. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Apa kau bilang jeruk sialan..!!&rdquo; Ketimun memaki sang Jeruk lalu melanjutkan kembali dengan sisa-sisa tenaganya. &ldquo;Kau bisa bilang begitu karna kau terasa manis dan cantik..!! kalian disini tak kan bisa mengerti aku..!! dan kalian tak pernah perduli dengan nasib ku atau keturunan ku. Kalian bisa mengatakan itu karna kalian tak senasib dengan diriku. Saos tartar kalian semua..!!&rdquo; Ketimun tak bisa lagi mengontrol emosinya. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Hei kau Burung Sorga.., sampaikan saja pesan ku kepada Sang Pemberi Kehidupan bahwa aku ingin menjadi mentimun yang normal.., tak ada cacat di punggung ku.. bisakah kau lakukan itu untuk ku..?&rdquo; Ketimun menantang lagi Burung Sorga itu.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Baik lah Ketimun Bungkuk..,kalo cuma itu keinginan mu.., tak usah capek-capek aku terbang ke langit. Sekarang saja aku bisa mengabulkan permintaan mu.., sekarang bersiaplah&rdquo; Burung Sorga tersenyum kepada Ketimun.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semua buah yang ada disana terkejut bukan kepalang&hellip;, bagi mereka Ketimun ini benar-benar sudah gila akan ambisinya. Mana ada mahluk yang bisa merubah kodratnya hanya dalam hitungan detik. Tapi mereka semua tak menyadari bahwa sesungguhnya Burung Sorga itu ternyata Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan yang menyamar sabagai Burung tersebut. Begitu mereka tau.., semua bersujud dan memuliakan NamaNYa.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Sekarang apa kah kau sudah merasa puas Ketimun Bungkuk..?&rdquo; Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan berkata kepada Ketimun.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Ya.., Aku sudah merasa puas wahai Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan.., terima Kasih&rdquo; Ketimun menjawab sumringah.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kini Ketimun bangga bukan kepalang.., wajahnya tampan dengan bau yang segar pula. Dia yakin akan mudah terjual dengan penampilannya yang sekarang ini. Saking girangnya Ketimun berjalan dengan angkuhnya mengitari meja-meja pajangan itu dengan menginjak-injak buah-buah yang ada disana. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Lihat aku sekarang&hellip;!! Apa kah kalian disini iri padaku..!! wajah ku tampan.., bau ku segar.., dan satu lagi.. kalian tak kan pernah bisa seperti aku yang berhasil merubah takdir ku sendiri&hellip;!! Hahahahak&hellip;!!&rdquo; Ketimun tertawa dengan kerasnya dengan kedua tangan menempel di pinggang.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memang tak dapat di pungkiri.., semua buah yang ada disana iri melihat ketimun yang dulu cacat sekarang telah berubah menjadi mahluk yang tampan dan rupawan. Semua buah yang ada disana sebenarnya ingin juga seperti Ketimun Bunguk tapi malu.., malu untuk mengutarakannya kepada Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan. Terlebih lagi kepada Ketimun yang dulu pernah mereka ejek dengan argument mereka. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk sesaat kemudian kabar berita bahwa Ketimun telah berubah menjadi gagah dan rupawan telah tersebar hingga ke pelosok-pelosok loss kios pedagang. Sumpah..!! mereka semua iri kepada ketimun yang berani melawan takdirnya. Bagi mereka Ketimun adalah tonggak sejarah bagi dunia buah-buahan yang telah berani melawan takdirnya sendiri. Ketimun Bungkuk mendapat gelar &ldquo;Sang Penembus Batas&rdquo; entah apa artinya itu. Aku pun tak mengerti arti makna kata itu. Tapi aku cukup puas melihat expresi mereka yang tak bisa seperti Ketimun Bungkuk. Dan seperti yang Ketimun katakan &ldquo;Kau tak kan bisa pahami perasanku sebelum kau merasakan seperti aku rasakan..!! dan mereka telah rasakan.., bagaimana rasanya tak bisa menjadi sempurna seperti ketimun&rdquo; hanya itu yang ada di pikiran ku saat ini. Dan mulai detik itu.., tak ada lagi yang bisa mereka panggil dengan sebutan Ketimun Bungkuk.., sampai sekarang nama Ketimun telah berubah menjadi &ldquo;Si Segar Mentimun Sang Penembus Batas&rdquo;. Nama yang panjang dan aneh..<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cerita legenda itu terus terdengar turun-temurun dari mulut kemulut hingga sampai sekarang. Aku pun terkejut bukan kepalang setelah mendengar cerita itu dari nenek ku tadi pagi. Beliau bilang tak banyak lagi yang tau cerita itu.., karna memang kejadiannya telah berlalu beratus-ratus tahun yang lalu. Dan aku pun berniat untuk membukukannya. Ku pikir dari pada cerita itu hilang di telan bumi, alangkah berharganya jika cerita itu tetap abadi. Ya.., hitung-hitung melakukan sesuatu yang berharga di sisa hidup ku ini. Aku yakin bukan cuma aku yang bisa mendapatkan motifasi untuk bertahan hidup di dunia ini. Tapi dengan adanya buku itu sendiri akan ada banyak orang-orang seperti aku atau mungkin orang-orang seperti Ketimun Bungkuk sewaktu sebelum perubahannya akan merasa optimis dalam menjalani hidup di dunia ini.., terlebih lagi dengan kecacatan fisik atau mental yang mereka derita. Semoga saja.<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; ****<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Ayo Nek..!! ceritakan lagi bagaimana kelanjutan kisah Ketimun Bunguk setelah perubahannya..?&rdquo; Aku merayu Nenek ku sambil memegang pena di ujung jari kaki ku. <br />&nbsp;<br />Ya.., asal kau tau saja.., sejak lahir aku seperti Ketimun Bungkuk yang tak sempurna. Aku terlahir dengan kecacatan fisik yang ku derita. Ya.., aku tak memiliki kedua tangan sebagaimana orang-orang normal. Tapi aku masih bersukur masih di berikan Tuhan dua buah kaki yang dapat ku gerakan sebagaimana ku inginkan. Makan..,berjalan..,sampai menulis semua ku lakukan dengan kedua kaki ku ini. <br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mungkin aku tak seberuntung Ketimun Bungkuk yang begitu mudahnya bertemu dengan Tuhan dan dalam sekejap kecacatannya hilang begitu saja. Tapi dapat aku petik hikmahnya.., bahwa kecacatan membuat orang bisa hidup dengan kreatif lagi. Itulah manusia.., mahluk yang bisa beradaptasi dengan baik. Baik dengan lingkungan sekitar atau pun dengan anggota tubuhnya sendiri. Bagaimana pun juga kita hidup bukan mencari orang yang sempurna.., tapi belajar bagaimana mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Dengan begitu kita bisa tau bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak sempurna. Bukan begitu<br />&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Baiklah cucu ku.., Nenek akan lanjukan ceritanya&hellip;.&rdquo; Jawab sang nenek sambil melepas keca matanya lalu duduk tepat di sebelah ranjang ku.<br />&nbsp;<br />Aku dengan sigap mendengarkan kelanjutan cerita itu sambil mengunyah mentimun yang baru saja aku ambil dari dalam lemari es. Berharap semakin banyak aku makan Mentimun.., semakin cepat pula tangan ku segera tumbuh. Hahahak&hellip;!! Aku tertawa di dalam hati. Aku tau Itu hanya hayalan ku saja. Benar-benar imajinsi yang aneh. Hahahaha&hellip;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Dunia 4x6 Meter,090909-<br />&nbsp; Iwan Steep<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br />&nbsp; ]]></description>
