CERPEN : It's for my Love 2
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Almas
Total cerpen di baca: 852
Total kata dlm cerpen: 3639
Tanggal cerpen diinput: Mon, 1 Feb 2010 Jam cerpen diinput: 12:52 PM
1 Komentar cerpen
<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Comic Sans MS"; panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
Olan memperlihatkan foto-foto yang ia ambil semalam pada Cisa. Sedangkan Ardam sibuk melayani pembeli yang berkunjung ke distro siang itu. “Foto ini cukup kan jadi bukti.” ucap Olan.
“Bukti apa!! Udah hapus aja!!!” sahut Ardam dengan menunjukkan wajah tidak suka setelah melayani pembeli.
“Maksud gue, kita kasih liat foto-foto ini ke Denia biar di tau siapa Dandi sebenarnya.” jelas Olan.
“Gue bilang hapus!! Gak usah di kasih liat ke Denia!!” ucap Ardam sewot. Bukannya dia tidak mau memberi tahu Denia tentang kebenaran ini, tapi ia tidak ingin melihat Denia sakit hati dan menangis karena foto-foto itu.
“Kamu kenapa sih Dam? kok jadi temperamen gini.” tanya Cisa “bukannya kamu gak mau Denia tambah sakit hati?. Dengan foto itu kita bisa beri tau Denia dan….”
“Udahlah!! Sini biar gue yang hapus sendiri!!” Ardam memotong pembicaraan Cisa dan merebut paksa hand phone Olan.
“Dam!!! elo kenapa sih?!” hardik Olan, apa yang sebenarnya Ardam pikirkan? tanya benaknya.
Tanpa memerdulikan Olan dan Cisa, Ardam tetap menghapus semua gambar Dandi dan Gea semalam. Setelah itu ia letakkan hand phone di atas meja dan kini ia terduduk lemah.
“Ardam.” Cisa meminta penjelasan atas semua sikapnya.
“Dengan kasih foto-foto itu kita sama aja nyakitin Denia, Sa.” ucap Ardam. Matanya berkaca-kaca, batinnya menahan perih.
“Gak, Dam!” sanggah Cisa “justru dengan begini Denia gak akan ngerasain sakit hati sesakit kamu.”
“Lo pikir dengan diam kayak gini nantinya Denia gak akan sakit hati?” tambah Olan, “Denia akan lebih sakit hati lagi kalo dia tahunya nanti-nanti!!”
Khawatir, bingung, kesal, tergambar jelas di raut wajah Ardam. Tidak ada satupun suara di distro kala itu, semuanya diam terpaku. Hening.
☺☺☺
Sebja mulai berlalu. Tapi, Olan masih sibuk dengan lap top-nya.
“Sorry Dam, tapi gue lakuin ini buat lo.” Gumam Olan.
Tanpa sepengetahuan Ardam, Olan sudah menyimpan foto-foto Dandi di lap top sebelum Ardam menghapus semua foto itu di hand phone-nya. Dan sekarang Olan telah menyulapnya menjadi lembaran-lembaran foto yang akan ia berikan pada Denia. olan akan tetap melaksanakan rencana awalnya meski tidak mengantongi restu dari Ardam. Dia hanya tidak tahan melihat Ardam terus seerti orng yang kehilangan segalanya dan tidak akan menemukannya kembali. Dia berharap Denia bisa membuka mata hatinya agar ia tahu siapa yang sebenarnya tulus mencintai dirinya.
Tanpa buang waktu, malam ini Olan langsung meluncur ke rumah Denia. sebenarnya masalah antara Ardam, Denia dan Dandi, sama sekali bukan masalah Olan. Namun, rasa solidnya terhadap Ardam lah yang membuatnya melakukan ini. Dan akhirnya Olan sampai di rumah Denia. Olan menunggu Denia di teras sambil bersiul-siul ria.
“Olan, tumben ke sini. sendiri?” sapa Denia yang baru saja muncul membawa dua gelas minuman.
“Eh Den, iya nih. Ada yang mo gue omongin sama lo.” sahut Olan.
Denia mengerutkan keningnya. Palingan Olan bawa berita tentang Ardam lagi, pikirnya.
Setelah sedikit basa-basi, Olan pun mulai menyampaikan maksud dan tujuannya datang menemui Denia.
“Lo sama Dandi baik Den?” tanyanya. Tiba-tiba rasa tidak enak hati menghampirinya.
