WELCOME Guest

| RSS

CERPEN.NET, kumpulan cerpen, tempat membaca cerpen, menulis cerpen online dan apresiasi kumpulan CERPEN
Teras Cerpen.net | Tulis Cerpen | Cerpen Terbaru | Contact Cerpen.net | Login to Cerpen.Net | Register To Cerpen.net | Members Cerpen.net
Mau Pasang Iklan di Cerpen.Net..? Silahkan Contact Admin atau kirim SMS ke 0852 391 89 333

CERPEN : iT'S fOR mY lOVE

| Print Cerpen
Posting cerpen by: Almas
Total cerpen di baca: 738
Total kata dlm cerpen: 9504
Tanggal cerpen diinput: Sat, 30 Jan 2010 Jam cerpen diinput: 3:31 PM
0 Komentar cerpen

IT’S FOR MY LOVE…. Siang yang cerah, tidak seperti biasanya. Belakangan ini hari-hari selalu dihiasi dengan hujan. Dan hari ini akhirnya sang surya muncul kembali memberi kehangatan di bumi. Ups !!!..... kayaknya hari yang cerah ini gak secerah hati  seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari ruangan rector. Di tengah hiruk pikuk dan kesibukan seisi kampus, dia melangkah dengan gontai. Ada apa dengan dia??Ok! Mari kita flash back.Bermula saat mahasiswa yang bernama Ardam Prasetya ini mengikuti kelas Pak Bowo pagi tadi.Tok … tok… tok…. Suara ketukan pintu menghentikan ocehan Pak Bowo. Seorang OB muncul dari balik pintu.“permisi Pak, saya disuruh panggil Ardam. E… Ardam Prasetya dipanggil Pak Kuncoro sekarang.” Ucapan OB membuat semua mata tertuju pada Ardam. Termasuk Olan , sahabat Ardam.  Ia mengangkat kepala memberi isyarat “kenapa?’. Ardam mengangkat bahu.Ardam pun segera meninggalkan kelas untuk menemui Pak Kuncoro di ruangannya. Kenapa gue dipanggil Pak Kuncoro? Pikirnya. Karena selama ini mahasiswa yang dipanggil Pak Kuncoro biasanya mahasiswa yang bermasalah.☺☺☺ Brak!!!!Pak Kuncoro menggebrak meja, membuat Ardam kaget setengah mati. Rector yang satu ini memang terkenal galak.“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?!!” Tanya Pak Kuncoro seraya menatap tajam Ardam dengan kedua mata yang dibalut kaca mata itu.“Ya… saya mana tau Pak, kan bapak yang panggil saya.” Sahut Ardam agak takut. Bahkan untuk mengangkat kepalanya yang menunduk saja terasa berat.“Oh iya, bener juga kamu. Hahahaha….” Sekarang Pak Kuncoro malah tertawa.“Iya Bapak ini gimana sih?” sahut Ardam lalu ikut-ikutan tertawa. Ruangan rektor diramaikan dengan tawa kedua orang yang entah apa yang sedang mereka tertawakan.Brak!!!!Untuk kedua kalinya Pak Kuncoro menggebrak meja. Ardam pun ikut berhenti tertawa. Rasa takut menghinggapinya lagi.“Ngapain kamu ketawa?!” bentak Pak Kuncoro.“Bapak sendiri kenapa ketawa? Kan Bapak duluan yang ketawa?” sahut Ardam pelan.“Oh iya, bener juga kamu.” Gumam Pak Kuncoro. Anehnya pak rektor yang satu ini.“Iya, Bapak ini goblok apa bego sih?”. Ups!! Keceplosan!“Apa kamu bilang?!!”“E… nggak Pak. Saya, saya yang goblok!” ralat Ardam.“Ah, sudahlah!!, kamu saya beri waktu seminggu!!”“Ngapain Pak??!”. Bingung, kaget, gak ngerti!, hamya itu yang ada di pikiran Ardam sekarang.“Kamu sudah menunggak 3 semester!! Kampus ini bukan punya kamu!!, dosen yang mengajar di sini juga perlu makan!. Jadi kamu tidak bias seenaknya masuk kuliah tanpa bayar!!” terang Pak Kuncoro.“Tapi Pak, saya kan bellum….” Baru saja Ardam mencoba memberi alas an Pak Kuncoro menyela.“Pokoknya, kebijakan dari kampus ini harus kamu laksanakan!! Kamu harus membayar tunggakan kamu sebesar Rp. 3.000.000 dalam waktu seminggu dan kamu tidak diizinkan masuk kuliah sebelum membayar tunggakan kamu itu!!!”“saya janji Pak, saya akan bayar tunggakan saya. Tapi pliz Pak, izinin saya untuk tetep bisa ikut kelas Pak!” Ardam memohon dengan memelas.Pak Kuncoro mengacungkan jari telunjuknya dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri.“Maaf Ardam Prasetya, kebijakan kampus tidak bias diganggu gugat!, dan jika kamu tidak bias memenuhimya maka dengan terpaksa kamu di D.O!!”☺☺☺ Ow… ow… ow….Gimana Ardam bisa semangat setelah keluar dari ruangan rektor????.Ingin rasanya berteriak, bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebesar Rp.3.000.000 dalam waktu satu minggu?. Ia hanya bekerja part time di sebuah distro. Dia juga hidup sebatang kara di Jakarta, tak ada sanak saudara. Hidupnya sehari-hari hanya sebagai anak kos yang menunggu kiriman uang dari orang tuanya walaupun hanya 3 atau 4 bulan sekali ia menerimanya. Dari hasil kerja part time-nya, ia hanya mampu membayar kos dan makan, tidak ada yang lain. Lalu, apa yang harus ia katakan jika ia di D.O dari kampus. Kuliahnya yang sudah semester 5 fakultas desain grafis terlalu sayang bila harus diakhiri. Tapi …. Aaaaaakh!!!☺☺☺ “Jadi lo gak bisa masuk kuliah sebelum lo bayar tunggakan lo?” Tanya Olan yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Iya, dalam satu minggu. Kalo gak w di D.O!” jawab Ardam dengan nada pasrah.“Trus rencana lo apa sekarang?”“Gue mo pinjem duit ma Bang Rako. Cuma dia yang gue kenal di sini.”Bang Rako adalah pemilik distro tempat ia bekerja.“sayang sih gue bukan orang kaya, kalo gue orang kaya gue bayarin kuliah lo, sob!” ucap Olan sungguh-sungguh, tapi mimic mukanya hanya mengundang tawa Ardam.“Gaya lo!! Eh, lo pikiran aja tuh utang lo yang numpuk di warung Po Fatime, baru lo ngayal jadi orang kaya!!”“Eh cungai!!, temen punya niatan bae tuh ya, diaminin!! Ini diketawain!!”“Ya tapi….”Ardam sudah gak tahan, akhirnya hanya bisa tertawa. Olan yang kesal dengan tingkahnya, menutup mulut Ardam.☺☺☺ Seperti yang sudah direncanakan, Ardam pun langsung cabut ke distro untuk menemui Bang Rako dengan penuh harap. Selama ini Bang Rako lah yang selalu menolong Ardam terutama soal finansial.Love… love me do…. Terdengar suara hand phone Ardam berbunyi lagu band legendaries The Beatles band favoritnya.“Halo, kenap Bang?” Ardam segera mengangkat telepon dari Bang Rako.“Gini Dam, hari ini lo gak usah ke distro. Soalnya gue mo ke Bandung” jawab Bang Rako dari telepon.“Ke Bandung?!!” jelas saja Ardam kaget karena itu berarti dia harus membatalkan niatnya tadi. “Kapan pulang Bang?” tanyanya.“Ya besok juga pulang. Udah deh gue mo berangkat dulu. Salamlikum!!”“Kumslam!!” jawab Ardam, entah jawaban salam itu didengar atau tidak oleh Bang Rako yang sudah lebih dulu menutup telepon.Gimana nih? Bang Rako ke Bandung. Mudah-mudahan besok gue bisa nemuin dia. Harapnya dalam hati. Tiba-tiba ia teringat dengan Denia pacarnya.“Denia, udah seminggu gue gak nemuin dia.”Ardam pun memutuskan untuk menemui Denia yang biasanya sore-sore gini ada di rumah.☺☺☺ Oh my gosh!!! Astaghfirullahhal‘adzim!!! Masya Allah!!! Allahu Akbar!!! God… jangan bilang ini kenyataan!!!. Setelah dipusingkan dengan masalah kuliahnya, sore ini rasanya Ardam baru saja terkena sambaran petir.Di sebuah gang manuju rumah Denia memang tidak ada orang keculi dua orang yang baru saja berciuman di hadapannya.“Jadi gini Den, Cuma segitu aja!!” tegur Ardam.Ya dua orang itu adalah Denia dan cowok yang entah siapa namanya yang telah seenaknya mencium pacarnya, Denia.Tentu saja teguran Ardam mengagetkan Denia. Sangat.“Ardam, kamu ngapain di sini?” Tanya Denia seolah tidak terjadi apa-apa.“Harusnya aku yang Tanya ngapain kamu barusan?!!” terlihat benar api amarah di mata Ardam.“Siapa sih, Den?” tanya cowok berambut spike. Ini semakin menyulut kemarahan Ardam.“Eh, lo diem ya!!” Ardam menarik leher kaos cowok itu, tangannya siap menonjok bibir dia. Namun  Denia menahannya.“Pliz Dam, lo tenang!!” Denia mencoba menenangkan Ardam.“Kenapa? Kenapa kamu lakuin ini?! Kamu tau kan aku sayang banget ma kamu!!” ucap Ardam meminta penjelasan.“Ok!!” nampaknya Denia pun mulai tidak tahan.“Den, sbenernya ni orang siapa sih?!!” cowok itu kembali bersuara, bagi Ardam nada bicaranya ngajak rebut. Kembali Ardam meluncurkan kapalan tangannya. Dan lagi, Denia menahannya.“Jangan Dam!!” pintanya.Tangan Ardam memang sudah turun, tapi matanya tetap menatap tajam cowok itu yang juga melakukan hal yang sama.“Ardam ini Dandi, Dandi ini Ardam.” Inilah cara Denia memulai penjelasannya, “maaf selama 8 bulan ini sebenernya kamu udah jadi cowok yang baik Dam, tapi mungkin akan lebih baik kalo kita udahin hubungan ini.”“Maksud kamu?” ada rasa tidak terima di hati Ardam.“Percuma Dam, kalo kita terus jalani pun Cuma nyakitin diri sendiri!! Karena aku udah… lebih ngerasa cocok sama Dandi.”