</item>
<item>
<title>kata maaf yang tak tersampaikan</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/kata-maaf-yang-tak-tersampaikan_1.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/kata-maaf-yang-tak-tersampaikan_1.html</guid>
<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 19:57:49 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ <br />ayah bagiku dia adalah sosok yang sangat baik,lembut dan sabar walaupun aku sering melihat ayahku itu selalu menyendiri &nbsp;terkadang melihat kesendiriannya itu &nbsp;aku merasa bahwa ayah ku itu benar-benar sangat kesepian<br />ingin aku temani namun tak bisa karena aku harus sekolah di jakarta .di bandung ayahku hanya di temani oleh mang danu  yang setia menemani. &nbsp;setiap &nbsp;aku berlibur aku pulang ke bandung untuk menemui ayahku.begitu seterusnya.&nbsp;<br />suatu ketika ayahku ikut bersamaku ke jakarta disana dia begitu bahagia terlihat jelas dari raut wajahnya. betapa bahagianya hatiku. sampai suatu ketika ayahku  jatuh sakit beliau terkena serangan jantung dan stroke hingga harus  dilarikan ke rumah sakit. aku baru tahu ayahku dibawa kesana setelah aku pulang sekolah dan diberitahu oleh mbok minah.dan aku pun langsung menuju rumah sakit malam harinya bersama ibuku.&nbsp;<br />&nbsp;<br />hari pun berlalu,,, kini ayahku sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah sehat.aku pun senang mendengarnya.beberapa hari ayahku dirawat disana dan ketika ayahku sudah sembuh benar ayahku pulang ke bandung. beberapa hari sebelum ayahku pulang ke bandung aku sempat meminjam hp nya karena kebetulan hp ku rusak. dan ketika ayahku hendak meminta hp nya kembali aku marah padanya karena aku masih ingin meminjamnya karena pada saat itu aku ingin kangen"nan sama kekasihku. hari-hari pun berlalu&nbsp;<br />&nbsp;<br />liburan sekolah &nbsp;pun tiba aku pergi bersama ibu ku menemui ayahku disana. keesokan harinya ayah ku ingin sekali makan baso lalu ayahku menyuruh mang jono untuk membelinya aku ingin sekali ikut namun ayahku melarangku untuk ikut dengan mang jono " kamu jangan ikut udah disini aja." bentak ayahku. sontak aku pun ikut marah padanya hingga aku diam dan tak mau makan baso itu. sorenya ibu ku mengajak ku pulang dan aku pun masih kesal terhadap ayahku.sampai pada akhirnya ketika hendak pamit pulang aku tidak mencium tangan ayahku dan langsung membanting pintu mobil. melihat perlakuan ku itu ibu ku marah besar padaku. "APA YANG KAMU LAKUKAN TERHADAP AYAHMU." bentak ibu walaupun ibu ku marah padaku &nbsp;aku hanya diam saja menahan kesal. " udah bu nggk apa-apa." kata ayahku sambil &nbsp;menahan rasa sedihnya padahal saat itu ayah ku hendak menangis karena terlihat dari mukanya merah. dan kami pun pergi.sepanjang perjalanan ibuku terus memarahiku " kamu itu apa-apaan sch tega sekali kamu berbuat seperti itu pada ayahmu sendiri.kamu tau tidak ayahmu itu sampai merah mukanya mau nangis gara-gara liat tingkah kamu bagaimana nanti kalo ayah kamu &nbsp;sudah tak ada kamu akan menyesal nantinya cepat kamu minta &nbsp;maaf pada ayahmu." bentak ibuku. mendengar perkataan ibuku aku pun langsung meminta maaf pada ayahku melalui sms. tapi sayang sekali kata maaf &nbsp;yang kusampaikan padanya tak tersampaikan karena hp ayahku hilang.&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Sampai suatu ketika,,,<br />&nbsp;<br />ketika aku sedang mengaji bersama adik sepupuku &nbsp;tiba-tiba tante menyuruh kami untuk beristighfar 3x. dan kami pun menurutinya. setelah itu " neng ayahmu meninggal tadi sekitar pukul 06.00. mendengar hal itu aku setengah sadar . " akh masa sch &nbsp;bercanda kali itu mah." kataku tak percaya. tanteku hanya diam membisu. tanpa disadari tangis ku meledak. ya Allah sebegitu cepatnya kau memanggil ayahku yang baru saja sembuh dari sakitnya. barus aja kemarin.tanpa pikir panjang aku pun langsung pergi kesana. sesampainya disana aku hanya terkulai  lemas melihat jasad ayahku yang terbujur kaku di atas ranjang. rasa penyesalan pun datang menghampiriku &nbsp;tak sempat kata maaf yang ku lontarkan &nbsp;untuknya tersampaikan.kini aku hanya bisa menangis.sementara &nbsp;ibuku hanya bisa menjerit,menangis, lemas melihat jasad ayahku.&nbsp;Tak lupa ucapan bela sungkawa dari guru dan teman-temanku menyertaiku.<br />&nbsp;<br />Besoknya sekitar pukul 10.00  akan  jasad ayahku dimakamkan di pemakaman kartini. Kami sekeluarga pergi mengiringi jasad ayah ku. aku pun menangis saat melihat jasad ayahku hendak di kuburkan &nbsp; terlintas rasa penyesalan itu datang menghampiriku &nbsp; ketika beliau masih hidup aku sempat marah besar padanya. kini baru aku sadari semua itu. ya Allah aku belum sempat mengucapkan kata maaf terakhir untuknya aku benar-benar menyesal telah menyakiti perasaannya. dan kini aku hanya bisa menangis meratapi penyesalanku...&nbsp;<br />&nbsp;<br />hanya doa lah yang kukirimkan untuknya semoga beliau tenang di alam sana dan perbuatan ku dimaafkannya.<br />&nbsp;ayah maafkan aku yang tlah menyakiti hatimu aku tak bermaksud berbuat seperti itu padamu<br />&nbsp;<br />maafkan aku atas keegoisanku ini...bagiku kau adalah sosok ayah yang terbaik dalam hidupku dan tak akan terganti. kau selalu ada di hati ku ayah,,,<br />&nbsp;<br /> ]]></description>
</item>
<item>
<title>Malaikatku</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/malaikatku.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/malaikatku.html</guid>