Denia mengangguk, “ya, baik-baik aja, kenapa?” tanya Denia heran, tidak biasanya Olan membahas Dandi.
Olan berdehem, “sebelumnya gue sorry banget Den, gue gak ada maksud buat ngerusak hubungan lo atau gimana. Tapi, gue rasa lo perlu tahu ini.” ucap Olan dengan hati-hati kemudian menyerahkan sebuah amplop cokelat pada Denia. “Ini gue ambil semalam sebelum Dandi nemuin lo.” lanjutnya.
Olan membuat Denia bingung.”Ini apa, Lan?” tanya Denia, ia pun ragu untuk membuka dan melihat isi amplop yang diberikan Olan.
“Itu, itu… ntar lo liat aja sendiri. Sekali lagi gue minta maaf, gue cuma mau lo tau yang sebenernya” ucap Olan, “gue ulang dulu ya, Den.” lanjutnya. Ia pun segera bangkit dari duduknya. Sebelum ia benar-benar pergi, Olan berkata,
“apapun yang gue lakuin sekarang itu atas kemauan gue sendiri dan ini sama sekali gak ada hubungannya dengan Ardam, dia gak tau apa-apa soal ini.”
☺☺☺
Tubuhnya bergetar, ia rasakan hatinya yang hancur seketika. Haruskah ia percaya dengan semua ini? Masih haruskah ia berpositif thinking akan semua kemesraan Dandi dengan seorang gadis sebayanya yang tidak lain adalah Gea pada foto itu?. Di kamarnya ia biarkan air mata itu terus mengalir, sambil terus menatap lekat-lekat foto yang diberikan Olan, berharap bahwa itu bukan Dandi. Tapi, yang menggenggam tangan gadis itu, yang merangkulnya, yang memeluknya dan yang mencium keningnya, itu Dandi.
“Gak! Dandi gak mungkin ngelakuin ini!! Ini bukan Dandi!!” sanggah Denia, namun dirinya tidak bisa mengelak lagi, cowok yang ada di foto itu memang Dandi, pacarnya.
Sekarang Denia mengerti mengapa Ardam membuat Dandi babak belur, ia mengerti semua maksud Ardam yang selama ini menjadi teka-teki untuknya, ia pun mengerti maksud kata-kata Olan tempo hari, “lo yakin dia masih single waktu dia nembak lo?”. Kini Denia sadar posisinya hanyalah sebagai seorang selingkuhan. Pantas saja saat yang lain menemui pasangannya, Dandi tidak pernah menemuinya karena ia tidak lebih dari orang ketiga. Dan yang paling ia mengerti adalah bagaimana perasaan Ardam saat melihat dirinya sedang berciuman dengan Dandi. karena saat ini ia pun sedang merasakannya. Merasakan hancur dan sakitnya dikhianati.
☺☺☺
“Lan, gue pinjem catetan lo dong.” pinta Ardam ssetelah kelas baru saja selesai. Hanya ada dia, Olan dan beberapa temannya yang masih duduk di kelas. Olan melempar tasnya ke arah Ardam, “lo cari aja, lagi nanggung neh.” ucapnya sambil terus bermain game di hand phone.
“Ah, dasar lo!!” gerutu Ardam, ia pun membuka tas Olan dan mencari catatan yang ia maksud. Ardam tetegun, bukan catatan yang ia temukan tapi beberapa lembar foto Dandi yang seingatnya telah ia hapus. Ardam segera mendekat ke Olan lalu menjejerkan foto-foto it di depan Olan. Kaget. Ia lupa bahwa sebagian foto yang ia cetak masih ada di dalam tas.
“Jangan bilang Denia udah tau soal ini?!” tanya Ardam. Olan hanya bisa diam, namun diamnya seolah membenarkan semua.
“Brengsek!!” Ardam segera pergi menuju kelas Denia. sedang Olan tidak bereaksi sama sekali. Hanya sedikit menyesali kecerobohannya.
☺☺☺
Di kelas Denia, suasana ramai dengan suara mahasiswa yang akan mengikuti kelas hari ini. Tapi, dari sekian banyak mahasiswa yang ada Ardam tidak melihat Denia. kemudian ia menghampiri Riri.
“Denia mana, Ri?” tanya Ardam to the point.
“Gak tau, dia gak masuk hari ini. Lo coba telepon aja ke hand phone-nya.” Sahut Riri.
Raut wajah Ardam berubah, ia semakin khawatir. Tanpa basa-basi ia langsung meninggalkan Riri yang hanya bisa bertanya dalam hati, ada apa?.