“Maksud kamu dia?” Ardam melirik Dandi yang penuh kemenangan. Denia mendorong Ardam hingga ke tembok gang. Entah apa maksudnya tiba-tiba saja Denia mencium bibir Ardam. Dan Ardam pun tak menolaknya.“Maaf!” hanya itu yang diucapkan Denia, lalu pergi bersama Dandi.Kepalan tangan Ardam yang harusnya mendarat di muka Dandi, ia daratkan ke tembok untuk melampiaskan amarahnya, rasa cemburu, dan sakit hatinya.☺☺☺ Ardam mengucek-ngucek matanya, sinar matahari menembus masuk kamar kosnya, entah sejak kapan. Ketukan pintu dan suara Ardam memaksa dia bangun dari tidurnya. Ya, walaupun tidak terlalu nyenyak. Segera ia membuka pintu.“Ngapain lo Lan, pagi-pagi gini?” Tanya Ardam lalu kembali membantingkan tubuhnya di kasur busa.“Pagi mata lo bengkak!!” sahut Olan “Udah jam 10.30 neh!!bangun woy!!!” Olan menarik Ardam, memaksanya bangun. Dan ternyata cara Olan cukup efektif.“Lo gak ke distro?” tanya Olan.“Tar jam satu.” Jawabnya agak segan.“Truz gimana soal tunggakan lo?udah dapet?”“Belom.” Lagi-lagi dia menjawab sekenanya.“Lo kenapa sih?” Tanya Olan yang merasa aneh dengan sahabatnya.“Ancur gue.” akunya, kata penjelas bagi Ardam malah menjadi teka-teki bagi Olan. “Ibaratny nih,gue udah jatuh tertimpa tangga pula!”“Aduh, intinya lo kenapa?” terlalu sulit untuk mengerti bahasa yang digunakan Ardam untuk Olan.“Kulih gue terancam D.O, dan kemarin Denia mutusin gue!! Lo tau kan butuh waktu 2 tahun buat gue jadi pacarnya, mo mati aja gue!!”“Buset!! Omongan lo kayak cewek aja! Istighfar Dam, emang hidup lo harus berakhir kayak gini?!” tutur Olan mengingatkan sahabatnya.“Berisik lo!! Lo gak tau kan gimana sakitnya  ngeliat cewek  yang kita sayangi ciuman sama orang lain, di depan kita pula!!”“Jadi, lo bukan Cuma diputusin tapi juga diselingkuhin?!!”. Kontan saja Olan tertawa. Menertawakan nasib sahabatnya yang mengenaskan.Buk!!! Bantal melayang dan mendarat di wajah Olan. Terlihat muka tak suka Ardam pada sikap Olan barusan.“Udahlah Dam,” Olan menepuk bahu Ardam, “gue tau lo sayang banget sama Denia, tapi bukan berarti dengan memiliki orang yang lo sayang itu akan jadi yang terbaik buat hidup lo!, sekarang buat apa lo miliki Denia tapi lo gak pernah ada di hatinya. Denia gak akan bahagia dan lo juga gak kan?” tutur Olan memberi semangat pada Ardam.“Iya sih….” sahut Ardam lalu menghela nafas, “tapi yang gue ga ngerti setelah mutusin gue Denia nyium gue.” akunya.“Abis diputusin, lo dicium?!” Olan agak kaget karena baru kali ini ia mendengar kasus seperti ini.“Ternyata biarpun hidup lo mengenaskan tapi lo punya keberuntungan juga ya!” tambah OLan.“Ah, bangsat lo!!”, kembali Ardam melayangkan sebuah bantal ke muka Olan.☺☺☺ Dua tangan bertemu dan berjabat, sang pemilik tangan ssaling menyebutkan nama.“Ardam.”“Cisa.”Begitulah, siang itu Ardam dikenalkan dengan Cisa, keponakan Bang Rako dari Bandung.“Kemarin gue ke Bandung jemput Cisa. Biasanya kan lo kerja sendirian, sekarang gue bawain temen nih buat bantu-bantu.” Ucap Bang Rako.“Abang punya keponakan cakep baru dikenalin sekarang.” Gurau Ardam.“Lebay deh….” sahut Cisa dengan senyum manisnya.☺☺☺ Akhirnya Ardam menemukan waktu yang pas untuk berbicara berdua dengan Beang Rako di ruangannya.“Gini Bang, mm… gue lagi butuh uang buat kuliah.” Ardam mengawali pembicaraan walaupun sedikit tak enak hati.“Ya Abang tau kan, orang tua gue gak setiap bulan bisa ngirim uang.” tambahnya.Sedangkan Bang Rako masih terlihat sibuk dengan buku Yang dibacanya. “ Kalo boleh, gue mo pinjem dulu sama Abang.”Bang Rako menutup bukudan meletakkannya di atas meja beserta kaca matanya. Laki-laki  berusia 35-an itu menatap Ardam.“Emang lo butuh berapa?” tanya Bang Rako. “Kalo ada sih, Rp.3.000.000 Bang, soalnya saya butuh segitu.”“Buset!!! Banyak juga. Emang lo ngerusakin apa di kampus?”“Ga Bang, ini buat bayar tunggakan 3 semester. Bisa kan Bang, plis bang…” rengeknya.“Yakin mo pinjem Rp.3.000.000 ? mo bayar pake apa tar lo?” tanya Bang Rako. Bukan bermaksud merendahkan Ardam, ia hanya ingin mengingatkan Ardam tentang kondisi keuangannya saat ini.“Janji Bang, saya bayar atau kalo Abang mau Abang bisa ambil setengah dari  dari gajian saya tiap bulan Bang!” jawab Ardam sungguh-sungguh.“Gaji lo berapa sih Dam? Kalo gue ambil separuhnya tar lo makan pake apa?”“Ya biarinlah Bang. Yang penting kuliah saya must go on! Ayo dong Bang, saya cuma dikasih waktu seminggu, kalo ga bayar saya di D.O!!”“Gini Deh, gue bisa kasih lo duit.” Ucap Bang Rako. Ardam tersenyum lega.“Ya ga usahlah gaji lo jadi korban. Kesian gue ma lo.”“Maksud Abang?”“Elo kan anak desain grafis, lo bikinin situs buat distro kita, gue kasih lo duit Rp.3.000.000 cash!!.”“Ah, yang bener Bang?!” tanya Ardam seolah tidak percaya. Bang Rako hanya mengangguk.“Makasih Bang!! Makasih banget!!!” ucap Ardam, bahkan saking senangnya ia mencium tangan Bang Rako.“Oh iya, kalo duitnya duluan bisa kan Bang?” tanyanya lagi.“Iya gampang!!, udah sana lo kerja dulu!” ucap Bang Rako yang terkesan cuek.“Siap bos!!”Dengan semangat Ardam keluar ruangan melanjutkan pekerjannya.☺☺☺ Leganya, akhirnya gue bisa kuliah lagi, ucapnya dalam hati. Bahkan pagi ini Ardam menjadi orang pertama yang masuk kelas. Setelah cukup lama menunggu akhirnya kelaspun di mulai.Tapi kenapa? Kenapa bayangan itu muncul lagi?. Kejadian itu terus berputar di benak Ardam, bayangan Denia saat beciuman dengan Dandi.“Di lain kesempatan kalo gue ketemu lagi sama Dandi, jangan harap lo bisa lepas dari gue Dan!!” pikir Ardam.Lagi dan lagi, bayangan itu kembali muncul. Sangat jelas bayangan itu, saat bibir Dandi menyentuh bibir manis Denia. Tiba-tiba saja Ardam merasa ada yang melemparkan sesuatu ke kepalanya.“Kurang ajar!! Berani-beraninya lo cium cewe gue!!” tanpa sadar Ardam berdiri dan berteriak seperti itu.Ha… ha… ha…. Gelak tawa membaur dalam kelas. Dan akhirnya Ardam pun sadar bahwa saat ini ia sedang berada di dalam kelas. Tadi adalah penghapus yang dilemparkan Pak Bowo ke kepalanya. Pak Bowo hanya berdehem dengan menunjukkan mimik muka yang menyeramkan. Kejadian ini bukan hanya disaksikan maha siswa sekelas. Di balik jendela, sepasang mata turut menyaksikannya. Denia, dia menyaksikan semua itu. Ada rasa bersalah dari sorot matanya. Ia segera pergi menuju kelas, tidak ingin berlama-lama melihat itu semua.☺☺☺ Ah, kejadian memalukan seperti tadi rasanya tidak usah diingat lagi. Kuliah hari ini sudah selesai, Ardam segera melangkah meninggalkan kampus bersama Olan yang sedang asyik menelepon pacarnya. Ardam sudah meminta bantuan Olan untuk membuat web design untuk distro Bang Rako.Ada duri yang menancap di hati rasanya saat ia melihat pemandangan kampus. Olan yang masih sibuk dengan hand phone-nya tidak sadar bahwa Ardam masih berada di tangga kampus.“Dam!!” panggilnya seraya menghampiri  Ardam. Tidak ada sahutan dari Ardam, Olan pun mengikuti arah pandangan mata Ardam. Terlihat jelas Denia yang sedang asyik bersenda gurau dengan Dandi di parkiran sambil sesekali Dandi membelai rambut Denia. Hari ini Dandi menjemput Denia dan tidak lama kemudian  mereka meninggalkan kampus dengan motor Dandi.“Udah sob, lo liat kan, Denia bahagia dengan pilihannya sekarang.” Olan menepuk bahu Ardam.“Kayaknya gue satu-satunya cowo yang gak bisa bahagiain cewe sendiri.” Lirih Ardam.“Alah… udah ah, cabut yuk!!” Olan menggaet leher Ardam dan memaksanya untuk segera pergi meninggalkan kampus.☺☺☺ Ardam dan Olan mulai mengerjakan dan mendiskusikan tampilan situs yang menarik untuk distro yang diberi nama “Ada Distro” ini. Mereka terlihat serius mengerjakan itu semua dengan menggunakan komputer yang ada di ruangan Bang Rako. Sedangkan distro di jaga oleh Cisa.“Hei, serius banget. Nih Cisa bawain kopi buat temen kerja.” Cisa muncul dari balik pintu dengan dua cangkir kopi susu. “Aduh, neng geulis tau aja akang lagi pengen ngopi.” sahut Olan dengan guraunya.“Wah, nuhun pisan.” Tambah Ardam.“Kalian mah gitu, ngeledek saya terus.” ucap Cisa dengan logat kesunda-sundaan.“Bercanda Sa….” ucap Ardam seraya meraih cangkir dari tangan Cisa, “Sini kopinya, taro di meja aja.”“Gimana kerjaannya?” tanya Cisa.