<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 13:29:51 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ Malaikatku&nbsp;&ldquo;Selamat ulang tahun anakku tercinta, semoga tambah cantik dan pintar ya,Papa sayang kamu&rdquo;, itu adalah SMS dari papaku yang tak kusangka adalah ucapan terakhir pula dari Beliau. Papa adalah sosok ayah yang kaku seperti ayah-ayah pada umumnya, tipe suami yang romantis pula untuk mamaku. Kami jarang bertemu karena kontrak kerja papa yang mengharuskan papa berada di luar Jawa.Tahun 2009 adalah tahun yang sangat berat bagi kami sekeluarga. Karena itu adalah awal dari penderitaan yang harus dialami papa. &rdquo;Ginjal&rdquo;&hellip;. Bagaikan di sambar petir saat kami tahu papa di vonis mengidap penyakit itu. Aku juga nggak menyangka papa telah lama menyembunyikan rasa sakitnya demi membahagiakan kami.Kami berusaha mencari rumah sakit dan dokter yang terbaik buat papa. Semua gaji kakakku dikumpulkan pula demi kesembuhan papa kami. Namun semua itu belum menampakkan hasil. Semakin hari keadaan papa bertambah buruk, hingga mencapai kelumpuhan.Suatu hari sepulang dari poliklinik dekat rumah, aku mendorong kursi roda papa menuju rumah. Di jalan dengan rona mata sedih namun papa berusaha senyum, papa memegang tanganku. Ya Tuhan aku mau nangis saat itu, aku jujur belum kuat bila yang kutakutkan itu terjadi. Aku berusaha senyum pula menahan isak tangis.. Papa, di waktu sehat selalu menomor satukan aku di banding kakakku. Papa yang selama ini terus menyemangatiku saat aku jatuh atau mulai lengah. Aku masih belum rela Tuhan, jangan ambil papa dari hidupku Tuhan&hellip;Secara bergantian mama, aku dan kakakku menjaga papa.. hingga pada tanggal 3 Juni 2009, papa mengalami koma. Kami mulai ketakutan dan menangis, papa segera di larikan ke rumah sakit kembali. Aku yang saat itu masih dalam masa training kerja di warnet memohon atasan untuk hari itu kerja setengah hari dikarenakan keadaan papaku yang sedang kritis. Syukur atasanku adalah orang yang baik, beliau membolehkanku.Aku segera melaju ke rumah sakit, dan apa yang kulihat.. Semua keluargaku menangis.. Tante menghampiriku dan menyuruhku untuk meminta maaf. Aku bingung, pikiranku kosong saat itu, namun aku tetap menghampiri papaku. Aku melihat pemandangan yang menyakitkan&hellip; Ya Tuhan,, apakah itu papaku? Papa yang dulunya terlihat gemuk dan berwibawa kini tinggal tulang yang terbungkus kulit sedang tergolek lemah&hellip;&nbsp; Aku menghambur ke arah papa&hellip;memeluk dan menangis sekeras-kerasnya tanpa menghiraukan keadaan di sana. Papa,,kenapa harus secepat ini? Aku belum siap papa,, aku masih butuh papa,, jangan tinggalin anna pa&hellip; Aku hanya bisa menangis dan menangis&hellip;&nbsp; dan hanya 1 kata yang terucap dari bibir papa yang gemetar.. &ldquo; A&hellip; nna..&rdquo; &hellip; setelah itu tak ada lagi&hellip;Tanggal 3 Januari 2009 pkl 17.30 papa pergi untuk selama-lamanya. Bagiku Papa adalah malaikat dan pelindungku&hellip; Selama 1 tahun aku merasa terpukul dan merasa lemah..&nbsp; Namun kini ku sadari bahwa sudah lama aku tertidur dalam kemanjaanku, ketakutan, dan kelemahanku. Aku nggax boleh gini.. masih ada mama.. yang harus kubuat bangga. Karena selama ini aku sudah nyusahin mama. Papa tetap malaikat aku sampai selamanya akan tetap menjagaku.. ]]></description>
</item>
<item>
<title>MIMPI DI ATAS MIMPI</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/mimpi-di-atas-mimpi.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/mimpi-di-atas-mimpi.html</guid>
<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 13:10:23 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ &nbsp;by: abdun albarra&nbsp;Allah hu akbar Allahu akbar&hellip;, para hamba yang taat menghadap melapor diri kepada sang Penguasa abadi, sebagai bukti penghambaan. Pada saatnya rembulan pamit untuk istirahat, sang mentari membuka mata sambil tersenyum dan memberi salam kepada bumi&hellip;, seorang bapak yang sudah tidak muda lagi, sejak beberapa bulan terakhir dia selalu duduk di depan jendela kamarnya, manakala dia tidak bisa memejamkan matanya, meski tinggal di rumah yang terbilang mewah, kamar yang sejuk dengan ac bermerek, ranjang lux, kasur yang empuk, namun tidak membuat dia hidup enak dan tenang tinggal di rumah ini, raut mukanya sangat jelas menyimpan beban yang sangat berat, seperti memikirkan sesuatu yang sangat rumit, apakah karena telah ditingalkan istrinya yang meninggal beberapa bulan yang lalu, atau karena sudah pensiun dari perusahaan BUMN dua bulan yang lau.&ldquo; Ah&hellip; kenapa aku masih belum bisa tidur, apakah sudah tidak ada kantuk lagi buat ku&hellip;.. ?&rdquo;, gumamnya. Para hamba yang taat telah selesai melaksanakan pengabdiannya kembali melintas di depan rumahnya, wajahnya begitu ceria, dengan senyumnya menyejukkan hati bagi insan yang memandangnya, &ldquo; ah&hellip;begitu tenangnya mereka menghadapi kerasnya dunia &ldquo;, para hamba tersebut jelas terlihat tak ada raut kesedihan, seperti tak mempunyai beban, langkahnya ringan, senyatanya mereka tidak memiliki harta yang banyak, apalagi bapak yang memakai songkok yang sudah tidak hitam lagi, sudah dua kali lebaran tidak pernah diganti, tinggal di rumah yang sangat sederhana (mungkin lebih pas hanya sebuah gubuk) setiap hari mencari nafkah berangkat pagi pulang menjelang magrib dengan penghasilan yang hanya cukup untuk satu hari, bahkan kadang - kadang kurang, dengan tiga orang anak yang sudah mulai beranjak remaja, untuk menambah biaya hidup keluarga, sang istri bekerja sebagai pencuci pakaian milik tetangga seberang jalan rumahnya, anak pertama seorang laki &ndash; laki yang sedang duduk di kelas dua SMP sepulang sekolah berjualan koran, anak yang kedua seorang perempuan yang duduk di kelas enam Sekolah Dasar hanya membatu ibunya di rumah.Sedangkan anak bungsunya kelas tiga Sekolah Dasar sebelum berangkat sekolah jualan kue keliling milik tetangganya seorang janda, karena suaminya meninggal akibat terjatuh dari lereng gunung saat mencari sarang wallet, Bu&hellip;, kue nya sudah habis dan ini uangnya&hellip;!Alhamdulillah&hellip;, ini upah untukmu nak&hellip;.!Anak itu sangat gembira menerima upah dengan uang ribuan lima lembar, setengah berlari dia pulang, sesampainya di rumah dia serahkan semua uang yang didapatnya dari berjualan kue kepada ibu tercintanya, lalu dia bergegas mandi, selesai mandi dan berpakaian seragam SD yang warna bajunya sudah tidak putih lagi, apalagi celananya sudah tidak bisa dibedakan antara merah dan coklat, nak&hellip;sarapan dulu sebelum berangkat..!bapak sudah sarapan kah&hellip; bu..?bapakmu lagi shalat dhuha&hellip;, mas dan mbak &hellip;?mas mu lagi nimba air, sedang mbakmu mengambil cucian, kamu makan saja duluan, nanti terlambat ke sekolah&hellip;iya bu&hellip;Ibunya sudah menyiapkan sarapan nasi putih dengan dua potong tempe goreng.