☺☺☺
“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.” berkali-kali Ardam menhubungi nomor Denia, berkali-kali pula suara operator yang ia dengar. Wajah Ardam kusut, membuat Cisa yang sedang merapikan kembali barang-barang yang berantakkan karena pembeli, bertanya, “kenapa lagi sama Denia?”, Cisa sudah tahu hanya masalah Denial ah yang membuat Ardam kusut seperti sekarang ini.
“Dia udah tau semua, Sa.” Sahut Ardam.
“Kok bisa?” tanya Cisa lagi, karena seingatnya Ardam yang ngotot Untuk tidak memberitahu Denia.
“Olan udah cetak foto-foto Dandi dan dia yang udah beri tau Denia.” aku Ardam, hatinya cemas akan Denia, “hari ini aja Denia gak kuliah, nomornya dari tadi gak aktif, ini pasti gara-gara foto-foto itu, Sa aku takut dia kenapa-napa.” lanjutnya.
Cisa duduk di sebelah Adam, ini bukan kali pertama Cisa menghadapi Ardam yang penuh kekhawatiran terhadap Denia seperti ini. “Mungkin ini memang yang terbaik untuk Denia,” ucap Cisa mencoba menenangkan Ardam, “sekarang, besok atau nanti Denia tau tentang Dandi, hatinya juga akan tetep sakit.”
“Aku tau gimana rasa sakitnya dikhianati Sa,” ucap Ardam “kehilangan orang yang kita sayang juga membuat kita kehilangan semangat. Aku gak mau Denia kehilangan semangatnya, seperti aku.”
“Mungkin ini yang sering disebut orang dengan hukum karma.” sahut Cisa, “percaya atau gak, Denia memang sedang mengalami itu.” lanjutnya.
Ardam tidak menyahut, ia hanya menoleh sekilas lalu menunduk.
“Ayolah Dam, ini bukan akhir dari cerita kok!” Cisa menepuk bahunya, memberi semangat. Ardam tersenyum getir.
“Seandainya aku temui Denia sekarang gimana?” Ardam mulai menerima keadaan yang semula ia takutkan dan mulai mencoba bangkit.
“Ya, gak pa-pa sih, tapi saran saya lebih baik tunggu Denia tenang, kalo sekarang kayaknya dia masih shok takutnya dia malah gak mau nemuin kamu.”
Tanpa banyak komentar Ardam menuruti ucapan Cisa ‘Sang Dokter Cinta’-nya yang menurutnya memang selalu bisa diandalkan.
☺☺☺
Shok, kecewa, sedih dan sesal, kini bersarang di hati Denia. seharian ini ia hanya mengurung diri di kamar. Orang tuanya yang tidak tahu duduk perkara masalah Denia pun tidak bisa melakukan banyak hal, adik laki-lakinya yang masih kelas 4 SD masih terlalu kecil untu mengerti masalahnya. Seolah tidak ada satupun yang mengerti dirinya saat ini, ia nikmati kepedihan itu sendiri dan tidak ia biarkan seorang pun mengusiknya. Bahkan hand phone-nya ia matikan sejak semalam. Dalam sedihnya, jiwa Denia memberontak. Tidak, dia tidak boleh terus begini. Larut dalam kesedihan tidak akan membantunya menjadi lebih baik. Denia membasuh wajahnya yang sembab karena terlalu banyak menangis. Ia pandangi wajah lusuhnya di cermin.
“Bangun Denia!!!” ucapnya pada diri sendiri, “Dandi hanya bagian kecil dari hidup lo!”
Masalah ini tidak akan selesai jika Denia hanya diam. Ini semua harus diselesaikan sekarang juga!!, tekad hatinya. Denia segera mengaktifkan hand phone-nya dan menghubungi Dandi.
“Halo sayang.” Dandi menjawab telepon Denia seperti biasa, menyenangkan dan penuh kelembutan. Itu dulu, sebelum Denia tahu semua, kini sapaan itu bagaikan menusuk telinga Denia. menyebalkan!!!
“Dan, lagi di mana?” tanya Denia, “ada sesuatu yang harus kita bicarain dan ini gak bisa lewat telepon!!”
“Ada apa sih, yang?”
Ough!! Kalimat manja Dandi membuat Denia ingin segera menutup telepon.
“Udahlah!! Aku tunggu kamu di rumah sekarang juga!!” ucap Denia mulai ngotot.