“Masih nge-design home page-nya neh, kita sepakat tampilannya kayak gini, cuma masih ada yang kurang gimana… gitu.” Aku Olan, “menurut kamu gimana, kira-kira ditambah apa lagi supaya tampilannya jadi ‘wah’?!” tambahnya meminta pendapat Cisa.“Apa ya?” Cisa mengamati design yang dibuat Ardam dan Olan di computer.“Warna udah full color banget, foto-foto beberapa produk udah ada.” Cisa terus mengamati sambil sedikit berkomentar, “kenapa kita gak bikin kata-kata, semacamslogan Ada Distro gitu.”“Boleh juga!” sambut Ardam, Olan hanya manggut-manggut, “menurut kamu enaknya slogannya kaya gimana?” tanya Ardam.“Kayak gini, kayak gini!!” seru Olan yang punya ide tiba-tiba, “mo gaya maksimal harga minimal?, di Ada Distro pastinya!!” ucap Olan dengan gayanya yang so asik yang akhirnya hanya mengundang tawa.“Boleh juga!, apalagi kalo ditambah video gaya Olan yang tadi.” Cisa memberi komentar walau tawa masih keluar dari mulutnya.“Iih.. si neng mah kumaha ngeledek terus.” Ucap Olan.Diselingi canda tawa mereka terus menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya adalah pekerjaan Ardam.☺☺☺ Dalam kurun waktu seminggu, Ardam dapat menyelesaikan pekejaannya dengan bantuan Olan dan Cisa. Well… mungkin sekarang Ardam benar-benar bisa fokus pada kuliahnya tanpa ada lagi beban pikiran. Kecuali, Denia!!. Yups!!, sampai saat ini Denia masih selalu hadir dalam benaknya.Bahkan malam inipun kertas polos yang tadinya kosong dalam hitungan detik sudah dipenuhi dengan nama Denia. Ardam terus menerawang , yang ia ingat hanya Denia, Denia, dan Dania. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sejak tadi Cisa memperhatikannya. Cisa pun duduk di sebelahnya.“Denia siapa sih?” tegurnya ingin tahu. Ardam tersentak.“Kamu yang nanya barusan ya?” Ardam bertanya balik.“Emangnya ada orang lain di sini? distro ini kan udah sepi dari 20.30 lalu.” Jawab Cisa, tangannya memainkan gantungan kunci, “pacar?” tanyanya lagi.Ardam menggeleng, “mantan.”“Kayaknya dia berarti banget buat kamu? kok bisa putus?”“Buat aku dia berarti, sangat berarti. Tapi aku gak ada artinya buat dia.” lirih Ardam, “ada orang lain yang lebih berarti untuknya.”Jika saja ia tidak sadar bahwa ia seorang laki-laki, mungkin air matanya sudah membanjiri pipinya. Namun jiwa laki-lakinya menahan semua.“Semua yang bisa aku lakukan udah aku beri yang terbaik untuk Denia, baru sadar sekarang semuanya sia-sia.” ucapnya lagi lalu tersenyum kecut.“Gak semua yang menurut kita terbaik, terbaik juga buat yang lain.” ucap Cisa, matanya menatap langit-langit, angannya menerawang jauh. “Saya juga pernah ngalamin apa yang kamu alami sekarang.” Akunya, “tapi saya ada di posisi Denia bukan di posisi kamu.”.“O ya?!!” Ardam menoleh ke Cisa, “kalo gitu aku mau tanya, apa yang bikin kamu ngelakuin itu semua?”“Ya itu tadi, dia pikir semua yang dia berikan itu terbaik untuk saya, padahal saya malah merasa tertekan dengan semua sikap dia. Itu semua bikin saya gak comfort lagi sama dia.” Tuturnya, “mungkin Denia punya alasan lain kenapa dia ngelakuin ini.”“Kenapa?” tanya Ardam penasaran.Cisa mengangkat bahu, “entahlah!! Intropeksi diri aja, mungkin di lain kesempatan kamu akan lebih beruntung.!”Tidak ada sahutan dairi Ardam. Cisa pun menepuk bahunya. “Cayo Ardam!!, dunia gak sesempit yang kamu pikirin!”Sebuah senyum mengembang di bibir Ardam, walau di hatinya goresan luka itu semakin mengiris hati.☺☺☺ Di sebuah gang, gelap dan sepi. Di situlah Ardam tengah berdiri. Tiba-tiba ada cahaya yang memancar dari arah berlawanan hingga menyilaukan mata Ardam. Perlahan ia membuka matanya, dua orang muncul dari balik cahaya. Denia dan Dandi terlihat bergandengan, tawa canda menghiasi wajah mereka. Ardam hanya bisa menatap mereka yang berjalan ke arahnya. Dan pada saat  Denia dan Dandi tepat berada di samping Ardam, Denia hanya menoleh sekilas. Tak ada yang bsa dilakukan Ardam kecuali menatap dua sejoli yang telah pergi jauh. Tetapi betapa kagetnya ia saat ia berbalik, Denia dan Dandi sudah ada di situ.“Elo!!” Ardam kaget. “Ngapain lo?!” tanbahnya sewot. Denia dan Dandi hanya tersenyum seolah senang melihat Ardam yang terpuruk. Lalu tangan Dandi mendorong Ardam hingga jatuh.Buk!!!!“Aw!!!, aduh!!!” teriaknya, “mimpi ya?” ucapnya lagi. Ternyata semua hanya mimpi dan baru sadar setelah terjatuh dari tempat tidur. Ardam melirik jam dinding. Ternyata baru jam01.00. Ia pun segera bangkit dan melongok ke jendela. Gelap dan sepi.“Dam!!, lupain Denia! lupain! lupain! lupain!!” ucapnya pada diri sendiri. Ia raih foto Denia yang terpajang di dinding. Foto itu terus ia pandangi, angannya membawanya pada kenangan indah bersama Denia. Meski satu kampus, tapi tidak setiap hari Ardam bertemu dengan Denia. karena Ardam harus secepatnya ke distro setelah kelas selesai, atau jika tidak ke distro kadang Ardam harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang menumpuk dan sesekali menggantikan Pak Rohmat untuk memberi materi pada kursus komputer milik Pak Rohmat, tetangganya. Ia masih ingat kata-kata protes Denia.“Kenapa sih, kamu gak pernah punya waktu buat aku?” ucap Denia waktu itu, “setiap aku butuh kamu, kamunya gak tau kemana!, kamu tau gak, banyak yang aku mau certain ke kamu Dam!” lanjutnya.Ardam membelai rambut Denia, memberi ketenangan. “Iya aku tau, tapi kamu tau kan aku harus kerja untuk kuliah aku.” ucapnya tenang dan lembut.“Iya, tau!!” sahut Denia, “kamu kan gak setiap hari ke distro, tapi sebulan ini aja kita Cuma ketemu tiga kali!! Kayak orang minum obat aja!!” Denia cemberut, Ardam membenamkan Denia di dadanya.“Walaupun kita jarang ketemu, tapi kamu selalu ada di hati aku.”. Ardam mencium kening Denia yang memeluknya erat seolah tidak ingin jauh dan pisah dari Ardam.Tapi toh itu semua masa lalu. Masa lalu yang telah meninggalkan kenangan manis namun pahit terasa saat menyadari kenyataan saat ini. Denia bukan lagi miliknya. Dia bukan lagi orang yang ada di hati Denia saat ini.☺☺☺ Olan hanya bisa garuk-garuk kepala melihat wajah Ardam yang kucel abis dari tadi pagi. Bahkan, Ardam hanya mengaduk  minuman di depannya dengan sedotan di kantin siang ini. Tatapannya kosong.“Kenapa lagi sih Dam?, tampang lo kusut banget dari pagi?!!” tanya Olan akhirnya.“Udah tiga hari ini gue susah tidur. Semalem gue bisa tidur tapi jam 01.00 gue kebangun gak bisa tidur lagi.” aku Ardam, “kayaknya gue insomnia gara-gara seminggu kemairn bergadang terus ngerjain situs.”“Pantesan tampang lo kucel!!” sahut Olan sambil menyeruput esnya.“Semalem Denia datang lagi di mimpi gue, dia pamer kemesraan di depan gue.” akunya lagi.“Insomnia lo bukan kerjaan, tapi kebanyakan mikirin Denia, kan?!!”“Gak juga.” Sanggah Ardam, tapi hatinya mengiyakan itu semua.“Bull shit!!” Olan seakan tahu isi hati Ardam, “gue juga cinta, sayang sama pacar gue. Tapi gue gak akan biarin diri gue hancur karena diputusin! Karena itu artinya kita kalah telak!! Common man, kita cowok!!”“Lo pikir cowok ga boleh patah hati!” tandas Ardam masih dengan tatapannya yang kosong.“Bukan gitu, maksud gue elo jangan meratap gitu. Elo belom kehilangan segalanya kok! Hargai dong diri lo sendiri!!”Tak sepatah katapun keluar dari mulut Ardam. Bahkan mungkin kata-kata Olan tidak didengarnya. Yups!!... Denia!. dia baru saja duduk di pojok kantin bersama tiga orang temannya. Mata Ardam pun terpaku pada satu objek, ia terus memandangi Denia. tatapannya masih seperti yang dulu, ada cinta dan harapan di sana.Ups!!. Ternyata Denia menyadarinya, ia hanya melirik sekilas. Berlagak cuek. Tapi ia akhirnya menyerah, dia lebih memilih pergi dan menjauh. Meskipun dari luar ia tampak cuek, namun dalam hati ia merasakan sesuatu. Risih, rasa bersalah, dan atau mungkin masih ada…. Entahlah!!!☺☺☺ AAARRRGGHH!!!!!Ini hari kelima Ardam tidak bisa tidur. Padahal  malam ini ia ingin tidur lebih cepat agar tidak ketiduran di kelas lagi.“Ya Allah!!” keluhnya, “gue kok gak bisa tidur!!!”Ardam bangkit dari tempat tidur. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi.“Ada-ada aja lagi nih perut gue!!”Karena lapar dan jampun masih menunjukkan angka 11, Ardam akhirnya memutuskan untuk membeli ketoprak langganannya di jaan raya depan.Jalan masih tampak dipenuhi oleh kendaraan. Jejeran para pedagang jajanan malampun dipadati pembeli. Kebanyakan dari mereka adalah muda-mudi. Ada yang bersama bokinnya, temen-temennya, huh!! bikin iri aja!!. Mungkin hanya Ardam yang sendirian datang ke tempat itu. Ia pun segera memesan ketoprak dan duduk di sebelah pasangan yang sedang asyik bersenda gurau manja. Membuat Ardam gerah.“Kok  sendirian Mas, malam minggu gak sama pacarnya?” tegur bapak penjual ketoprak seraya meletakkan pesanan Ardam di meja. Ardam menelan ludah.“Gak, Pak.” Sahutnya singkat.Malam minggu?, pantesan aja banyak orang pada pacaran. Pikirnya. Karena putus dengan Denia, sampai-sampai ia lupa malam apa ini. Jadi inget Denia lagi. Ia pernah mengajak Denia beberapa kali makan di tempat ini. Denia… Denia… gak akan ada habisnya kenangan Denia di hati Ardam.“Itu kan Dandi.” gumam Ardam, ia baru saja melihat Dandi di pinggir jalan. Dandi duduk di atas motor, di belakangnya ada seorang cewek yang memeluknya. Namun Ardam tidak bisa melihat wajah cewek itu karena terhalang spanduk. Apakah itu Denia?.Ardam terperanjat. Geram. Bukan! itu bukan Denia!!. Tapi ini kan malam minggu, harusnya dia sama Denia!! kenapa dia sama cewek lain?! mesra pula! siapa cewek itu?.☺☺☺ Senangnya, pagi-pagi gini sudah banyak customer yang berdatangan. Ardam dan Cisa tambah semangat aja. Di sela-sela melayani para customer, Cisa masih bisa menangkap kegelisahan pada Ardam.“Kenapa lagi, Dam?” tanya Cisa.Ardam tersentak, “kenapa? gak kenapa-napa.” Jawab Ardam sekenanya.“Orang bilang mulut bisa bohong, tapi mata gak.”Mendengar itu Ardam menunduk, tapi kemudian kembali mengangkat kepalanya.“Denia lagi?” tanya Cisa mencoba menerka.“Selalu.” jawab Ardam, “semalam aku liat Dandi.” aku Ardam. Tapi karena ada customer yang hendak membayar mereka pun menghentikan obrolan sejenak.“Sama Denia?” tanya Cisa lagi setelah selesai melayani customer.“Itu dia Sa, dia gak sama Denia, dia malah sama cewek lain!! mesra pula!!” ucap Ardam emosi. “Harusnya semalem gue tonjok aja dia!” tambahnya.“Hei, jangan gegabah, emang udah pasti dia selingkuh.”“Apalagi?!, jelas-jelas cewek itu peluk Dandi! Awas aja kalo dia sampe nyakitin Denia, mati tuh  orang!!” ancam Ardam yang sedang emosi.“Sbenernya Denia kayak gimana sih? Jadi penasaran.” ucap Cisa seraya duduk di sebelah Ardam.Emosi Ardam turun, benaknya membayangkan wajah Denia. “Cantik, simple.” Tanpa basa-basi Ardam menggambarkan bagaimana Denia yang ia kenal. “Dia cuek, easy going, ngegemesin, apalagi pipi chubby-nya.”“Saya jadi pengen kenal sama Denia.” gumam Cisa, ia benar-benar ingin mengenal sosok Denia yang membuat Ardam sangat mencintai dan menjaganya.“Sayangnya aku gak bisa, dia udah milik orang lain sekarang.” ucap Ardam lirih.“Ups, maaf. Gak ada maksud lho….” Cisa jadi tidak enak hati pada Ardam, takut Ardam tersinggung. Ia hanya nyengir kuda.“Gak pa-pa….” sahut Ardam seraya tersenyum sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja.“Mas, yang ini ada ukuran lain gak?” seorang pelanggan bersuara, dengan segera Ardam dan Cisa kembali melayani customer.☺☺☺ Jam sembilan malam, waktunya tutup distro. Cisa mengunci pintu distro dan kemudian jalan beriringan dengan Ardam.“Laper nih, kamu laper gak?” tanya Ardam.“Banget.” Jawab Cisa singkat, jelas dan padat.“Di depan ada cafe tenda, makan di situ aja gimana?” ajak Ardam, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya  menghalau dinginnya angin malam.“Ayo, udah laper banget nih, Cisa….”Karena letak cafe tidak terlalu jauh, dengan berjalan kaki beberapa menit saja Ardam dan Cisa sudah sampai di café tenda tersebut. Mereka pun segera ambil posisi dan memesan makanan.“Enak juga tempatnya.” gumam Cisa, matanya sibuk memandangi sekeliling.“Iya, aku dulu sering ke sini sama Denia, dan biasanya kita duduk di meja itu….” Ardam terperangah saat menunjuk meja favoritnya yang tepatnya ada di belakang Cisa karena ada Denia dan Dandi di situ.“Kenapa Dam?” tanya Cisa pada Ardam yang tiba-tiba saja berhenti bicara.Ardam masih menatap Denia, cemburu. Tapi apa yang bisa ia lakukan dengan posisinya sekarang?. Denia yang sedang asyik ngobrol dengan Dandi, tiba-tiba saja menoleh ke arah Ardam.“Sa, kayaknya bulu mata kamu jatuh!” ucap Ardam reflek, “aku bersihin ya.” Kontan saja Ardam membelai pipi Cisa agar terkesan mesra. Dan Cisa ok-ok aja dengan sikap Ardam yang menurutnya mulai aneh. Sedangkan Denia, ia terpaksa menyaksikan adegan itu. Entah harus bagaimana, Denia tidak bisa mengingkari hatinya terbakar rasa cemburu. Ia tertunduk. “Salahkah aku dengan pilihanku sekarang? Lalu rasa apa yang ada dalam hatiku saat ini? God, help me….” ucap hatinya, batinnya meronta-ronta.“Den, kamu gak kenapa-napa?” tegur Dandi penuh perhatian.“Gak.” Jawabnya singkat sambil menggelengkan kepala, ia kembali menoleh ke Ardam. Hanya saja kali ini Ardam pura-pura tidak tahu. Ardam dan Cisa sedang asyik menikmati makanan yang telah dipesannya. Tetap saja di mata Denia mereka terlihat mesra.Well… itu artinya Ardam berhasil, walaupun sebenarnya Denia juga berhasil menghancurkan hatinya.☺☺☺ “Ardam!!” ada suara yang memanggil Ardam dari belakang saat ia berjalan di koridor kampus.“Kenapa Ri?” tanya Ardam. Seorang gadis sebayanya menghampirinya. Riri, dia adalah sahabat Denia.“Sendirian?” tanya Ardam lagi.“Iya, bete nih gue.” keluh Riri. Mereka duduk di bangku yang ada di tepi kelas.“Biasanya lo sama Denia. kok sekarang sendirian?” Ardam bertanya lagi.“Denia lagi gak asyik Dam.” Sahut Riri agak kesal.“Gak asyik gimana maksud lo?”“Sekarang dia ga ada waktu buat ngumpul bareng gue ma temen-temen.” aku Riri, “sedikit-sedikit Dandi, bentar-bentar Dandi, apa-apa Dandi!!! bete gue ngedengernya!”“Ya wajarlah Dandi kan pacarnya.” sahut Ardam pelan.“Eh, sorry Dam, gue gak ada maksud….”“Iya, gue tau.” ucap Ardam sambil mengangguk. Ardam menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya berharap rasa yang ada untuk Denia juga ikut terhempas. “Yang penting Denia bisa bahagia sekarang, gak seperti waktu sama gue dulu.” lanjutnya.“Gak juga, Dam,” sanggah Riri “gue justru lebih bisa ngeliat kebahagiaan pada Denia saat dia sama lo, dan gue lebh bisa ngeliat ketulusan di mata lo dibanding si Dandi itu!!” ucapnya seakan tahu semua yang dirasakan Denia.“O yaa???” cibir Ardam.“Serius!!” Riri ngotot.“Tapi lo gak pernah tau kan isi hatinya!” tuding Ardam.“Terserah!!! tapi kalo lo masih cinta sama Denia, gue dukung kok!!” kalimat itu menjadi akhir pertemuan mereka siang itu. Riri terus melangkah meninggalkan Ardam yang masih duduk dengan sejuta pertanyaan di benaknya. Benarkah semua yang dikatakan Riri?. Ah,  ini semua membuat Ardam tambah berharap pada Denia.☺☺☺ Lagi, dan lagi-lagi Ardam tidak bisa tidur malam ini. Ough!!, gak tahu harus gimana, akhirnya Ardam meraih switer dan memakainya. Ia memutuskan untuk jalan-jalan menikmati angin malam yang menusuk tulang sum-sum.Apa benar apa yang dibilang Riri?, dan siapa cewek yang bersama Dandi waktu itu?, bahagiakah Denia?. Pertanyaan itu terus berkelibatan di sepanjang perjalanan.“Bang, satu.” Ardam membeli minuman kaleng di pinggir jalan depan mini market. Saat meneguk minuman yang baru saja dibelinya, tanpa sengaja Ardam menangkap sosok Dandi di seberang jalan. Dandi baru saja menyetop taksi, di sampingnya berdiri seorang cewek yang waktu itu Ardam lihat memeluk Dandi. Dan malam ini, Ardam melihat dengan jelas Dandi mencium pipi cewek itu. Geram, kesal, membuat Ardam segera menghampiri Dandi yang sedang melambaikan tangan pada cewek yang telah pergi dengan taksinya.“Dandi!!!” tegur Ardam, kali ini Ardam tidak banyak basa-basi, kepalan tangannya langsung mendarat di muka Dandi, hingga berdarah. “Brengsek lo!!” tuding Ardam.Dandi membersihkan darah di bagian pinggir bibir dengan ibu jarinya, “apa-apaan lo!! Apa maksud lo mukul gue?!” hardik Dandi.“Jangan pernah lo nyakitin Denia!!” jawab Ardam, telunjuknya mengarah ke Dandi, “lo pilih Denia dan jauhin cewek tadi, atau pilih cewek tadi dan jangan pernah deketin Denia!!!” lanjutnya. Dandi mulai mengerti arah permasalahan ini.“Kalo gue mo dua-duanya?” tantang Dandi.“Brengsek!!” Ardam kembali menonjok Dandi.