***&ldquo; Mas&hellip;bangun&hellip;, ini sudah hampir pukul delapan, kamu tidak kerja ya&hellip;&rdquo;, pemuda itu tak beranjak dari peraduannya, apakah mau disiram air dulu baru bangun&hellip;, dasar pemalas&hellip; sudah tiga kali dibangunkan masih saja ngorok&hellip;,Iya&hellip;ya..aku bangun nih&hellip;, Anak dan menantu bapak tua itu hampir setiap hari bertengkar, ada saja yang membuat mereka ribut, masalah mengurus anaklah &ndash; padahal baru satu orang -, bagaimana kalau anaknya lima mungkin bisa menjadi perang dunia ketiga, masalah gajilah - yang katanya tidak cukup -.Mas&hellip;, Ya&hellip;Bulan ini saya minta jatah lebih&hellip;, karena saya mau bayar arisan, juga sudah waktunya saya ke salon mau bersihkan muka.Pak Tua itu semakin kusam mukanya mendengar pertengkaran anak dan menantunya itu, dia teringat mendiang almarhum istrinya yang meninggal sembilan bulan yang lalu, setelah sakit satu bulan, yang tidak diketahui sakit apa. Sejak istrinya meninggal dia harus mencuci pakaiannya sendiri, sedangkan anak dan menantunya jangankan mencucikan pakaianya, sedangkan pakaian mereka saja urusan mencuci diserahkan kepada tetangga, kalau makan lebih banyak beli, kalaupun memasak lebih banyak ribut dan mengeluhnya, nanti tangannya kotor lah, kukunya rusaklah&hellip;, ah&hellip;ada - ada saja alasannya.Dia terus menatap mentari pagi yang semakin menampakkan jadi dirinya, begitu tegarnya, begitu perkasanya, yang seperti memberikan isyarat kepada bapak itu, hidup harus tegar, hidup harus bergerak &ndash; kalo temanku bilang hijrah &ndash; &ldquo; aku sudah tidak kuat lagi melihat rumah tangga mereka, mau ku suruh pindah saja, tidak enak, mereka adalah anak dan menantuku sendiri, apalagi kalau melihat cucuku, aku jadi tidak tega, atau&hellip;&rdquo;, pikir &nbsp;pak tua itu.Terbayang anak perempuan pertamanya yang sekarang ikut suaminya di Kalimantan, bekerja di perusahan batu bara, bagaimana keadaan Susi&hellip;, apakah mereka bahagia, ataukah seperti rumah tangga adiknya &ndash; Dika - yang selalu bertengkar,&hellip;. gumamnya. Susi terakhir datang waktu ibunya meninggal, dia datang sendiri tanpa anak dan suaminya, suaminya tidak dapat izin dari atasannya, sadangkan anaknya yang kelas tiga SD sedang ulangan semester, hampir satu bulan dia menemani ayahnya setelah ibunya meninggal, kemudian dia kembali ke Kalimantan karena kasihan dengan anaknya, kalau ditanggalkan terlalu lama, kata Susi waktu itu, &nbsp;sekarang sudah hampir tujuh bulan.Ayah&hellip;saya berangkat dulu&hellip;, menantunya pamit, membuyarkan lamunannya, tidak biasanya begitu, biasanya berangkat&hellip; ya.. berangkat saja, datang&hellip; ya&hellip; datang tidak ada salam, tidak ada basa - basi. Sedang istrinya masih memandikan anaknya sambil ngomel bagai memandikan anak sekampung saja. Pak tua tidak menyahut ucapan menantunya itu, matanya terus menatap mentari yang semakin naik bergerak, sesekali dia menoleh ke tangan kirinya seolah - olah melihat jam tangan, yang sebenarnya tidak ada. Dia teringat sewaktu masih aktif, semua anak buahnya begitu hormat kepadanya, setiap perintahnya selalu ditaati, tidak saat sekarang ini jangankan bekas anak buahnya, anak menantunya sendiri yang menumpang di rumahnya, tidak ada rasa hormat samasekali kepadanya, &ldquo; apa yang salah pada diriku&hellip;!, gumamnya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi empuknya, sambil memejamkan mata, pikirannya terus melayang ke sana &ndash; kemari, entah apa lagi yang ia pikirkan.***Allahu akbar..Allahu akbar, pak tua kaget dari kursinya, wah.. sudah siang, lama sekali aku tertidur&hellip;.., dia bicara sendiri. Dia memegang perutnya sambil beranjak ke luar kamar, terus berjalan menuju ruang makan, dia perhatikan meja makan tidak ada apa &ndash; apa, tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, bersih dan sangat bersih, terus ia melangkah ke dapur, di dapur pun bersih tidak ada bekas memasak, dia kembali ke ruang makan dan membuka lemari es. &nbsp;Kosong&hellip;, juga tidak ada sesuatu yang dapat ia makan. Dia mendesah panjang&hellip;..kembali dia duduk di kursi meja makan, sambil meletakkan kedua tanganya di kepala, &nbsp;&ldquo; Ahh &hellip;.cari makan ke luar aja&hellip;&rdquo;, gumamnya. - sebenarnya ini bukan kali pertama dia harus makan di luar, bahkan hampir setiap hari, sejak istrinya meninggal dunia - Dia ganti pakaiannya dengan memakai kemeja lengan panjang warna putih agak kecoklatan dengan garis-garis vertikal dan celana panjang hitam, dia membuka dompet melihati isinya, lalu dia masukkan lagi ke saku belakang celananya, dan mengambil jam tangan, jam tangan mahal pemberian salah seorang koleganya, kemudian dia memakai di lengan kirinya.Dia melangkah ke kamar menuju pintu ruang tamu, sembari melihat jam tangannya, di depan pintu dia terdiam sejenak, lalu membuka pintu dan langsung beranjak ke luar, setelah mengunci pintu, kuncinya dia letakkan di pot bunga, ini sudah menjadi kebiasaannya, anak menantunya sudah tahu, kalau datang rumah terkunci dia langsung mencari kunci rumah &nbsp;di pot bunga itu, dengan jalan kaki, tidak terlalu lama &ndash; mungkin sekitar lima menit &ndash; dia sudah sampai di warteg langgananya.Selamat siang pak Yamin !!!Salamat siang !, jawabnya lesuBapak sakit ya..?Ah&hellip;tidak, Tapi bapak sepertinya&hellip;, belum selesai bu Inah bertanya, langsung dipotong oleh pak Yamin, &ldquo;saya baru bangun tidur, tadi malam saya susah tidur &ldquo;.Oh &hellip;saya kira bapak sakit, pesan apa pak ?Seperti biasa &hellip;, jawab pak Yamin singkat, bu Inah - pemilik warung sudah hafal dengan pesanan pak tua -, dengan cekatan bu Inah menyiapkan pesanan pak tua. Bu Inah juga sudah mengerti kalau pak tua makan di warungnya, dia berani memastikan anak pak tua di rumah tidak masak.Selesai makan pak Yamin, langsung membayar harga makanannya, dengan mengeluarkan uang lima puluh ribuan.Maaf pak Yamin, saya belum ada kembaliannya&hellip;Simpan saja dulu, untuk makan nanti&hellip;Tapi ini terlalu banyak pak..Enggak apa &ndash; apa&hellip;, jawab pak Yamin sambil berlalu, bu Inah mengamati langkah pak Yamin sampai hilang dari penglihatannya, entah apa yang ada dalam benak bu Inah.Pak Yamin terus berjalan, namun arahnya bukan kembali rumahnya, dia melankah pelan entah mau kemana, sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah berapa tukang ojek yang menawarkan jasanya, namun semuanya di