“Ok, ok! tapi kamu kenapa tiba-tiba marah-marah ke aku gini, sih?” sahut Dandi yang mulai merasa aneh dengan Denia.
“Ya makanya cepet ke sini! kita selesain semua!!” ucap Denia lalu menutup telepon.
☺☺☺
15 menit, 20 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam!. Denia tidak bisa menunggu lagi. Jika Dandi tidak mau menemuinya maka Denia yang akan menemui Dandi. Ia mencangklong tas di bahunya dan segera keluar rumah. Sambil terus berjalan ia kembali menelepon Dandi, namun saat membuka hand phone ternyata ada sebuah pesan yang belum ia baca.
Nomor ini menghubungi anda tgl 04-07 14:25. mohon menghubungi kembali.
Bagitulah bunyi sms dari operator yang memberi tahu bahwa nomor Ardam telah menghubunginya. Denia tertegun, Ardam menghubunginya? masihkah Ardam perduli padanya yang telah menyakiti hati cowok itu?. Sudahlah!! Tujuannya membuka hand phone untuk menelepon Dandi.
“Ya, sayang.” Dandi mengangkat telepon Denia masih dengan gombalannya.
“Lagi di mana? aku kan udah bilang kita harus ketemu!!”
“Iya, ini udah di depan gang, bentart lagi sampe kok.”
“Ya udah aku juga udah deket situ, kamu tunggu aku aja!!” Denia menutup telepon.
Ia terus berjalan di bawah langit yang mulai gelap, hingga akhirnya ia sampai di depan gang tempat Dandi menunggunya. Dandi menyambutnya dengan pelukan tapi Denia menghindar. Dandi dibuat bingung olehnya.
“What’s wrong, Den?” tanya Dandi.
Denia tidak menjawab. Ia ambil foto-foto mesra Dandi bersama sseorang cewek dari dalam tas dan melemparkannya ke wajah Dandi. Ia rasa itu lebih dari cukup untuk jawaban dari pertanyaan Dandi.
Dandi mengambil foto yang sudah berserakkan di tanah. Kaget. Dari mana Denia mendapatkan foto-foto saat ia bersama Gea?. Pikirannya langsung tertuju pada Ardam karena hanya dia yang tahu semua perbuatannya. Meski begitu Dandi tetap mencoba tenang di hadapan Denia.
“Ini apa, Den? Kamu dapet ini dari mana sih? pasti ini kerjaan orang iseng yang gak suka ngeliat kita jalan deh.” ucapnya.
“Harusnya aku yang tanya Dan, siapa cewek itu?!!” hardik Denia, matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Dia pacar kamu kan?! dan aku, aku seliungkuhan kamu!! iya kan?!!”
“Denia, dengerin aku.” pinta Dandi sambil merengkuh bahu Denia yang berdiri di hadapannya, “kamu harus percaya aku. Kamu dapet ini dari Ardam kan? Ardam emang gak pernah suka ngeliat kita berdua, jadi harusnya kamu ngerti maksud dia.” ucap Dandi. ia masih saja mengelak dan menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya sudah terlihat jelas.
“Aku akan berpikir seperti kamu kalo ini semua aku dapet dari Ardam, tapi sayangnya bukan Ardam orang yang kasih foto-foto itu!!” sahut Denia, ia tidak ingin lagi mendengar alasan dari Dandi. Ia hanya ingin Dandi mengakui semua jika ini benar adanya.
“Aku mau kamu jujur Dan!!”
“Tapi Den….” Dandi masih terus mengelak.
“Cukup!!!” jerit Denia, “Cukup Dan! Jangan bohongi aku lagi, aku udah cukup sakit dengan kebohongan yang selama ini kamu buat!!” tangis Denia pun pecah. Bahkan untuk berdiri saja rasanya sudah tidak kuat hingga ia hanya bisa bersandar pada tembok gang. Sedangkan Dandi, ia terlihat pasrah. Semua kebohongannya telah diketahui Denia. tidak ada pilihan baginya, selain jujur.
“Maafin aku, Den.” ucapnya, “kamu benar, semua yang ada di foto ini benar.” aku Dandi sambil memandang foto di tangannya, ia tidak sanggup menatap Denia.
“Kenapa kamu lakuin ini Dan? Apa kamu gak punya hati sampai kamu tega bohongi aku?!” protes Denia di tengah isak tangisnya.