“Kenapa?!, marah lo?!, cemburu?! gak rela gue duain Denia?!” ucap Dandi tanpa memberi perlawanan atas tonjokkan yang telah ia terima. “Makanya punya cewek tuh dijaga!!. Asal lo tau, bukan Denia yang gue duain tapi cewek tadi yang gue duain!!!”Tiba-tiba saja Ardam terdiam. Dandi tersenyum kecut.“Kenapa diem?! baru sadar lo gak bisa jagain cewek lo sendiri!!” hardik Dandi, “pengecut!”Buk!!!. Kepalan tangan Ardam kembali mendarat di bibir Dandi. Ardam tidak tahan mendengar ucapan Dandi.“Itu buat lo karena udah seenaknya nyentuh bibir Denia!”“Bibir Denia?! bukannya lo juga dapet ciuman dari Denia?!”“Jangan pernah lo sakitin Denia!!!” ancam Ardam lalu pergi.Puas, akhirnya ia dapat melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan pada Dandi.☺☺☺ Aaaakh!!!.... Ardam menendang kaleng minuman dan apa saja yang menghalangi langkahnya. Setelah menjauh dari Dandi, kini ia dihantui rasa bersalah. Seakan semua yang terjadi ini adalah kesalahan dirinya. Malam semakin tua bahkan beberapa jam lagi matahari akan segera terbit. Ardam terus berjalan tanpa arah dan tujuan, langkahnya gontai. “Goblok!! bego!! pengecut!!” hardiknya pada diri sendiri, “harusnya gue jaga Denia!, dan harusnya dia gak usah kenal Dandi! brengsek!!!” tambahnya. Ia caci dirinya sendiri, ia maki, ia salahkan dirinya. Mungkin rasa untuk Denia terlalu dalam hingga ia tidak bisa dan tidak ingin melihat Denia disakiti. Seandainya masih ada kesempatan baginya….☺☺☺  Ardam menghadang Denia di depan kampus. Denia melangkah ke kiri, Ardam mengikutinya. Denia ke kanan, Ardam pun ikut melangkah.“Kenapa sih Dam?!” Denia menyerah.“Ada yang aku mau bicarain sama kamu.” jawab Ardam seraya menatap Denia.“Ya udah ngomong aja!!” ucap Denia ketus.“Kamu bahagia dengan Dandi?” tanya Ardam to the point.“Peduli apa lo tanya-tanya soal kebahagiaan gue?!!” Denia enggan menjawab pertanyaan Ardam yang menyesakkannya.“Kamu bahagia dengan Dandi?” tanya Ardam lagi tanpa memerdulikan sahutan Denia.“Ya, gue… gue, ya bahagialah!!” sahut Denia, entah mengapa ragu menghinggapi hatinya. Benarkah ia bahagia?.“Malam minggu kemarin Dandi nemuin kamu?” tanya Ardam lagi.“Gak, dia jenguk tantenya di rumah sakit!!”“Dia bohong Den!! Aku liat dia sama….”, gak! Ardam gak bisa mengatakan kejadian malam minggu Itu.“Sama siapa?!”“Harusnya dia sama kamu!!!” ucap Ardam akhirnya.“Kenapa harus gitu?!” sahut Denia, “bukannya dulu kamu juga gitu!, bahkan kamu gak  pernah punya waktu kan buat aku!!” tudingnya. Denia segera meninggalkan Ardam dengan tatapan tajamnya. Ia tidak tahan berlama-lama berhadapan dengan Ardam. Dan Ardam pun tidak bisa menahan langkahnya lagi. Kini Ardam hanya bisa memandangi bayang Denia yang semakin menjauh.☺☺☺ “Ya iyalah, cara kamu salah Dam.” ucap Cisa. Ardam baru saja menceritakan kejadian semalam dan di kampus tadi. “Saya tau kamu lakukan itu karena kamu gak ingin Denia disakiti Dandi. tapi jangan langsung ditembak, jelas aja Denia gak mau denger. Coba deh, kamu liat posisi kamu sekarang.”“Maksud kamu?” tanya Ardam, dahinya berkerut. Apa salah posisinya sekarang?, batinnya.“Mungkin untuk Denia kamu adalah orang yang udah dia kecewain, sakiti, dan dia khianati. Pilihannya sekarang Dandi, lalu kamu datang dan bilang kalo Dandi berbohong dan itu tanpa bukti. Gimana caranya Denia bisa percaya sama kamu?” jelas Cisa panjang lebar.Ardam kagum, meski wajah Cisa polos tapi ternyata penglamannya soal cinta melebihi Ardam sendiri. Sambil terus merapikan barang-barang yang baru datang di distro, mereka juga terus berbicara.“So, aku harus gimana dong?”“Setiap orang punya kesampatan kedua, kenapa kamu gak gunain kesempatan itu sebaik mungkin.”Ardam tersenyum, “thanks ya Sa, kalo aku gak punya temen kayak kamu mungkin aku udah salah langkah.” ucapnya.Cisa membalas senyum itu, “hidup emang untuk berbagi kan?”☺☺☺ Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Ardam bisa tidur dengan tenang. Meski tidak begitu nyenyak, Ardam menikmati tidurnya yang tetap dihiasi mimpi-mimpi tentang Denia. hingga pagi menjelang, Ardam pun bangun dengan wajah yang lebih fresh dari pagi-pagi sebelumnya.Sebelum berangkat ke kampus, Ardam terlebih dahulu sarapan bubur ayam langganannya yang ada di pinggir jalan. Sudah menjadi kebiasaan Ardam, sambil sarapan Ardam memandangi kendaraan yang lalu lalang di hadapannya. Ukhu!!, Ardam tersedak saat melihat moge (motor gede) berwarna hitam yang ternyata pengendaranya adalah Dandi.“Kenapa sih, gue harus selalu ketemu dia. Brengsek!” keluhnya. Dandi benar-benar merusak pemandangan Ardam.☺☺☺ Dandi lagi!!!Bahkan kali ini Ardam benar-benar berhadapan dengan Dandi dan Denia. mereka berpapasan saat berjalan berlawanan arah. Dandi menghadangnya, mereka bertatapan, menunjukkan muka tak suka satu sama lain. Denia hanya bisa menyaksikan dan membiarkan itu terjadi.“Kenapa lo?, belom puas bikin gue babak belur kemarin?!” ucap Dandi sengit.Denia yang baru saja mengetahui itu kaget. Ia sudah menanyakan pada Dandi tentang mukanya yang babak belur, namun Dandi tidak menjawab.“Jadi kamu, Dam?!” tanya Denia, ia sama sekali tidak menyangka Ardam bisa melakukan ini.“Iya, aku yang bikin dia babak belur.” Jawab Ardam tanpa menoleh Denia, matanya terus menatap tajam Dandi.“Tapi kenapa?!” Denia meminta penjelasan. Kenapa? kenapa semua harus terjadi? kenapa kayak gini?. Tanya hatinya.“Karena dia pantes dapetin itu!!” sahut Ardam, “bahkan harusnya lebih dari itu! karena dia udah berani nyakitin orang yang aku sayang!”“Elo ngomong apa sih?!” ucap Denia yang semakin tidak mengerti. Sebenarnya ia tahu siapa orang yang dimaksud Ardam. Yang tidak ia mengerti, Ardam mengatakan bahwa Dandi telah menyakiti orang yang ia sayangi, siapa yang tersakiti? Denia sama sekali tidak merasa disakiti. Lalu apa dan siapa maksud Ardam.“Aku rela ngelepas kamu bersama dia, asalkan kamu bahagia, Den. Tapi aku gak akan pernah rela jika kamu disakiti siapapun, terutama dia!”“Udah Dam!!” pinta Denia, “aku gak pernah ngerasa disakiti oeh siapapun!!” akunya. “Aku tau aku salah banget sama kamu.” ucapnya lagi, kali ini separuh hatinya ikut bicara, ia mengakui semua rasa bersalah itu. sedangkan pada separuh hatinya yang lain ada rasa yang tidak berani ia akui. Dandi terlihat tampak tenang dan sama sekali tidak ada rasa berdosa atau dia memang brengsek. “Aku minta maaf, dan please jangan ganggu hubungan aku dengan Dandi kalo kamu bener-bener mau liat aku bahagia.” pinta Denia.Rasanya Ardam baru saja jatuh dari ketinggian 4000 m dan meluluh lantahkan jiwa raganya. Ia biarkan Denia berlalu dengan Dandi yang menatapnya penuh kemenangan.☺☺☺ Ardam membasuh wajahnya berkali-kali. Hari ini Ardam enggan masuk kelas, ia hanya menitip absent lewat Olan. Ardam menatap lekat-lekat dirinya dalam cermin. “Liat baik-baik diri lo Dam!! elo udah terlalu sering disakiti Denia, lupain Denia!! lo udah denger sendiri kan, dia bahagia sekarang!!!” ucapnya dalam hati. Kini ia tersiksa sendiri dengan rasa cinta itu.“Gak!! gue sayang Denia! gak peduli Denia mo nyakitin gue, caci maki gue, gue akan tetap cinta dia, ngejaga hatinya!! gue udah gagal jaga dia untuk tetap jadi milik gue, tapi gue harus bisa jaga dia dari orang yang akan nyakitin hatinya!” bantah hatinya. Ardam kembali membasuh wajahnya. “Gue rela hati gue patah atau remuk sekalipun, gue rela Denia benci gue, apapun! asal gue bisa liat dia bahagia!” ucap hatinya dengan penuh keyakinan. Mungkin inilah cara Ardam mencintai Denia sekarang. Ardam pikir hanya dengan jalan inilah dia bisa mengungkapkan cintanya pada Denia. Walaupun ia tahu Denia tidak akan lagi perduli dengan dia dan hatinya.☺☺☺ Ardam telah memilih jalan dengan resiko menyakiti dirinya sendiri untuk cintanya. Dan entah harus bagaimana Denia sekarang. Hingga malam ini ia masih mengingat kejadian tadi pagi. Sambil memandangi gelapnya langit lewat jendela kamarnya Denia merenung.“Ya Allah…! Kayaknya gue udah dosa banget ma Ardam.” Akunya, “gue harus gimana dong, sbenernya mana yang harus gue percaya, Ardam atau Dandi?” tambahnya pada diri sendiri.“Apa bener Dandi nyakitin gue?” tanyanya meski tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, “tapi gue gak ngerasa kok!” bantahnya. “Tapi Ardam gak akan ngomong macem-macem kalo dia gak tau apa-apa.” ucapnya lagi, karena yang ia tahu selama Ardam bukanlah orang yang suka mengada-ada. “Tapi Dandi bilang gue harus percaya sama dia!”