tolak oleh pak Yamin, dia terus melangkah dan melangkah.Tepat simpang empat pak Yamin diam terpaku, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, sepertinya ragu untuk menentukan arah mana yang akan di tuju, akhirnya ia memutuskan jalan lurus, dia menyeberangani jalan tersebut dengan agak tergesa. Matahari sudah mulai turun menuju arah barat, pak Yamin terus berjalan, sesekali dia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Di sebuah kios kosong pak Yamin duduk istirahat, rasa lelah sudah merayapi seluruh tubuhnya, pak Yamin sambil menyandarkan diri pada tiang kios yang sudah reot, dia memejamkan matanya, dia kaget dan terbangun begitu kucing hitam yang sedang berlari menerpa kakinya. Pak Yamin berdiri sambil meregangkan otot &ndash; ototnya yang sudah kaku, sesaat sebuah angkutan desa lewat, spontan pak Yamin memanggil mobil angkutan desa itu, tanpa tanya dan basa &ndash; basi pak Yamin naik saja, di dalam mobil itu ada tiga orang penumpang, seorang pemuda dengan celana jean lusuh, kaos oblong bertuliskan rock yang duduk di kursi paling belakang dan dua orang perempuan setengah baya duduk di depan di samping sopir, pak Yamin lang memilih duduk di kursi tengah.&ldquo; Kemana pak ? &ldquo;, tanya sopir, pak Yamin tidak menjawab, &ldquo; bapak mau kemana ? desa mana ?, kampung mana ?&rdquo; tanya sopir itu lagi dengan sedikit kesal. &ldquo; bawa saya sampai terakhir perjalanan angkutan ini &ldquo;, jawab pak Yamin, sopir itu geleng &ndash; geleng kepala sambil menggerutu tidak karuan, perempuan yang di depan menoleh memperhatikan pak Yamin, namun pak Yamin tidak menghiraukan dengan tatapan perempuan itu.Kurang lebih tiga jam perjalanan mobil angkutan telah memasuki gerbang desa, perempuan yang di depan satu orang turun dan menyerahkan uang dua puluh ribu kemudian sopir menyerahkan kembaliannya uang lima ribu, tidak berapa lama pemuda yang duduk di kursi belakang yang turun, sesaat mobil angkutan jalan pelan mata pak Yamin tertuju sebuah tanah lapang dengan ditumbuhi ilalang, anak &ndash; anak dengan gembiranya bermain bola di tanah lapang itu, &ldquo; stop pak, saya turun disini saja &ldquo;, pak Yamin menyerahkan uang satu lebar seratus ribu.Pak ini kembaliannya&hellip;!, Ambil saja semuanya&hellip;!, jawab pak Yamin sambil berlalu&nbsp;&nbsp; menuju anak &ndash; anak yang bermain bola, sopir itu kaget, mulutnya terbuka lebar, seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ledahya kelu, kemudian dia mencium uang itu berkali &ndash; kali, &ldquo; terimakasih pak &ldquo;, namun pak Yamin sudah tidak mendengar lagi ucapan pak sopir.Siapa bapak tadi ?Malaikat kali&hellip;! Jawab perempuan yang di samping pak sopir singkat.Matahari kian mendekati ufuk barat, pak Yamin masih duduk pada sebuah bongkahan batu memperhatikan anak &ndash; anak yang bermain bola, kadang &ndash; kadang dia ikut juga berteriak sambil meberikan dukungan kepada anak &ndash; anak itu, entah yang mana yang dia dukung, karena siapapun yang bikin gol dia selalu bersorak gembira. Hari mulai gelap anak &ndash; anak pun berhenti bermain, pak Yamin menyalami semuanya, &ldquo; kamu hebat&hellip;,, kamu hebat&hellip;, kamu mantap&hellip;, kamu luar biasa &rdquo;, semua anak &ndash; anak mendapat pujian. Begitu anak &ndash; anak tadi menghilang dari pandangan pak Yamin, kembali raut muka pak Yamin menampakkan kesedihan dia kembali merasa sepi, kemudiaan dia berjalan pelan, tidak jauh dari tanah lapang itu ada sebuah pos ronda, pak Yamin langsung menuju pos ronda, sesampainya di pos ronda dia merebahkan diri, matanya menerawang jauh.Rekaman kehidupannya saat hidup bersama istrinya, puluhan tahun yang lalu, pertama kali bertemu dengan calon istrinya secara tidak sengaja, seperti biasa Yamin muda pulang kuliah naik bis kota, hari itu kebetulan kuliah kosong, karena dosennya sedang ke luar kota, Yamin muda ke luar dari kampusnya di depan kampus dia berdiri, begitu sebuah angkot lewat Yamin menyetop dan naik, kalau Yamin naik angkota berarti dia tidak pulang, kalau bukan ke pasar atau ke perpustakaan. Di dalam angkot hanya ada seorang penumpang wanita muda, Yamin duduk pas berhadapan dengan wanita itu, sekilas Yamin menatap wajah wanita itu pada saat bersamaan wanita itupun menoleh kea rah Yamin, akhirnya mereka saling tatap, Yamin menganguk sambil tersenyum, wanita itu pun tersenyum.Yamin&hellip;! Yamin muda memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kananya, &ldquo; Hasan &ldquo; jawab wanita itu, menyambut uluran tangan Yamin.Mau kemana ?Perpustakaan !Oh kalau begitu sama, saya juga mau ke perpustakaan.Sejak saat mereka berdua sering bertemu di perpustakaan, setelah Yamin wisuda dia melamar gadis itu, dua bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan.***Senja yang cerah disaat mentari mulai sujud ke hadirat Ilahi, matanya yang tajam&nbsp; memancarkan sinar keemasan, sembari tersenyum lembut mengucapkan salam pamit dan berharap besok akan berjumpa lagi kepada semua mahkluk bumi, seiring dengan itu datang rembulan menyapa, disambut suara azan dari sebuah surau di desa yang damai, di tengah sebuah ladang yang tadi sore tempat anak &ndash; anak bermain bola, namun agak berbeda di sekelilingnya berjejer pohon &ndash; pohon yang rindang, begitu menyejukkan, di jalan setapak tak beraspal para hamba berduyun &ndash; duyun menuju Surau; para pria dengan pakaian putih dan berpici putih, sedangkan wanitanya berbaju panjang putih dan jilbab putih, &nbsp;&nbsp;anak &ndash; anak yang tadi siang main bola asyik&nbsp; bermain kejar &ndash; kejaran di halaman Surau dengan penuh kegembiraan, para hamba yang lewat itu sambil tersenyum kepada pak Yamin yang sedang duduk di sebuah pos ronda, pak Yamin agak kebingungan melihat orang &ndash; orang yang lewat menuju Surau tersebut, &ldquo; kok banyak sekali, apakah surau itu mampu menampung jamaah sebanyak itu&hellip;&ldquo;, gumam pak Yamin, dia terus memperhatikan para jamaah yang lewat menuju surau, satu persatu memasuki surau, padahal menurut perkiraan surau yang hanya berukuran sekitar lima kali lima meter itu sudah penuh, tentu yang datang belakangan tidak akan kebagian tempat, tapi nyatanya semua masuk dan tidak ada jamaah yang di luar, pak Yamin makin penasaran, beberapa kali dia mengocek matanya, apakah dia tidak salah lihat, semakin lama, semakin bertambah jamaah yang datang. &ldquo; apakah aku bermimpi &ldquo; gumam pak Yamin lagi. &ldquo; sejak kapan Surau itu ada, tadi hanya tanah lapang tempat anak &ndash; anak