“Awalnya aku Cuma mau have fun aja sama kamu, tapi setelah kamu putusin Ardam karena aku waktu itu, aku gak tau lagi harus gimana.” jelas Dandi, “aku terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya, aku takut kamu terluka, Den. Aku gak seberani kamu yang bisa jujur pada Ardam apapun resikonya. Itulah kenapa aku gak pernah ngelawan waktu Ardam mukulin aku, karena aku tau aku pantes dapet itu! aku emang brengsek!” Dandi mendekat ke Denia.
“Siapa dia?” tanya Denia ingin tahu siapa gadis di foto itu.
“Dia Gea, kita udah setahun jadian dan 3 minggu lagi aku akan tunangan dengan Gea.”
Plak!!! Tangan Denia melayang ke pipi Dandi.
“Denia maafin aku!” inta Dandi.
Denia tidak menggubris permintaan maaf Dandi. Denia mendorong Dandi, lalu berlari ke arah jalan raya. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah menemui Ardam dan meminta maaf padanya.
“Denia!!” Dandi terus memanggil dan mengejar Denia yang kini telah naik taksi dan pergi entah kemana. Dandi pun hanya bisa menyesali perbuatan bodohnya.
☺☺☺
Di dalam taksi Denia terus menangis, ia mencoba menghubungi Ardam tapi nomornya sedang tidak aktif. “Ardam kamu di mana?” lirihnya.
Akhirnya Denia pun memutuskan untuk menghubungi Olan.
“Halo, Lan. Elo sama Ardam gak?/ Lo tau dia di mana?/ hand phone-nya gak aktif./ Di distro, ya udah thanks ya, Lan.”
Denia menarik nafas dalam-dalam. Ia hapus air mata di pipi dan berusaha untuk tidak membiarkannya terjatuh lagi.
“Kita kemana, non?” tanya pak supir taksi.
Denia tesentak, “Ee… kita ke Ada Distro Pak.”
Selang beberapa menit kemudian, Denia sudah ada di depan distro. Ia hapus air mata yang ternyata tetap saja menetes. Perlahan ia melangkah dan membuka pntu distro. Deg!!!. Jantungnya serasa behenti berdetak saat Denia melihat Ardam sedang duduk berhadapan dengan seorang cewek yang tidak lain adalah Cisa, ditambah ia melihat tangan Ardam membelai rambut Cisa. Ardam dan Cisa pun tak kalah kagetnya melihat kedatangan Denia.
Brak!!! Pintu dibanting Denia, ia segera berlari ke arah taksi yang tadi ia tumpangi yang kebetulan belum pergi. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Melihat Denia langsung pergi, Ardam pun segera mengejarnya.
“Denia!!!” teriaknya memanggil Denia sambl terus berlari ke arah Denia. Tapi, terlambat! Denia sudah kabur dengan taksinya.
“Denia!!” teriaknya lagi. Ardam tetap mengejar Denia yang semakin menjauh hingga akhirnya ia tidak kuat lagi. Nafasnya pun terengah-engah.
Ada apa dengan Denia? kenapa tiba-tiba ia datang?, pikirnya. Yang jelas ia tidak ingin Denia salah paham antara dia dan Cisa. Tiba-tiba cahaya lampu motor menyinarinya, motor itu berhenti di depannya. Ardam menoleh, ternyata Olan.
“Dam, tadi Denia nyariin lo.” aku Olan.
“Iya barusan dia pergi sama taksinya.” jawab Ardam masih dengan nafasnya yang terengah-engah.
“Kok pergi? dia nangis-nangis waktu nanyain lo ke gue.”
Nangis?, hati Ardam tersentak. Gue gak boleh biarin dia sendiri, ini pasti ada hubungannya dengan Dandi, gumam hatinya.
“Ah, udah deh. Nih lo bawa motor gue, lo kejar dia!” ucap Olan, karena bagaimanapun ini semua berawal karena foto-foto darinya. Tanpa pikir panjang lagi, Ardam segera mengejar Denia dengan motor Olan sebelum terlalu jauh.
☺☺☺
Ardam menghentikan laju motornya di depan gang menuju rumah Denia, karena di situ ia melihat Denia menyendiri, tampak jelas ia menangis.
“Den,” sapanya, “kenapa lari?” tanya Ardam sambil mendekat ke dirinya. Melihat Ardam, Denia buru-buru menghapus air matanya.
“Ngapain kamu di sini?!” Denia betanya balik tanpa sedikit pun menoleh Ardam “harusnya kamu tetep di distro sama pacar kamu dan jengan pernah ninggalin dia kayak yang pernah aku lakuin ke kamu!!” ucap Denia.