.Rasanya ia ingin menghindar saja dari semua ini. Denia mengerti cinta Ardam pada dirinya, dan tidak bisa ia ingkari searuh hatinya masih bersama Ardam. Denia kembali mengingat kenapa ia meninggalkan Ardam. Sebenarnya tidak ada yang salah dari Ardam. Hanya saja waktu itu Ardam mulai jarang menemui dan memberi perhatian  padanya, padahal waktu itu Denia benar-benar membutuhkan Ardam. Dan pada saat itulah Denia dikenalkan dengan Dandi oleh tetangganya. Dandi memberikan semua yang Denia butuhkan, waktu dan perhatian. Sampai akhirnya ia kepergok oleh Ardam saat berciuman dengan Dandi.Denia menarik nafas panjang. “Ya, ini semua emang salah gue.” akunya “seharusnya gue bisa setia, tapi Dandi….” ia tidak meneruskan kalimatnya, terlalu sulit!.“Tapi kenapa Ardam bilang Dandi nyakitin gue?”. Inilah inti kebingungan Denia, sempat terpikir olehnya, “apa ini hanya bualan Ardam karena sakit hatinya?”. Tapi tidak, ia kenal betul mantannya itu, Ardam tidak akan pernah melakukan hal rendah seperti itu. Tapi, selama ini ia tidak pernah merasa tersakiti. Ia bahagia dengan Dandi. Bahagia? Apa benar?. Tapi mengapa hatinya sangsi mengakui itu. Lalu apa yang sebenarnya ia rasa?. ☺☺☺ Tin!tin!Terdengar suara klakson motor dari belakang Ardam. Ia pun segera menoleh, ternyata Olan.“Mo kemana lo? Gue cari di kampus ga ada.” Tanya Olan.“Iya tadi gue buru-buru mo ke distro, jadi abis kelas selesai gue langsung cabut.” jawabnya.“Ya udah ma gue yuk, sekalian gue mo ketemu Cisa, kangen juga.” Ucap Olan sambil nyengir kuda.“Bee, dasar lo!!”“Udah cepetan naek!!” perintah Olan, tanpa membantah Ardam segera menuruti perintah Olan. Dan hanya dengan hitungan menit mereka telah sampai di distro. Ketika Ardam baru saja turun dari motor, ada satu motor yang menarik perhatiannya.“Heh! ngapain lo ngeliatin motor orang!!” tegur Olan.“Kayaknya gue kenal nih motor.” Gumamnya, ia masih memandangi motor gede berwarna hitam itu. “Jangan bilang ini motor Dandi.” ucap hatinya. Lalu tanpa memerdulikan motor itu lagi Ardam segera masuk.Oh my god!! ternyata itu memang motor Dandi. dan sekarang Dandi sedang memilih baju dibantu Cisa. Aneh, mereka terlihat akrab. Apa mereka memang sudah saling kenal?. Pikir Ardam.“Sa.” Sapanya.“Hei Dam, baru dateng ya.” balasnya, ia segera menghampiri Ardam, “o, ada Olan juga.” tambahnya.Sementara itu, Ardam segera mendekat ke Dandi.“Ngapain lo di sini?” tanya Ardam sengit.“Ya gue mo beli lah, lo pikir apa yang gue bisa lakuin di tempat kayak gini?!” Dandi pun menjawab dengan sengit.Sebenarnya setiap kali melihat Dandi ia ingin menonjok wajahnya yang menyebalkan/ tapi ia tetap menahan emosinya.“Bisa keluar sebentar ada yang gue mo ngomong sama lo.” ucap Ardam.Dandi tersenyum tengil, tapi kemudian ia segera keluar memenuh permintaan Ardam. Cisa dan Olan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa bengong.  Mereka menatap Ardam dan Dandi yang melangkah keluar distro di hadapannya. Lalu saling pandang mempertanyakan ada apa di antara mereka.☺☺☺ “Mo ngomong apa lagi?!” tanya Dandi setelah mereka benar-benar hanya berdua di luar distro.“Sekali lagi gue mohon sama lo,” ucap Ardam “jangan pernah lo sakitin Denia, gue mo o bahagiain Denia.” pinta Ardam, kali ini ia mempertaruhkan harga dirinya.“Apa urusan lo, ikut campur hubungan gue sama Denia?!!”Nada bicara Dandi membuat Ardam naik darah, kedua tangannya mengepal kuat sia memukul Dandi.“Elo udah bikin gue gagal jaga Denia untuk tetap jadi milik gue! Jadi gue harap lo bisa jadi cowok yang baik buat Denia!”“Itu kesalahan lo, kenapa harus gue yang nanggung akibatnya?!” tandas Dandi.Ough!!! Anak ini minta dihajar rupanya.“Karena elo penyebabnya!!” sahut Ardam, “udah deh mending sekarang lo pergi jauh-jauh, sebelum kesabaran gue habis.” Ardam mengingatkan Dandi karena emosinya hampir mencapai puncak.Tidak ada sahutan dari Dandi hingga Ardam yang meninggalkan Dandi. Ardam masuk ke distro tanpa menoleh Dandi sedikitpun. Dan Dandi terdiam tanpa merespon.☺☺☺ “Jadi Dandi yang kamu maksud dia?” tanya Cisa beberapa saat setelah Ardam menenangkan diri.“Iya Sa, dia.” Jawab Ardam singkat.“Tadi Olan liat liat kamu akrab banget sama Dandi.” ucap Olan pada Cisa.“Itu dia!” timpal Ardam, “kamu udah kenal dia?”Cisa menggeleng, “gak.”“Tapi tadi kok keliatannya kamu akrab banget?” tanya Olan.Ardam hanya menatap Cisa, tatapan matanya  memancarkan tanda tanya, meminta penjelasan dari pertanyaan tadi.“Gak tau,” sahut Cisa “tapi dia asyik aja, diajak ngobrolin apapun tetep nyambung, lucu, nyenengin, serulah!!”“E, ehm!!” Ardam berdehem, tersinggung.Ups, Cisa kok jadi muji-muji Dandi di depan Ardam. Jadi gak enak hati, nih. “Maaf.” ucap Cisa, “mungkin itu yang bikin Denia suka Dandi, dan itu juga yang bikin Dandi punya dua cewek.” Cisa mengeluarkan pendapatnya, “karena cowok kayak Dandi ngerti apa yang di mau cewek dan dia tau cara ngeluluhin cewek-cewek. Cuma ya gitu deh, cowok kayak Dandi kebanyakan brengsek!” tambah Cisa.Entah antusias atau apa, Ardam dan Olan melongo menatap Cisa. Membuat Cisa risih dan bingung sendiri.“Hello… are you allright??” tegur Cisa.“Ya.” Sahut Ardam dan Olan yang sedikit tersentak dengan teguran Cisa.“Dengerin gak sih Cisa ngomong?!!”“Dengerin kok! Ya kan Dam?!” Olan menoleh Ardam. Sebenarnya Cisa sudah berulang kali mendengar kalimat itu. Diam-diam Cisa mengagumi sosok Ardam. Ternyata Ardam benar-benar mencintai Denia dan Cisa tahu sebenarnya cinta seperti Ardam lah yang menjadi idaman setiap wanita. Cinta yang tulus menjaga dan melindungi meski tidak dapat memiliki.“Yakinin dia pelan-pelan, mungkin dengan cara ini Denia bisa mengerti semua.” Jawab Cisa.Ardam mengsap muka dengan kedua tangannya. Cisa dan Olan dapat melihat kekhawatiran di wajahnya. Kekhawatirannya pada Denia tentunya.☺☺☺ Merasa sebagai sahabat, Olan tidak ingin melihat Ardam terus begini. Terus tersakiti dan dihantui rasa khawatir berlebih pada Denia. Maka pada hari ini tanpa sepengetahuan Ardam, Olan menemui Denia di kampus. “Denia!” panggil Olan pada Denia yang baru saja keluar kelas.“Kenapa, Lan?” tanya Denia sedikit heran karena tidak biasanya Olan menemuinya.“Ada yang gue mo omongin sama lo.” jawab Olan.Dan akhirnya Olan dan Denia berbicara berdua di belakang kampus. Olan ingin Denia tahu bagaimana Ardam sekarang.“Olan please, cerita gue sama Ardam udah tutup buku, udah tamat!!” ucap Denia setelah mendengar semua cerita Olan, “jadi gue mohon jangan lagi ngebahas soal ini.” Lanjutnya.“Ok. Tapi lo harus tau, ssampai sekarang luka Ardam tetep ada bahkan lo tambah lukanya!” sahut Olan, “Dandi, cowok lo yang brengsek itu! apa lo tau apa yang dia lakuin di belakang lo?!”“Gue gak ngerti! dan lo gak berhak bilang cowok gue brengsek!!” jawab Denia yang tidak terima Olan menuduh Dandi brengsek.“Den, Ardam berani ngelakuin apa aj untuk lo.” ucap Olan lagi tanpa menghiraukan apa yang Denia rasa, “dia rela lo benci dia ataupun lo sama sekali gak perduli lagi sama dia, asal lo bahagia!”Denia ingin sekali menutup Olan. Semua ucapan Olan membuat ia semakin merasa bersalah. “Bahkan Ardam rela mohon-mohon ke Dandi agar dia jangan nyakitin lo.” tambah Olan.Denia kaget. Memohon? itu berarti Ardam mempertaruhkan harga dirinya. Pikir Denia, hatinya menangis. “Gue gak ngerti, sejak kemarin Ardam selalu menuding Dandi nyakitin gue, sedangkan gue fine-fine aja,” ucap Denia “gue gak ngerasa disakiti siapapun, gak juga Dandi.”“Itu karena ada sesuatu yang gak lo ketahui.” ucap Olan.“Apa?” tanya Denia ingin tahu.“Gue gak tau yang gue lakuin ini bener atau gak, tapi menurut gue lo harus alesan Ardam bilang Dandi nyakitin lo.” ucap Olan, ia tidak langsung memberi jawaban pada Denia. Mungkin di mata Ardam ini salah, tapi menurutnya pepatah itu benar bahwa kebenaran harus tetap dikatakan meski pahit.“Ya apa??” desak Denia.“Lo yakin Dandi masih single waktu dia nembak lo?” Olan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya jawaban dari rasa penasaran Denia.“Single? maksud lo?” sayangnya Denia belum mengerti maksud Olan.“Harusnya lo ngerti.” sahut Olan lalu pergi tanpa memerdulikan Denia yang belum juga mengerti semua.