bermain bola, dan pohon besar yang tumbuh di sekitar tanah lapang itu&hellip;, ah&hellip; &ldquo; gumam Pak Yamin.Sekilas diantara jamaah perempuan yang lewat itu seperti ada yang dia kenal, lama dia memperhatikan, dan perempuan tersebut tersenyum kepadanya, &ldquo; ah&hellip;itu sepertinya istriku &ldquo;,gumam pak Yamin, semakin dia perhatikan, semakin yakin, &ldquo; betul dia istriku &ldquo;, gumam pak Yamin, segera dia beranjak dari duduknya dan mengejar perempuan tersebut, setelah agak dekat pak Yamin memanggilnya, &ldquo; Sanah&hellip;!!!, perempuan tersebut menoleh dan tersenyum sambail terus berjalan dan masuk ke Surau itu, pak Yamin terus mengejar sampai di depan Surau, dia diam terpaku, melihat suasana di dalam, yang jauh berbeda dengan yang di luar Surau, dalam Surau tersebut &nbsp;sangat luas, sejauh mata memandang hanya lautan manusia dengan berpakaian serba putih sedang duduk rapi, tanpa suara, senyap, dalam Surau tersebut terang benderang bagai di siang bolong, sebenarnya tidak terlihat adanya lampu penerang. Pak Yamin semakin bingung, tempat apa ini, di mana sebenarnya.Di tengah jamaah ada seorang yang berpakaian gamis putih dengan sorban putih, berjenggot sampai dadanya, sedang memberikan tausiah, semua jamaah dengan tekun mendengarkan, diantara tausiahnya yang dapat di tangkap oleh pak Yamin:&nbsp;Hidup membawa sebuah keinginan - kebahagian yang hakiki -, benarkah ?. Perjalanan hidup yang sudah diatur skenario sang sutradara agung, benarkah ?. tidak adakah campur tangan sang pemain, atau mati bagaikan wayang yang seutuhnya diatur oleh sang dalang. Padahal ada kudrat dan iradatNya yang memberikan pilihan antara ashabul yamin dan ashabussimal, berarti ada pilihan, siapa yang menentukan pilihan, padahal sang Pengatur memberikan pilihan dengan memberikan akal dan hati, memberikan tuntunan untuk memilah dan memilih melalui kekasihNya yang terpilih, masih adakah pilihan ?. Setiap detik perjalan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kenapa dan untuk apa. Manusia hanya seorang musafir yang menuju pemberhentian demi pemberhentian sampai kepada pembuktian antara hak dan bathil, tentunya semua berharap mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya menuju kebahagiaan hakiki, berarti ada pilihan !.Dalam perjalan yang pendek Sembilan bulan menuju perjalanan yang juga pendek antara enam puluh dan tujuh puluh tahun &ndash; yah.. ada yang lebih sih, tapi yang kurang justru lebih banyak &ndash; sampai pada perjalanan yang stagnan menuju pertanggung jawaban di pengadilanNya, disinilah ditentukan kanan atau kiri, kebahagian hakiki atau penyesalan yang tak bertepi. Berarti ada pilihan !, siapa yang menentukan pilihan ?, pemain atau sutradara ?. padahal katanya semua sudah diatur, sebelum ruh ditiupkan sudah ditulis dalam buku skenario besar lauhulmahfuz, setiap keluar masuknya nafas, langkah kaki dan ayunan tangan, hidup dan mati semua sudah diatur &hellip; ,bahkan daun kering yang jatuhpun sudah diatur.Kalau begitu, apakah hanya mengikuti alur cerita saja tanpa ada pilihan, mengalir bagai air dari lereng gunung menuju lembah dengan riak yang memekakkan telinga, menghempaskan batu cadas, menyeret karang membentuk sebuah danau yang akhirnya diam, begitukah ?. Tapi kenapa ada perintah dan larangan, ada baik dan buruk, apakah itu pilihan atau hanya perputaran waktu yang sudah diatur seperti siang dan malam yang membentuk jadi hari, perputaran hari menjadi minggu tersimpul dalam bulan dan kembali lagi keawal namanya, silih berganti menjadi tahun yang tak tergantikan terus berlanjut sampai akhir riwayat hidup ini, begitukah hidup ini ?.Sang kekasihNya menyampaikan: kita terlahir dalam keadaan fitrah, tergantung setelahnya diisi dengan warna apa, dalam tubuh ada hati dalam hati ada nurani, bisikannya yang sangat halus menuntun kepada kebaikan, dalam kepala ada otak yang terbagi otok besar dan kecil, otak besar terbagi kanan dan kiri, memberikan pertimbangan yang rasional, agar tidak salah melangkah. Hati dan otak bersenergi untuk menentukan pilihan, namun ada juga nafsu yang ikut campur dalam pilihan ditambah lagi makhluk yang satu-satunya dan yang pertama yang dengan kesombongannya membangkang sang Penguasa, mencari teman menuju kehancuran, begitu terbuai dengan ajakannya &ndash; terseret - dia tidak bertanggungjawab atas pilih kita, dia akan berkata aku hanya mengajak, kamu yang menentukan, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri dengan pilihanmu, masih adakah pilihan ?. Kalau ingin kebahagian yang hakiki ikutilah kitabullah dan sunnahku, kata al Mustofa yang mulia, berarti ada pilihan, ya memang ada pilihan, walau hidup sudah diatur oleh sang Pengatur namun ketentuan memilih ada pada pemain, dengan petunjuk yang diberikan dengan hati dan otak untuk menentukan pilihan, hanya sampai disitukah dengan pilihan yang dipilih dapat menentukan kanan atau kiri, tidak !, pilihan hanya pembuktian sebagai hamba, pilihan hanya menunjukan kedaifan sebagai hamba, dengan penghambaan itu mengharapkan keridlaanNya dengan ridlaNya akan terpilih mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.Pak Yamin bingung apa maksud dari tausiah tersebut. Sebenarnya Dia ingin sekali masuk, namun tidak bisa menggerakkan kakinya, tangannya ingin menggapai sesuatu yang tidak jelas, sesaat terdengar suara yang begitu berwibawa &ldquo; kamu belum bisa masuk ke surau ini, karena pakaian mu masih kotor&hellip;&rdquo; pak Yamin menoleh ke kiri dan ke kanan lalu ke atas, mencari dari mana asal suara itu, dia tetap berusaha untuk masuk, karena ingin menemui istrinya yang ada di dalam surau, tapi tetap tidak bisa, dia hanya mampu memanggil istrinya &ldquo; sanah &hellip;..sanah&hellip;sanah &rdquo;.Pak &hellip;, pak&hellip;, bangun pakPak Yamin kaget membuka matanya, dia melihat ke sekelilingnya, dia masih bingung, &ldquo; bapak tadi ngigau, sambil menyebut nama &ndash; sanah -&rdquo;, &nbsp;jelas seorang pemuda yang tadi membangunkan. Pak Yamin memperhatikan tanah lapang yang tadi sore tempat anak &ndash; anak bermain bola dengan sinar cahaya bulan yang terang, tampak jelas di tanah lapang itu tidak ada Surau-nya.Bapak mau kemana dan dari mana ? tanya pemuda itu, pak Yamin menatap wajah pemuda itu, dia tidak menjawab pertanyaan pemuda itu, namun&hellip; &ldquo; sepertinya saya pernah lihat kamu nak &ldquo;, gantian pemuda itu yang bingung, dengan ucapan pak Yamin. &ldquo; aku baru ingat, kamu tadi sore yang dari kota naik mobil angkutan desa &ldquo;, pemuda