Ardam tersenyum, “Denia,” ia hapus sisa-sisa air mata di pipi Denia dengan tangannya, “tadi itu Cisa, keponakannya Bang Rako, bos aku. Dan dia bukan pacar aku, karena sampai saat ini hati aku masih milik kamu.” kata-kata Ardam mampu menyejukkan Denia yang sedang hancur. “Dan selamanya akan tetap begitu.” tambah Ardam.
Denia langsung memeluk Ardam, sekarang ia sadar kesalahan terbesarnya adalah meninggalkan Ardam yang dengan tulus mencintainya hanya untuk Dandi. Kali ini ia biarkan air matanya terjatuh dan mencurahkan segala rasa yang ada. Ardam pun membalas pelukan Denia, ia biarkan Denia menangis, meluapkan semua perasaannya. Benarkah ia sedang memeluk Denia sekarang? apa ini nyata? Dan jika ini mimpi, Ardam tidak ingin bangun dari tidurnya. Batin Ardam terus bertanya karena ini terasa seperti mimpi. Rasanya Ardam tidak ingin malam ini berakhir.
“Ardam, aku minta maaf atas semua kesalahan dan kebodohan aku kemarin.” ucap Denia setelah ia puas meluapkan perasaannya dipelukkan Ardam. Ardam menatap Denia, “Denia ini semua bukan kesalahan kamu, karena ini semua berawal karena aku.” Ucapnya, Ardam tidak ingin lagi melihat beban apapun pada Denia, “karena aku yang gak bisa ngertiin kamu, aku yang gak bisa bahagiain kamu, aku yang gak bisa luangin waktu untuk kamu, aku yang gak….”
Ardam berhenti bicara saat telunjuk Denia mendarat di bibirnya, Denia menggeleng. “Aku yang bodoh, karena udah percaya dengan bualan Dandi dan sekarang aku tau sakitnya Dam!”
“Inilah kenapa aku gak mau kamu tau semuanya, aku gak mau kamu ngerasain apa yang aku rasa!” ucap Ardam, tangannya menggenggam erat tangan Denia dan tidak ingin melepasnya lagi, “aku gak mau kamu menangis karena Dandi. Aku gak mau kamu sakit hati.” lanjutnya.
“Tapi ini gak fair kalo aku gak ngerasain sakit yang kamu rasa karena aku!” sahut Denia sambil menahan isaknya yang belum juga reda, “bahkan mungkin aku udah terlalu sering buat hati kamu sakit. Maafpun gak akan bisa ngebayar luka kamu.”
“Kata maaf emang gak akan ngegantiin hati aku yang udah terlanjur sakit,” jawab Ardam, mendengar itu Denia semakin merasa bersalah, “tapi, satu senyum kamu sanggup buat hati aku seperti dulu lagi.” lanjut Ardam. Sebuah senyum mengembang di bibir Denia, ia kembali menghempaskan tubuhnya di pelukan Ardam. Betapa lega hatinya mendengar ucapan Ardam.
“Den, apa masih ada kesempatan buat aku untuk mengulang semua dan memperbaiki semua kesalahan yang udah aku perbuat?” tanya Ardam, akhirnya ia mengungkapkan semua harapan yang selama ini ia kira hanya mimpi, “karena jujur sampai saat ini perasaan aku gak pernah berubah, aku masih cinta kamu.”
“Kesempatan itu selalu ada untuk kamu, Dam. dan gak akan pernah aku berikan kesempatan itu pada yang lain.” ucap Denia, ia yakin Ardam lah yang sanggup tulus mencintainya dan tidak akan menyakitinya seperti cinta yang lain. “Dan aku ga bisa bohong, cinta untuk kamu masih tersimpan rapi di hati aku.” ucap Denia lagi.
Ardam memeluk Denia erat, berharap semua tidak akan berakhir. Ardam merasakan hatinya yang hancur menjadi utuh kembali, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia dapat kembali meraih cinta Denia. Begitupun Denia, karena malam ini, setelah merasakan hatinya remuk ia menemukan kembali hatinya yang utuh. Ardam mencium keningnya sebagai tanda ia sangat menyayanginya, Denia pun dapat merasakan itu. di bawah sinar bulan, dua anak manusia yang sedang menikmati cintanya tersenyum bahagia.