☺☺☺ “Ya Allah, ya Rabb, ya tuhan…!!” ucap Denia. “Apa lagi sih ni, kenapa semua orang berkata dengan membingungkan!” keluhnya pada diri sendiri. Denia masih berada di belakang kampus setelah Olan meninggalkannya, “ya Ardam, ya Olan, ya Dandi, mereka jadi misterius semua!!”“Siapa yang misterius?” Ups, ada yang mendengar keluhan Denia ternyata. Suara itu tidak lagi asing di telinganya, ia pun segera menoleh.“Dandi!! kok ada di sini?”“Iya abis kangen sih sama princess.” Sahut Dandi, tangannya membelai lembut rambut sebahu Denia.“Ya, dia ngerayu!” ucap Denia, “tadi pagi telepon aku kok gak diangkat?”“Tadi aku lagi di jalan mo ke kampus, jadi aku gak bisa angkat.” Dandi memberi alasan.“O, gitu!” ucap Denia dengan wajah cemberut.Dandi tersenyum, “ya udah, maaf. Jangan cemberut lagi dong!, dari pada cemberut mending kita jalan aja gimana?” bujuk Dandi, Denia tidak menggubrisnya.“Can you smile for me?” bujuk Dandi lagi.Akhirnya Denia tersenyum. Ini salah satu sifat Dandi yang ia suka. Entah karena Dandi pintar mengambil hatinya atau karena Dandi memang tukang merayu, tapi Denia bisa tersenyum.☺☺☺ Sementara itu, Ardam yang ditugaskan menemani Cisa berbelanja di super market oleh Bang Rako terlihat masih asyik curhat sambil membantu Cisa mengambil barang yang ada di daftar belanja. Dan sepertinya Cisa masih setia menjadi pendengar yang baik.“Ardam, Ardam, kayaknya cerita Denia gak ada habisnya ya?” Cisa geleng-geleng kepala.“Boring ya dengernya?” tanya Ardam sedikit tidak enak hati atas ucapan Cisa barusan,“Boring sih gak, Cuma aku gak nyangka aja cinta kamu sedalam itu.”“Kalo boleh jujur aku juga gak mau punya perasaan kayak gini, karena aku tersiksa sendiri. Tapi apa boleh buat, semakin hari rasa ini semakin kuat dan terjaga.” Ucapnya.“Itulah yang berbeda dari kamu. kamu sanggup mencintai tanpa memiliki dengan tulus.” puji Cisa.Cisa mengecek belanjaannya. Dan setelah mendapatkan semua barang yang ada di daftar belanja mereka segera keluar. Sebelum puang mereka mampir ke toko kaset.“Mo cari CD apa Sa?” tanya Ardam karena Cisa lah yang mengajaknya ke toko kaset.“Apa ya, sebenernya saya lagi suka five minutes sama kotak. Tapi hari ini mo beli five minutes aja deh.” jawab Cisa, matanya sibuk mencari CD five minutes.“Kotaknya gak?” tanya Ardam lagi.“Lain kali aja deh.” jawabnya singkat, ia segera menuju kasir setelah mendapatkan  CD yang ia cari. Sementara itu Ardam masih berdam diri. Tangannya neraih CD kotak band. Ga ada salahnya Ardam membelikan CD ini untuk Cisa, toh selama ini Cisa sudah menjadi sahabat yang sangat baik. Ardam pun segera menyusul Cisa yang baru saja selesai membayar.“Langsung pulang aja, ya.” ucap Cisa.“Iya, tapi bentar ya.” Sahut Ardam yang kemudian membayar CD yang dibelinya untuk Cisa.Sambil berjalan menuju tempat parkir. Ardam memberikan CD yang tadi ia beli pada Cisa. “Buat kamu.” gumamnya.“Buat saya?” Cisa malah bertanya tidak yakin.“Iya, ini kan yang kamu mau?” sahut Ardam. Entah sengaja atau reflek, Ardam membelai rambut Cisa. Di saat keduanya tersenyum, ada hati yang terbakar. Ya, tidak jauh dari tempat Ardam dan Cisa berdiri, ada Denia. walaupun saat itu ia sedang bersama Dandi, hatinya tetap tidak bisa mengelak Dari rasa itu.☺☺☺ Gak kerasa, malam ini ternyata udah malam minggu lagi aja. Ardam yang masih merasakan sakitnya dikhianati hanya berdiam diri di kamar. Kejadian itu masih menyesakkan hati dan masih terekam jelas di otaknya. Ardam tersentak saat pintu kamarnya diketuk oleh Olan. Karena pintu tidak dikunci tanpa perlu Ardam membukakan pintu Olan langsung masuk.“Gak ke rumah cewek lo?” tanya Ardam pada Olan yang langsung menyambar gitar.“Dia lagi di kampusnya jadi panitia acara apa gue juga gak ngerti.” jawab Olan sambil mencoba memetik senar gitar, “keluar yuk, bete nih.” ajak Olan.“Kemana?” tanya Ardam yang sebenarnya juga sedang bete.“Ya kemana aja, ke café tenda biasa atau kemana aja deh.”“Males gue, lo aja sana. Lagian ngapain di sana.” Sahut Ardam dengan nada benar-benar malas untuk keuar.“Yaelah ni orang! Anak muda kelakuannya kayak aki-aki!!” gerutu Olan, “malam minggu sob, kita cari cewek buat lo, biar muka lo gak kucel lagi!!” lanjutnya.Setelah dipaksa Olan akhirnya Ardam mengikuti ajakan Olan untuk keluar sekedar nongkrong di café tenda.☺☺☺Meski hanya ditemani dua gelas orange jus dan sepiring kentang goring, Ardam dan Olan menikmati itu sambil sesekali bersiul menggoda setiap cewek yang melintas di hadaan mereka.“Neng, neng, mo sama temen abang gak? jomblo nih abis diselingkuhin gak laku-laku.” goda Olan pada dua gadis ABG yang berjalan di hadapannya.“Bangsat lo!!!” ucap Ardam sambil melemparkan kentang ke Olan yang tertawa puas.  Kedua gadis itupun ikut tertawa dengan godaan konyol Olan.Saat sedang tertawa Olan menangkap sosok Dandi yang sedang bersama cewek, dan itu bukan Denia.“Dam, Dam, itu Dandi kan?” ucap Olan sedikit berbisik seraya melirik ke arah Dandi. dengan antusias Ardam mengikuti arah pandangan Olan. Ternyata benar, itu memang Dandi, tangan Ardam mengepal kuat, darahnya mendidih. Ia segera mengambil nafas panjang, menahan emosi.“Emang brengsek tuh anak dari dulu!!” ucapnya.“Eits, santai sob. Tahan emosi lo.” Olan menenangkan Ardam.Tiba-tiba saja Olan mendapatkan ide. Dengan hand phone yang dilengkapi kamera ia mengambil gambar Dandi dan cewek yang entah siapa namanya yang terlihat mesra.“Lan, ngapain sih lo foto-foto dia?!!” tanya Ardam.“Udah lo diem aja.” sahut Olan yang merasa yakin dengan idenya ini.Saat Olan mengambil gambar Dandi dan pacarnya itu, tiba-tiba mereka bangkit dari duduknya dan perlahan mereka meninggalkan café.“Dia cabut Dam, ikutin yuk.” ajak Olan.Masih dengan emosinya Ardam memenuhi ajakan Olan. Ia un ingin tahu apa yang akan Dandi lakukan selanjutnya.“Nih, lo yang bawa motornya.” ucap Olan sambil melempar kunci motor ke arah Ardam yang segera menangkapnya dengan baik. Dengan cepat mereka mengikuti Dandi yang sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang dibuntuti oleh Ardam dan Olan.☺☺☺ Ardam dan Olan terus mengikuti Dandi hingga sampai di sebuah rumah. Olan kembali mengambil gambar mereka.“Gea sayang,” ucap Dandi sambil membelai rambut panjang cewek yang ternyata bernama Gea. “Malam ini aku gak bisa lama, aku langsung pulang yah.” tambahnya.“Kok tumben, emang mo ngapain sih kamunya?” tanya Gea manja.“Mo selingkuh.” Jawab Dandi dengan nada bercanda padahal hatinya serius.“Enak aja!! gak boleh tau!!!”Dandi hanya tertawa kecil, kemudian ia mencium kening Gea dengan penuh cinta dan kasih sayang. “Aku pergi ya.” ucap Dandi.Gea mengangguk, “hati-hati ya.” Ucapnya.Dengan senyumnya Dandi pergi dari hadapan Gea. Sementara itu, Ardam dan Olan yang mengikuti Dandi panic karena Dandi berjalan ke arahnya dan hampir saja ketahuan.Huh…. mereka menghela nafas setelah berhasi meghindari Dandi.“Mo kemana lagi tuh dia?” tanya Ardam tanpa mementingkan jawaban.“Ya udah ikutin lagi aja.” ucap Olan, kali ini ia yang mengendarai motor bebeknya.Ardam dan Olan terus mengikuti laju motor Dandi. Ardam mulai mengenali jalan yang tengah mereka lalui.“Ini kan jalan ke rumah Denia, Lan.” ucapnya. “Ya udah kita ikutin aja dulu.” sahut Olan, ia pun tahu kalau ini adalah jalan manuju rumah Denia.Seperti yang sudah mereka duga, Dandi berhenti di depan rumah Denia. dan tidak lama kemudian Denia muncul dari dalam. Dandi menyambutnya dengan peluk hangat dan ciuman di kening Denia.“Maaf ya sayang, aku telat.” ucap Dandi.“Iya kamu kemana aja sih?” tanya Denia dengan manja.“Abis dari rumah pacar.” Jawab Dandi dengan jujur, sayangnya Denia tidak menyadari kejujuran Dandi.“Oh gitu, ya udah! Aku masuk, kamu balik lagi aja ke rumah pacar kamu!!” ucap Denia lalu memasang wajah cemberut. Dandi tersenyum, tangannya membelai lembut pipi Denia. Membuat Denia merasa hangat di tengah dinginnya angina malam ini.Kehangatan yang dirasakan Denia, terasa juga di hati Ardam. Bahkan terasa membakar hati!!. olan tahu Ardam amat sangat gerah melihat adegan itu, ia menepuk bahu Ardam dan membawanya menjauh dari tempat itu.☺☺☺ Bersambung......
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini : Share/Save/Bookmark