itu tambah bingung dengan penjelasan pak Yamin.Maaf pak, saya belum pernah ke kota dan sudah satu tahun saya tidak pernah naik mobil, jawab pemuda itu&hellip;Tapi saya ingat betul, dengan celana kamu, kamu duduk di kursi paling belakang&hellip;,Sekali lagi saya mohon maaf pak.., dari pagi sampai sore hari saya di sawah. Giliran pak Yamin yang bingung, pertama dia bermimpi melihat sebuah Surau di tengah tanah lapang dengan jamaah yang serba putih, sekarang pemuda yang dia yakini yang ada di mobil angkutan ternyata lain, &ldquo; ok.., kita lupakan masalah itu, sekarang perut saya lapar, saya mau makan, tolong antar aku dimana warung nasi &ldquo;, pinta pak Yamin. &ldquo; di desa ini tidak ada warung nasi kalau bapak mau makan kita ke rumah saya saja, kebetulan tadi ibu saya masak banyak &ldquo;, jawab pemuda itu sambil meraih tangan pak Yamin, tanpa pikir panjang karena perutnya yang sudah minta diisi, pak Yamin beranjak mengikuti pemuda itu. Pak Yamin berjalan menuju rumah pemuda itu memasuk sebuah gang dengan jalan yang tidak beraspal, di desa ini belum ada aliran listriknya, jadi agak gelap hanya &nbsp;cahaya bulan yang menerangi perjalanan mereka berdua, terkadang cahaya rembulan tertutup rindangnya pohon beringin yang tumbuh di pingir jalan, pak Yamin jalannya sangat hati &ndash; hati, tidak dengan pemuda itu dia sudah hafal dengan jalan ini, beberapa kali pak Yamin tertinggal jauh, dengan agak berlari pak Yamin mengimbangin jalannya pemuda itu, di sebuah tikungan pemuda itu hilang dari pandangan pak Yamin, pak Yamin bingung kemana pemuda tadi, pak Yamin mengikuti saja jalan yang ke kiri dengan agak tergesa, tanpa sepengetahuan pak Yamin kakinya tersangkut sebuah akar pohon dan dia jatuh. Pak Yamin berusaha bangkit dengan susah payah, setelah agak tegak berdiri, suasana di sekitarnya agak gelap, hanya ada cahaya samar &ndash; samar dari luar, pak Yamin tambah bingung, &ldquo; ini seperti sebuah ruangan &ldquo;, gumamnya, dia meraba ke dinding dan berjalan menyisiri dinding itu, lalu dia menyentuh sebuah tombol, seketika ruang itu menjadi terang, karena lampu ruang itu menyala, pak Yamin tambah bingung dia masih di kamarnya. baru pak Yamin menyadari dia tidur sejak tadi siang di kursi goyangnya dan terajatuh. Sejenak dia kembali duduk di atas kursi goyangnya, sambil mengingat - ngingat mimpi di atas mimpinya, yang paling terngiang diingatannya adalah isi tausiah yang disampaikan di Surau dan sebuah suara yang dia tidak tahu dari mana asalnya, meski dia masih belum mengeri maksud isi tausiah dan suara tersebut, tapi membuat hatinya terbuka &nbsp;&ldquo; ohh&hellip; Gusti, selama ini hamba melupakan-Mu, ampunilah hamba, mulai saat ini hamba akan selalu melaksanakan perintahmu dan menjauhi semua larangan-Mu, pak Yamin beranjak ke keluar kamarnya di ruang tamu juga gelap lampunya tidak dihidupkan, begitu juga di teras, &ldquo; mana Deka dan suaminya, apakah mereka belum pulang &hellip;?&rdquo; gumam pak Yamin sambil menghidupkan lampu teras dan ruang utama sembari berjalan menuju ke kamar mandi kemudian pak Yamin membasuh mukanya lalu berwudlu, yang selama ini jarang sekali dia lakukan, sejak dia menjadi seorang pejabat, dia hanya dua kali dalam setahun shalat, itupun karena malu dengan teman - teman sekantornya, karena shalat di laksanakan di halaman kantornya. Setelah selesai shalat pak Yamin terbayang seandainya dia meninggal pada saat masih melupakan Tuhan, ada perasaan ngeri dan airmatanya meleleh, dengan suara lirih dia mengangkat kedua tangannya &ldquo; terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesempat buatku untuk hidup lagi&ldquo;. Pak Yamin larut dalam penghambaan dan sudah tidak merasakan lapar lagi meski satu hari penuh belum makan.Kotabaru, 23 Agustus 2010.<br />&nbsp; ]]></description>
</item>
<item>
<title>Sapaan di pagi hari....</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/sapaan-di-pagi-hari.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/sapaan-di-pagi-hari.html</guid>
<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 15:50:31 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ Pagi ini 2 anak laki-laki dengan baju yang kotor dan maaf aroma tubuh  nya pun agak menyengat penciuman naik ke angkutan umum yang aku naiki.  Setiap hari nya mereka biasa mengamen atau meminta-minta belas kasihan  di KRL Jabodetabek. Pagi tadi mereka bergelantungan di pintu angkot dan  menyapa sang supir berharap mendapat tumpangan hingga ke stasiun.<br />&nbsp;Sang supir mengijinkan mereka untuk naik dan duduk di bangku namun setelah terlebih dahulu membentak-bentak mereka.<br />&nbsp;<br />"  Naik-naik jangan dipintu lo ntar jatoh gue yang disalahin!!!! Pagi-pagi  bikin emosi lo...mancing org puasa aje!!!Anak mane sih nakal  bener!!!!Emak Bapak lo kaga ngajarin yang bener kali ya" Dalam hati ku  aku hanya bergumam, mereka hanya bermaksud menumpang tapi kenapa harus  disapa dengan tuduhan yang berlebihan.<br />&nbsp;<br />"Kak minta uang  buat makan dong......" sapa sang adik dengan muka yang mengiba. Sambil  ku keluarkan uang seribu rupiah aku merasa tertarik untuk mengajak  mereka mengobrol.<br />" Kamu gak puasa?" tanya ku pada sang adik.<br />"Gak...."jawab nya singkat sambil menunduk malu.<br />"Aku puasa kak....."dengan nada bangga sang kakak menyela percakapan kami.<br />&nbsp;<br />Aku  mulai bertanya-tanya dimana rumah mereka, apa pekerjaan orang tua  mereka,apakah orang tua mereka tau apa yang mereka kerjakan dan apakah  mereka bersekolah. Miris rasa nya aku mendengar cerita yang keluar dari  mulut mereka karena ternyata ibu mereka hanya sebagai tukang cuci dan  setrika keliling namun yang membuat ku lebih miris lagi adalah karena  ayah mereka tidak bekerja dan terkadang mabuk dengan teman-teman nya.<br />&nbsp;<br />Terlepas  dari kejujuran yang tidak bisa aku pastikan dari dua anak laki-laki ini  namun aku mulai berfikir kemana hati nurani ayah mereka. Aku sangat  menyadari begitu banyak sesama kita yang hidup jauh dibawah garis  kemiskinan. Tidak mudah bagi mereka untuk bisa hidup dengan  mempertahankan ketulusan hati nurani karena tuntutan kebutuhan yang jauh  lebih mendesak demi kelangsungan hidup mereka. Bahkan kedua anak ini  mungkin masih bisa digolongkan beruntung karena mereka masih memiliki  rumah sendiri dan ibu mereka masih bisa bekerja walaupun dengan  pendapatan yang pasti sangat jauh dari kata cukup.<br />&nbsp;<br />Namun  yang menyulut kemarahan ku justru sosok ayah yang mereka ceritakan.  