Well… mungkin happy ending memang layak didapatkan Ardam yang terus menjaga cintanya meski dia sendiri terluka dalam, dan Denia yang telah merasakan juga sakitnya dikhianati dan dibohongi.
☺☺☺
THE END…..
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :
TAG-CERPEN.NET
gerimis hamil Kedua pada pensil cerpen islami CERPEN ROMANTIS nembak agus motivasi sumber sumber motivasi anak-anak seno gumira Poligami PutuWijaya Cinta Atas PerahuCadik Dilarang JatuhCinta Bidadari Mengambil Mata Saya Surat dalam Hujan lucu KKN LURAH humaor obama becak tukang taman cinta remaja abg CINTA ibrahim perempuan rohyati sofyan cerpen cinta cerpen dewasa sepak bola SELAMAT TINGGAL DAN SELAMAT DATANG CITA-CITA DINDA kamera lomo lomografi wanita cinta semarga nasir mujahid GERIMIS LANJUTAN barzakh ngobrolkosong Dunia tragedi Pencuri Motivasi Aborsi cerpen romantis SalahJatuhCinta Bersama Bintang Mencuri tobat karma islam OJEK TAK ADA KABUT CINTA Islami setan gerhana cikal tangsel cerpen.mimpi kerinduan kesucianku jatuh cinta wartawan idealis guru idealis SINABUNG hm... Maulana Akbar alias Abel Purple-niz Lenny Yulia pembunuhan orcan brother sahabat Cerpen komedi apes bunda pengorbanan It's a great one... fairy 123456 444 Rey Menunggu pelangi Tito balap Tami mama ayah motor Hugo rumah sakit love blind tens hurt memoriam --> mas ohed stres... download novel pemuja rahasia secreet admirer kuliah romantis puisi bunga muslimah cina jilbab airmata CERITA KEHIDUPAN (Cerpen ini kupersembahkan untuk seorang teman yang sedang bergulat melawan perihnya kehidupan bersama anak-anaknya setelah perceraian dengan suaminya). Maju terus!Tetap semangat! adesuryatii@blogspot.com http://karimahcentre.blogspot.com/ - Rahasia Cerita Hari Ini Penuh Makna suatu hari hidupku dawn felicity gwynedd east bay cerpen remaja cerpen cinta cerpen dewasa cintaku di bumi madinah cerpen abah abah cerpen cerpen bilik mayat cerpen cerpen islami cerpen remaja cermen gaul cerita remaja dan cinta cerita kehidupan Renungan mengharukan semangat ungu dreaming vs action stop dreaming start action firmansyaharia1982 catatan larung misteri... Ungu POEM ibu lily alya Arina Jangan Pergi ! www.facebook/saifulbahri@rome.com qqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqq Dhea Tamara Short Story hati hari-hari bahagia hikmah aku cinta dan kepedihan mohpn dikomentari.. Thx.. cinta terpendam Suka Sayang Cinta kasih Diculik? Mau dong! Langit Gelap dan Cahaya (4) Gelap dan Cahaya (1) Gelap dan Cahaya (2) Gelap dan Cahaya (3) Gelap dan Cahaya (5) Gelap dan Cahaya (6) Gelap dan Cahaya (7) Gelap dan Cahaya (8) Gelap dan Cahaya (9) End Gelap dan Cahaya (10) Extra Labirin Hidup Jasmine langit Kabut dan Kamu www.mediasastra.com www.mediasastraindonesia.net lover you pelajar dukun comment please! cerpen anak cerpen islam cerita misteri cerita detektif cerpen lucu cerpen humor cerpen anak muslim mayat cerpen humor love junkies saatnya hatiku pulang tertinggal hutan petualangan Aku Langit Asu Johanes Koen Prosa Romantis. Cerpen Cinta Cerpen Motivasi cerpen sains cerpen horor cerpen sadending cergam Janji Malu Tapi Mau Radioppidunia Remaja Giselle 1 hati 3 cinta part 1 1 hati 3 cinta part 2 semua awal asti ada akhirnya. sebelum semua berakhir jangan pernah menyianyiakan setiap kesempatan yang kita miliki. Story kelas Malaikat Putih sakit jiwa patah hati Love the hard way ceepen cerpenafil.blogspot.com alter ego kepribadian ganda polisi psycho pembunuh Teman-teman baca cerpen Misfah Romansa di Tebing Pelangi baik Luka cerpenku kesalahan bertingkat permainan palsu Baca cerpen terbaruku : Bandara Cinta Noella by Misfah Khairina love you... jurnal jati diri cinta sejati gadis bisu Caleg Gagal misteri jerambah beringen lubay thriller samantha Ali Reza sayembara Baca cerpen Misfah yg baru ya : School of Horror Remaja. cerita romantis ali reza hujan aku penyegel fantasi genocode Cerpen Islami Perenungan Qada dan Qadar online cerita yang cukup menginspirasi cerita cewek manis gw ga mawu jadi jomblo teru tsunami banda aceh yogyakarta Cerpen Ali Rofi miftahul amin bernafas untuk Liana pesta perkawinan Venia cerita anak Wandi giande Cinta Pertama Tak cukup hanya cinta Melepasmu Gadis kecil dalam bus cerpen ku Derita Cinta Mamaku - idiot - down syndrome malta ikanova fino kisah penyendiri cinta penyendiri keputusan hati PENYESALAN Cerpenku Masa remajaku hilang alex lagu musik percy guru cinta remaja cinta romantis eiji kirei dongeng ?? Salah paham Pernikahanku Hampa cerita cinta Dia dan musik (last) dia dan musik (8) dia dan musik (7) dia dan musik (6) dia dan musik (5) dia dan musik (4) dia dan musik (1 2 3) cerita remaja diet Pesan untuk untuk cintaku Bahagia Arbi Tak Ada Cinta di Pantai cermin Bidadari Negeri Bunian korupsi bla bla bla HEYREN sebuah harapan jiwa soul Shandy anak cerpennet surat 1000 free gratis soFY Merry cerita menyedihkan dan mengasikkan 1 kuhapus airmataku dengan kartu undangan ditanganku.hatiku bertanya akankah kurasakan lagi ini setelah aku menikah? SMP ulang tahun perpustakaan kutu buku dikucilkan Suara Hati Kenyataan Pahit Yang Harus DiHadapi exited Siswa Baru Itu... Kebahagiaan Yang Sirna di Taman Sorga igau desember cerpen desember 6 DASAR HEP- (OVI) HELP ME (OVI) PARADISE (OVI) KEMATIAN amry sahabat pelit cerpen cinta chicha hilang ingatan just title Lanjutan part 1 .. Part 1 .. sahabat pelit (part 2) Tawuran menunggu sastra ekonomi januari Aku hidup untuk kedua kalinya Cinta Perlu Dikatakan cinta takan pergi pertemanan Light novel moe sci-fi drama detektif Solitude bus kota cerpen kehidupan hantu inspirasi jurang karyawan kebakaran kecelakaan keluarga kecil PHK sopir cerpen bersambung cinta jarak jauh kisah asmara konflik perpisahan Arthur Samuel odi shalahuddin Terry odi Shalahuddin Odi Shalahuddin gw Karma sekar ayu Film dokumenter film dokumenter smpn 10 jakarta vampire the maine lucia rion Laki-Laki Jatuh Cinta story perang mimpi pancoran When you love someone family father Cerita bersambung EeEmMhHhh..... ....................????????? lima november cerita cinta remaja langkah begitu menyakitkan cerpen motivasi cerita serem banget + lucu Dhea Tamara's Short Story POLAROID gila shevanna andi naya Senyum Terakhir Kak Didot Pertanyaan di Benak Lyra hantu dalam sumur yanah Semangat Sosial MIRZA foto seksi Sahabat Selamanya princes Rasa itu tiba-tiba saja hadir menghampiri hatiku “aduuuuuuuuuuuuuh ayah kaki oit kaki oit terjepit” ayah yang mendengar suara itu langung melihat kebelakang ternyata Oit anakku “kamu punya saudara yang namanya Yuli” “punya teeh kenapa?” “kamu disuruh baca yasin buat kakakmu Yuli sms dari keluargamu” aku terdiam didalam benakku ada apa gerangan ULTAH DI RUMAH HANTUTentang Penulis Cerpen
Terusannya nie...
LIHAT CERPEN Almas YANG LAINRating: Not yet rated
Comments 
ceritanya seru banget jadi inget cerita temen sendiri agak mirip kaya gitu.........
good luck yupz almas
Add Comment
Untuk memperindah dan mempercantik blog/web kamu maka silahkan pasang kode di bawah, untuk menampilkan gambar animasi keci ini dan mempermudah oranglain untuk memasukkan cerpen mu yang ditulis di blog/webmu ke Cerpen.net
Copy This code below, Paste in to your web/blog