TAG-CERPEN.NET

  gerimis   hamil   Kedua   pada   pensil   cerpen   islami   CERPEN   ROMANTIS   nembak   agus   motivasi   sumber   sumber motivasi   anak-anak   seno   gumira   Poligami   PutuWijaya   Cinta   Atas   PerahuCadik   Dilarang   JatuhCinta   Bidadari   Mengambil   Mata   Saya   Surat   dalam   Hujan   lucu   KKN   LURAH   humaor   obama   becak   tukang   taman   cinta   remaja   abg   CINTA   ibrahim   perempuan   rohyati sofyan   cerpen cinta   cerpen dewasa   sepak bola   SELAMAT TINGGAL DAN SELAMAT DATANG CITA-CITA   DINDA   kamera   lomo   lomografi   wanita   cinta semarga   nasir   mujahid   GERIMIS LANJUTAN   barzakh   ngobrolkosong   Dunia   tragedi   Pencuri   Motivasi   Aborsi   cerpen romantis   SalahJatuhCinta   Bersama Bintang   Mencuri   tobat   karma   islam   OJEK   TAK ADA   KABUT CINTA   Islami   setan   gerhana   cikal   tangsel   cerpen.mimpi   kerinduan   kesucianku   jatuh cinta   wartawan idealis   guru idealis   SINABUNG   hm...   Maulana Akbar alias Abel   Purple-niz   Lenny Yulia   pembunuhan   orcan   brother   sahabat   Cerpen   komedi   apes   bunda   pengorbanan   It's a great one...   fairy   123456   444   Rey   Menunggu   pelangi   Tito   balap   Tami   mama   ayah   motor   Hugo   rumah sakit   love   blind   tens   hurt   memoriam --> mas ohed stres...   download novel   pemuja rahasia   secreet admirer   kuliah   romantis   puisi   bunga   muslimah   cina   jilbab   airmata   CERITA KEHIDUPAN   (Cerpen ini kupersembahkan untuk seorang teman yang sedang bergulat melawan perihnya kehidupan bersama anak-anaknya   setelah perceraian dengan suaminya). Maju terus!Tetap semangat!   adesuryatii@blogspot.com   http://karimahcentre.blogspot.com/   -   Rahasia   Cerita Hari Ini Penuh Makna   suatu   hari   hidupku   dawn   felicity   gwynedd   east bay   cerpen remaja cerpen cinta cerpen dewasa cintaku di bumi madinah   cerpen abah abah cerpen   cerpen bilik mayat cerpen   cerpen islami   cerpen remaja   cermen gaul   cerita remaja dan cinta   cerita kehidupan   Renungan   mengharukan   semangat   ungu   dreaming vs action   stop dreaming start action   firmansyaharia1982   catatan   larung   misteri...   Ungu   POEM   ibu   lily   alya   Arina Jangan Pergi !   www.facebook/saifulbahri@rome.com   qqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqqq   Dhea Tamara Short Story   hati   hari-hari   bahagia   hikmah   aku   cinta dan kepedihan   mohpn dikomentari.. Thx..   cinta terpendam   Suka Sayang Cinta   kasih   Diculik? Mau dong!   Langit   Gelap dan Cahaya (4)   Gelap dan Cahaya (1)   Gelap dan Cahaya (2)   Gelap dan Cahaya (3)   Gelap dan Cahaya (5)   Gelap dan Cahaya (6)   Gelap dan Cahaya (7)   Gelap dan Cahaya (8)   Gelap dan Cahaya (9) End   Gelap dan Cahaya (10) Extra   Labirin Hidup   Jasmine   langit   Kabut dan Kamu   www.mediasastra.com   www.mediasastraindonesia.net   lover   you   pelajar   dukun   comment please!   cerpen anak   cerpen islam   cerita misteri   cerita detektif   cerpen lucu   cerpen humor   cerpen anak muslim   mayat   cerpen humor   love junkies   saatnya hatiku pulang   tertinggal   hutan   petualangan   Aku Langit Asu Johanes Koen Prosa   Romantis.   Cerpen Cinta   Cerpen Motivasi   cerpen sains   cerpen horor   cerpen sadending   cergam   Janji   Malu Tapi Mau   Radioppidunia   Remaja   Giselle   1 hati 3 cinta part 1   1 hati 3 cinta part 2   semua awal asti ada akhirnya. sebelum semua berakhir jangan pernah menyianyiakan setiap kesempatan yang kita miliki.   Story   kelas   Malaikat Putih   sakit jiwa   patah hati   Love the hard way   ceepen   cerpenafil.blogspot.com   alter ego kepribadian ganda polisi psycho pembunuh   Teman-teman baca cerpen Misfah   Romansa di Tebing Pelangi   baik   Luka   cerpenku   kesalahan bertingkat   permainan palsu   Baca cerpen terbaruku : Bandara Cinta Noella by Misfah Khairina   love you...   jurnal   jati diri   cinta sejati   gadis bisu   Caleg Gagal   misteri jerambah beringen lubay   thriller   samantha   Ali Reza   sayembara   Baca cerpen Misfah yg baru ya : School of Horror   Remaja.   cerita romantis   ali reza   hujan   aku penyegel fantasi genocode   Cerpen Islami   Perenungan   Qada dan Qadar   online   cerita yang cukup menginspirasi   cerita   cewek manis   gw ga mawu jadi jomblo teru   tsunami   banda aceh   yogyakarta   Cerpen Ali   Rofi miftahul amin   bernafas untuk Liana   pesta   perkawinan   Venia   cerita anak   Wandi   giande   Cinta Pertama   Tak cukup hanya cinta   Melepasmu   Gadis kecil dalam bus   cerpen ku   Derita Cinta   Mamaku - idiot - down syndrome   malta ikanova   fino   kisah penyendiri   cinta penyendiri   keputusan hati   PENYESALAN   Cerpenku   Masa remajaku hilang   alex   lagu   musik   percy   guru   cinta remaja   cinta romantis   eiji   kirei   dongeng   ??   Salah paham   Pernikahanku   Hampa   cerita cinta   Dia dan musik (last)   dia dan musik (8)   dia dan musik (7)   dia dan musik (6)   dia dan musik (5)   dia dan musik (4)   dia dan musik (1   2   3)   cerita remaja   diet   Pesan untuk untuk cintaku   Bahagia Arbi   Tak Ada Cinta di Pantai cermin   Bidadari Negeri Bunian   korupsi   bla bla bla   HEYREN   sebuah harapan   jiwa soul   Shandy   anak   cerpennet   surat   1000   free   gratis   soFY   Merry   cerita menyedihkan dan mengasikkan   1   kuhapus airmataku dengan kartu undangan ditanganku.hatiku bertanya akankah kurasakan lagi ini setelah aku menikah?   SMP   ulang tahun   perpustakaan   kutu buku   dikucilkan   Suara Hati   Kenyataan Pahit Yang Harus DiHadapi   exited   Siswa Baru Itu...   Kebahagiaan Yang Sirna   di Taman Sorga   igau desember   cerpen desember   6   DASAR HEP- (OVI)   HELP ME (OVI)   PARADISE (OVI)   KEMATIAN   amry   sahabat pelit   cerpen cinta chicha   hilang ingatan   just title   Lanjutan part 1 ..   Part 1 ..   sahabat pelit (part 2)   Tawuran   menunggu   sastra   ekonomi   januari   Aku hidup untuk kedua kalinya   Cinta Perlu Dikatakan   cinta takan pergi   pertemanan   Light novel   moe   sci-fi   drama   detektif   Solitude   bus kota   cerpen kehidupan   hantu   inspirasi   jurang   karyawan   kebakaran   kecelakaan   keluarga kecil   PHK   sopir   cerpen bersambung   cinta jarak jauh   kisah asmara   konflik   perpisahan   Arthur Samuel   odi shalahuddin   Terry   odi Shalahuddin   Odi Shalahuddin   gw   Karma   sekar ayu   Film   dokumenter   film dokumenter smpn 10 jakarta   vampire   the maine   lucia   rion   Laki-Laki Jatuh Cinta   story   perang   mimpi   pancoran   When you love someone   family   father   Cerita bersambung   EeEmMhHhh.....   ....................?????????   lima november   cerita cinta remaja   langkah   begitu menyakitkan   cerpen motivasi   cerita serem banget + lucu   Dhea Tamara's Short Story   POLAROID   gila   shevanna   andi   naya   Senyum Terakhir Kak Didot   Pertanyaan di Benak Lyra   hantu dalam sumur   yanah   Semangat   Sosial   MIRZA   foto seksi   Sahabat Selamanya   princes   Rasa itu   tiba-tiba saja hadir menghampiri hatiku   “aduuuuuuuuuuuuuh   ayah kaki oit   kaki oit terjepit” ayah yang mendengar suara itu langung melihat kebelakang ternyata Oit anakku   “kamu punya saudara yang namanya Yuli” “punya teeh kenapa?” “kamu disuruh baca yasin buat kakakmu Yuli   sms dari keluargamu” aku terdiam   didalam benakku ada apa gerangan   ULTAH DI RUMAH HANTU

Tentang Penulis Cerpen

Kasih comment ya...

LIHAT CERPEN Almas YANG LAIN
Rating: Not yet rated

Comments

No comments posted.

Add Comment


Enter the code shown

Visual CAPTCHA


Untuk memperindah dan mempercantik blog/web kamu maka silahkan pasang kode di bawah, untuk menampilkan gambar animasi keci ini dan mempermudah oranglain untuk memasukkan cerpen mu yang ditulis di blog/webmu ke Cerpen.net
Masukkan cerpen ini ke Cerpen.net
Copy This code below, Paste in to your web/blog


CERPEN TERPOPULER

1: persahabatan
dibaca 161917 kali
2: SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU
dibaca 51672 kali
3: Menunggu Pelangi
dibaca 49049 kali
4: Dilarang Jatuh Cinta
dibaca 48515 kali
5: Untuk Sahabat
dibaca 44290 kali
6: GERIMIS
dibaca 38415 kali
7: OBAMA dan TUKANG BECAK
dibaca 35141 kali
8: Surat dalam Hujan
dibaca 27715 kali
9: impian
dibaca 27694 kali
10: Cerpen Penjual Pensil
dibaca 23803 kali

KOMENTAR CERPEN TERBARU

cerpen :persahabatan
Tak habis pikir,kenapa ada orang yang pede nge-share cerpen model beginian. Sudah jelek,bangga dianggap populer pula. Kasihan kamu Nak..!
Comment By: Guest

cerpen :WARAS (sms cerpen mode)...
keren boss....
Comment By: Guest

cerpen :saat cinta merah kuning hijau

Comment By: Guest

cerpen :WAKTU
iya bener... ni cewe/cowo?? om/tante... cerpennya bagus banget :) suatu pelajaran buat aku.. makasih yaa :)
Comment By: Guest

cerpen :SETIA
ceritanya keren.... sedih... oke banget :)
Comment By: Guest

cerpen :persahabatan
seru baca komen2nya,,heheheh :p
Comment By: Guest

cerpen :ULTAH DI RUMAH HANTU
crpen na lumayn nie bwt blu kuduk mrinding. hehehe
Comment By: Guest

cerpen :KECANDUAN DUNIA MAYA!!
good
Comment By: Guest

cerpen :persahabatan
.hehh . .gag usah ngaku ngakuin cerpenny orang . .ni cerpen orisinil puny ku . .kmu yg kambing,
Comment By: Joy

cerpen :Diva dan Daffa
fiksi c fiksi tp buat crtana pke otak jg donk.. malu2in islam aja..g ad yg blh nkah klo sdara kandung..sm sepu2 yg msh tblg wali aj g blh..ap lg kandu ...
Comment By: Guest

cerpen :miss dance part 3
klo jelek comment klo bgs comment yyyaaaa
Comment By: shavira

cerpen :persahabatan
keren banget...
Comment By: Guest

SPONSOR

INFO LOWONGAN KERJA

BERLANGGANAN CERPEN TERBARU ? GRATIS

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CERPEN INFO

Cara nulis cerpen di cerpen.net : registrasi dulu, trus masuk ke menu Tulis Cerpen (kalo gak registrasi gak bisa akses menu ini ), setelah nulis cerpen silahkan di publish.. dan bimsalabim.. lihat hasilnya.. silahkan bereksplorasi pada menu cerpen.net lainnyaa.... misalnya : profileku dsb...:)




LINK-CERPEN.NET

Populerkan Cerpenmu, COPY dan PASTE kode HTML di bawah ini di BLOG kamu, lihat hasilnya...
lihat cerpenku di cerpen.net

PENGUNJUNG CERPEN.NET

  • 25 users Cerpen.Net online.