Seorang laki-laki tanpa pekerjaan dan justru menambah masalah dengan  perilaku nya untuk mabuk. Tidak kah dia berfikir bahwa mungkin uang yang  dia gunakan untuk memuaskan nafsu nya adalah hasil keringat istri dan  kedua anak nya yang justru seharus nya menjadi tanggung jawab nya?  Sebagai pelarian dari beban hidup kah? Tetap saja semua itu tidak akan  pernah bisa dibenarkan. Tidak kah sang ayah melihat betapa kedua anak  nya harus menanggung beban yang berat di jalanan? Mereka harus berjalan  di kereta-kereta, meminta belas kasihan dan pasti tidak hanya sekali dua  kali mereka harus menerima bentakan dan kata-kata kasar dari orang lain  demi uang yang mungkin tidak mereka gunakan sendiri.<br />&nbsp;<br />Sesampai  nya di stasiun mereka berlari dan mulai bergabung dengan beberapa anak  sebaya nya dan bercerita serta bercanda. Melihat gelak tawa mereka tanpa  sadar aku mengucap syukur pada Tuhan karena mereka masih bisa menikmati  masa kecil mereka dengan bermain dan tertawa walaupun mungkin hanya  sekian menit dari waktu yang mereka punya untuk menanggung beban hidup  yang berat.<br />&nbsp;<br />Terima kasih sahabat-sahabat kecil karena  pagi ini kalian telah memberiku pelajaran yang begitu berharga. Sering  kali aku merasa selalu berkekurangan atas hidup ku tapi aku lupa bahwa  anak-anak sekecil kalian telah menanggung beban yang sangat berat namun  kalian masih bisa tetap ceria dan sabar menjalani hari-hari kalian. Dan  karena kalian pula aku belajar bahwa untuk membangun sebuah rumah tangga  tidak hanya semata karena cinta atau kebutuhan fisik namun jauh dari  itu, kehidupan perkawinan kelak harus menanggung tanggung jawab yang  teramat besar. Apalagi saat Tuhan menitipkan mahluk-mahluk kecil seperti  kalian maka peran sebagai orang tua akan menjadi amanah yang tidak lah  mudah.Semoga suatu saat nanti aku bisa membangun rumah tangga bersama  pria yang bertanggungjawab terhadap keluarganya.<br />&nbsp;<br />May God bless u my little brother...... ]]></description>
</item>
<item>
<title>Aku...</title>
<link>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/aku_1.html</link>
<guid>http://cerpen.net/cerpen-motivasi/aku_1.html</guid>
<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 14:48:07 +0700</pubDate>
<description><![CDATA[ Selama ini aku merasa sepertinya aku hanya menjadi orang yang berjalan di tempat tanpa melakukan apapun. Aku hanya bisa menerima tanpa menyelesaikan permasalahanku sendiri. Aku hanya bisa memandang tanpa bisa aku meraih apa yang seharusnya memang pantas untuk ku dapatkan. Aku.. dengan semua keluhanku.<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Ada kalimat tentang kehidupan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Benarkah? Makhluk yang notabene membutuhkan makhluk hidup lainnya. Contohnya adalah lingkungan keluarga. Keluarga mungkin akan menjadi orang yang pertama tahu ketika aku sedang merasa sedih ataupun senang. Itu mungkin dulu ketika aku masih belum cukup dewasa dan masih belum bisa menanggung masalahku. Namun sekarang? Aku telah dewasa, oke, aku perbaiki aku telah cukup dewasa. Ada beberapa hal yang memang semestinya keluargaku tidak perlu mengetahui apa yang menjadi keluhanku karena hal itu tidak akan mengajarkanku untuk bisa bersikap menuju kedewasaan. Aku cukup mengetahui bahwa keluargaku selalu ada buatku dan mendukung aku. Aku juga cukup mengetahui apa yang mereka butuhkan saat ini dan aku harus segera memenuhinya. Aku.. dengan semua keluhanku.<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Contoh lain, aku punya teman, bahkan sahabat. Tidak sedikit tetapi banyak. Mereka rata-rata sebaya denganku. Kalaupun beberapa dari temanku ada yang tidak seumuran toh itu hanya terpaut dua atau tiga tahun. Mungkin jawaban kemana aku harus mengeluh adalah kepada teman atau sahabatku. Tetapi jawaban itu tidak aku temui, karena pada prakteknya aku memang membutuhkan mereka tapi tidak benar-benar membutuhkan dan sebaliknya. Ketahudirian di sini lebih diutamakan. Mengapa? Banyak kejadian yang menjadikan pembatas untuk diriku menelan semuanya sendiri. Niatku yang awalnya ingin bercerita banyak harus ku urungkan. Mereka ternyata lebih banyak membutuhkan aku sebagai pendengar yang baik meskipun aku tak punya solusi untuk mereka. Atau ada beberapa dari mereka yang sudah mempunyai pasangan, aku tetap tidak bisa semena-mena datang dan meminta mereka untuk mendengarkan aku, karena pada kenyataannya mereka yang berpasangan juga memiliki permasalahan yang lebih kompleks ketimbang teman atau sahabatku yang masih sendiri. Aku.. dengan semua keluhanku.<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Contoh yang tak kalah menarik adalah status 'aku-sudah-punya-pasangan'. Contoh ini hanyalah angan-angan saja. Mati rasa? Bukan. Tapi saat ini memang belum ada yang tepat. Terlalu banyak kriteris? Iya. Pernah trauma? Mungkin. Tidak banyak berubah. Anggaplah aku punya pasangan saat ini. Pasti dia akan selalu menjadi orang yang pertama yang tahu semuanya tentang aku. Semuanya tentang apa, siapa, dimana, kenapa, dan bagaimana aku. Dia akan menjadi seseorang yang ku ajak duduk berdampingan denganku tanpa perlu harus merasa malu berekspresi di depannya, serta tanpa ragu meluapkan apa yang sedang ku rasakan saat itu; sedih, senang, kaget, murung, sayang, benci, kesal, dll. Dulu memang ada, tapi sekarang aku tidak bisa lagi meminta hal yang dulu. Sekarang saatnya kembali ke dunia dimana aku berada. Aku.. dengan semua keluhanku.<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Selanjutnya adalah contoh yang memang seharusnya tidak aku lupakan. Ini yang terakhir. Ini adalah contoh setia. Tidak pernah mengeluh tapi selalu menjadi pendengar yang baik bagiku. Tidak pernah marah tapi selalu memaafkanku karena ketidaktahudirianku yang selalu lupa dan hanya datang ketika aku sedih. Tidak pernah mempunyai nilai negatif terhadap aku, karena Dia selalu menuntun hamba-hambanya dan yakin bahwa hamba-hambanya pasti bisa melewati rintangan di dunia ini. Hanya saja, jujur, sebenarnya aku malu atas keadaan dimana aku tidak menjadikan-Nya prioritas ketika aku mengeluh padahal Dia banyak tahu dan membantuku selama ini, terutama ketika aku bergembira. Aku merasa kata 'maaf' dariku untuk-Nya saja tidak cukup. Aku malu. Inilah hubungan aku dengan Tuhanku. Aku.. dengan semua keluhanku.<br />***<br />&nbsp;<br />Sebuah tulisan tangan yang tulus inspired by life.. #warmshugs<br />crtd by: thanku ]]></description>
</item>

</channel>
</rss>

